Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Saturday, July 15, 2017

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

Friday, July 14, 2017

134. AKMALTU

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunkuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMALTU

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunkuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.