Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, July 18, 2017

138. BENAR

AL-QURAN TERBUKTI BENAR
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya, “Apakah buktinya Al-Quran benar-benar berasal dari Allah? Coba tunjukkan bukti Al-Quran memang benar sebuah kitab suci yang berasal dari Allah? Professor Quraish Shihab menjelaskan bukti kebenaran Al-Quran.
       Al-Quran mempunyai banyak fungsi. Salah satunya menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad. Bukti kebenaran disampaikan dalam tantangan yang bertahap.
      Pertama, Al-Quran menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan. Al-Quran surah Ath-Thur, surah ke-52 ayat 32-34.
      “Apakah mereka diperintah pikiran untuk mengucapkan tuduhan atau mereka kaum yang melampaui batas? Atau mereka mengatakan,”Muhammad membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran, jika mereka orang-orang yang benar.”
      Kedua, Al-Quran menantang menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran. Al-Quran surah Hud, surah ke-11 ayat 13.
      “Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat Al-Quran. Katakan,”Kalau demikian, maka datangkan sepuluh surat yang dibuat untuk menyamainya, dan panggil orang yang kamu sanggup, selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar”.   
      Ketiga, menantang menyusun satu surah saja semacam Al-Quran. Al-Quran surah , surah ke-10 ayat 38.
      “Atau patutkah mereka mengatakan, “Muhammad membuatnya.” Katakan, “Kalau benar yang kamu katakan itu, maka coba datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggil siapa saja yang dapat kamu panggil untuk membuatnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
      Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu yang mirip dengan satu surah Al-Quran. Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 23.
     “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
       Al-Quran surah Al-Ira’, surah ke-17 ayat 88. “Katakan,”Sesungguhnya apabila manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran, niscaya mereka tidak dapat membuat yang serupa, meskipun mereka saling membantu”.
       Para ahli berkomentar ketika terdapat tantangan yang “angkuh dan sombong” seperti di atas, hal ini hanya berasal dari  orang yang memiliki sifat “orang gila “ atau “sangat  yakin”.
      Nabi Muhammad sangat yakin dengan wahyu Allah, karena “Wahyu merupakan  informasi yang amat diyakini bersumber dari Allah”.
     Walaupun Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, tetapi fungsi utama Al-Quran sebagai “petunjuk seluruh umat manusia”. Yaitu sebagai  petunjuk agama atau syariat. Kata “syariat” berarti “jalan menuju sumber air”.
      Untuk meyakinkan manusia, para Nabi dan Rasul diberi bukti oleh Allah berupa mukjizat.  Para Nabi dan Rasul terdahulu memiliki mukjizat yang terbatas pada daerah dan waktu tertentu.
      Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia, di mana saja hingga akhir zaman. Mukjizat Nabi Muhammad harus bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia. Inilah fungsi Al-Quran sebagai mukjizat.
        Beberapa aspek menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang disampaikan benar bersumber dari Allah.
      Pertama, Nabi Muhammad tidak pandai membaca dan menulis. Nabi hidup dalam lingkungan terbelakang. Nabi berada dalam masyarakat yang tidak pandai membaca, menulis dan berhitung.
      Seandainya Nabi Muhammad pandai membaca dan menulis, pasti akan dipakai sebagai alasan meragukan kenabian beliau.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 48. “Dan kamu tidak pernah membaca sebelum Al-Quran sesuatu kitab dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Seandainya kamu pernah membaca dan menulis, akan ragu orang yang mengingkarimu.”
      Kedua, aspek keindahan dan ketelitian redaksi Al-Quran. Orang yang tak paham bahasa Arab, sulit memahami keindahan Al-Quran. Karena keindahan merupakan  “perasaan”, bukan pikiran.
      Beberapa hal untuk membantu menjelaskan keindahan Al-Quran. Seperti diketahui, sering kali Al-Quran “diturunkan” secara spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa.
     Nabi menjawab langsung pertanyaan. Jawaban spontan tak memberikan peluang berpikir dan menyusun dengan redaksi indah dan teliti.
      Tetapi, setelah Al-Quran rampung diturunkan dan dilakukan analisis. Ditemukan hal yang luar biasa dan menakjubkan.
      Dijumpai keseimbangan yang sangat serasi antarkata yang digunakannya. Misalnya, keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.
     Ketiga, Keseimbangan antara jumlah kata dengan antonimnya. Antonim ialah  kata yang berlawanan makna dengan kata lain.
    Kata “al-hayah” berarti “hidup” dan “al-mawt“ berarti “mati”, masing-masing sebanyak 145 kali. Kata “al-naf” bermakna “manfaat” dan “al-madharrah” bermakna “mudarat”, masing-masing sebanyak 50 kali.
      Kata “al-har” artinya “panas” dan “al-bard” artinya “dingin” masing-masing 4 kali. Kata “al-shalihat” bermakna “kebajikan” dan “al-sayyi'at” bermakna “keburukan, masing-masing 167 kali.
      Kata “al-Thumaninah” artinya “kelapangan atau ketenangan” dan “al-dhiq” artinya “kesempitan atau kekesalan” masing-masing 13 kali. Kata “al-rahbah” berarti “cemas atau takut”  dan “al-raghbah” berarti “harap atau ingin” masing-masing 8 kali.
      Kata “al-kufr” artinya “kekufuran” dan “al-iman” artinya “iman