KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.”
Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
“Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
Organisasi Profesi Guru
Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.
Tema Gambar Slide 2
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tema Gambar Slide 3
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Sunday, July 16, 2017
137. ASLI
137. ASLI
KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.”
Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
“Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
136. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
136. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
136. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
146. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
136. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
146. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
146. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
136. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
136. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
136. TAKDIR
MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit. Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.”
Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.”
Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
Saturday, July 15, 2017
135. HUKUM
HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah. Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.
Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.
Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.


