Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, July 16, 2017

136. TAKDIR

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
       Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
     Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
      Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
      Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
        Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
     Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
     Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
        Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
      Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit.  Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.” 
      Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.” 
      Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
      Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
      Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

136. TAKDIR

MEMAHAMI TAKDIR ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud takdir Allah? Kami merasa kesulitan memahami pengertian takdir Allah, mohon penjelasan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan masalah takdir.
       Kata “taqdir” berasal dari kata “qadar”, yang artinya “ukuran, kadar, atau batas”. Matahari beredar di tempat peredarannya, itulah takdir, batas, atau ukuran.
     Al-Quran surah Yasin. Surah ke-36 ayat 38-39. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian takdir (ketetapan) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami takdirkan (tetapkan) bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua.”
      Al-Quran surah Al-Furqan. Surah ke-25 ayat 1-2. “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan) ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”
      Segala sesuatu di alam ini, mulai dari yang kecil hingga yang besar, semuanya berdasarkan takdir (ketetapan) Allah. Al-Quran surah At-Tallaq. Surah ke-63 ayat 3. “Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
        Al-Quran surah Al-A’la. Surah ke-87 ayat 1-5. “Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.”
     Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, semua ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, itulah takdir atau “sunnatulah”. Para ilmuwan menyebutnya “hukum alam”, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.
     Manusia mempunyai takdir sesuai dengan ketetapan Allah. Manusia tak dapat terbang seperti burung. Manusia hidup berada dalam lingkungan takdir Allah, apa saja yang dilakukan semuanya terikat dalam takdir atau hukum Allah.
        Takdir atau hukum Allah terhadap manusia merupakan pilihan. Allah menakdirkan manusia bisa memilih, bukan seperti matahari dan bulan yang tak dapat memlilih. Manusia bisa memilih takdir atau ukuran yang diambil.
      Umar bin Khattab membatalkan kunjungan ke suatu daerah, karena mengetahui wilayah tersebut terkena wabah penyakit.  Para sahabat Nabi bertanya,” Apakah kamu menghindar dari takdir Allah?” Umar bin Khattab menjawab,”Saya menghindar dari takdir satu ke takdir lainnya.” 
      Kadang kala manusia salah menilai takdir. Ketika mendapatkan suatu bencana atau musibah, dia berkata,”Semua bencana ini terjadi karena takdir Allah”. Tetapi, ketika mendapatkan kesuksesan atau kenikmatan, dia berkata,”Semua keberhasilan ini hasil kerja cerdas saya sendiri.” 
      Hal ini bertentangan dengan firman Allah surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 79. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukup Allah yang menjadi saksi.”
      Allah Maha Mengetahui segalanya. Manusia diberi kemampuan untuk memilih dan menentukan “nasibnya sendiri”. Ilmu Allah sungguh amat luas. Allah Mengetahui semua masa lalu dan masa akan datang.
      Dengan keluasan ilmu Allah, maka Allah mengetahui semua yang akan dipilih manusia untuk masa depannya sendiri. Apakah manusia memilih jalan yang mengantarkan ke surga atau terjerumus ke dalam neraka? Semuanya merupakan pilihan bebas manusia sendiri.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

Saturday, July 15, 2017

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

135. HUKUM

HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah persamaan dan perbedaan Hukum Agama dengan Hukum Alam? Apakah hukuman dan ganjaran bagi orang yang melaksanakan Hukum Agama dan Hukum Alam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Takwa (menurut KBBI V) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Takwa juga berarti keinsyafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
      Kata “takwa” bermakna “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks agama, “pemeliharaan” berkenaan dengan “diri dan keluarga”, sedangkan “penghindaran” berkaitan dengan “siksa Allah” di dunia dan akhirat kelak. Para ulama sering mendefinisikan “takwa” dengan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
     Dalam Al-Quran ditemukan aneka ragam makhluk dan masalah yang diperintah Allah.  Terdapat perintah untuk manusia, binatang, dan alam raya. Terdapat perintah yang berkaitan dengan syariat agama, hukum alam, dan kemasyarakatan.
     Semua makhluk yang melaksanakan perintah Allah, pasti akan memperoleh pahala atau ganjaran. Sebaliknya, siapa pun yang melanggar larangan Allah pasti akan mendapatkan siksaan.
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan dengan syariat agama, seperti salat, puasa, dan zakat ditunda sampai hari kiamat kelak. Apabila terdapat ganjaran nikmat atau hukuman siksaan yang dirasakan di dunia, itu hanya sekadar panjar, persekot, atau contoh sekelumit saja.  
     Balasan kebaikan dan hukuman siksaan terhadap hukum alam atau “sunnatullah” akan langsung diterima pelaku di dunia ini. Misalnya, siapa pun yang rajin belajar dan bekerja akan sukses dan kaya di dunia.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 117. “Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia ini, seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.”
      Allah tidak menganiaya makhluk-Nya , tetapi makhluk itu sendiri yang menganiaya diri mereka sendiri. Contohnya, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan kondisi manusia merupakan siksaan Allah, karena mereka tak bisa melaksanakan hukum alam dengan baik.
      Mengapa beberapa orang yang “tak peduli agama” bisa kaya raya, sedangkan beberapa orang Islam yang patuh dan taat beragama tetap miskin? Jawabannya, “Karena mereka hanya melaksanakan setengah perintah Allah”.
      Beberapa orang Islam hanya melaksanakan perintah Allah dalam urusan hukum syariat agama saja, tetapi tidak melaksanakan hukum alam dan kemasyarakatan dengan baik. Sehingga, mereka gagal dalam urusan dunia.    
      Balasan pahala dan hukuman siksaan yang berkaitan tentang perintah dan larangan dalam syariat agama akan diterima di akhirat, sedangkan balasan ganjaran dalam perintah hukum alam dan kemasyarakatan akan langsung diterima di dunia.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

134. AKMAL

AGAMA DISEMPURNAKAN,
NIKMAT DICUKUPKAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa ada istilah “agama disempurnakan” dan “nikmat dicukupkan”? Profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      AL-Quran surah Al-Maidah. Surah ke-5 ayat 3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      “Asbabun Nuzul” Surah Al-Maidah ayat 3. Penyebab turunnya ayat 3. Hibban bin Abbas menjelaskan,”Kami, para sahabat sedang berkumpul dengan Nabi Muhammad. Saya sedang memasak daging bangkai. Tak lama kemudian Allah menurunkan  ayat ini, yang mengharamkan bangkai.  Setelah itu, saya menumpahkan periuk berisi daging bangkai itu.”
     Ibnu Abbas menuturkan, “Pada hari Jumat, tahun 10  Hijriah. Setelah Asar, Nabi Muhammad melakukan Haji Wada atau Haji Perpisahan. Nabi memberikan nasihat kepada para jamaah saat wukuf di Arafah.
      Di sela-sela Nabi berkhotbah, malaikat Jibril datang menyampaikan ayat ini. Yang artinya, ”Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,…Aku meridai Islam sebagai agamamu.”
     Menurut Tim Penerjemahan Kementerian Agama, kata “Akmaltu” diterjemahkan “Aku sempurnakan”, dan “Atmamtu” diterjemahkan ”Aku cukupkan”. 
      Kata “sempurna” (menurut KBBI V) bermakna “lengkap, komplet, utuh dan lengkap segalanya, tak bercacat dan bercela”. Sedangkan kata “cukup” bermakna “tidak kurang, sudah memadai, tak perlu ditambah lagi, dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya”.
      Al-Quran menggunakan keduanya untuk makna yang sama, tetapi tidak serupa. “Akmaltu” diartikan “menghimpun banyak hal yang semuanya sempurna, dalam satu wadah yang utuh”. Sedangkan “Atmamtu” diartikan “menghimpun banyak hal yang belum sempurna, sehingga menjadi sempurna”.
      Agama disempurnakan, nikmat dicukupkan. Agama disempurnakan berarti semua petunjuk agama yang beraneka ragam itu masing-masing sudah sempurna. Petunjuk tentang salat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampakan Al-Quran semuanya sudah sempurna. Dihimpun dalam satu wadah yang bernama “din” atau agama Islam.
     Nikmat dicukupkan berarti banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Tetapi, semua nikmat tersebut masih kurang. Meskipun, semua nikmat tersebut digabungkan masih belum sempurna. Akan menjadi sempurna apabila semua nikmat tersebut digabungkan dengan petunjuk Allah.
      Apabila kita memperoleh nikmat berupa harta kekayaan tanpa petunjuk agama, berapa pun besarnya harta kekayaan kita, itu masih belum sempurna. Begitupun, nikmat yang lainnya, semuanya masih kurang apabila tanpa petunjuk agama.
     Kata “din” yang berarti “agama” dan “dain” bermakna “utang” berasal dari akar kata yang sama dan mempunyai kaitan makna yang erat. Orang yang beragama berarti berusaha mensyukuri nikmat Allah. Berusaha membayar “utang” dan “balas budi”.
     Nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sangat banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya. Kita datang menghadap Allah sambil berkata,”Ya Allah, saya tak mampu membayar utang. Oleh karena itu, saya datang menyerahkan wajahku kepada Engkau.” Inilah Islam yang berarti penyerahan diri kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.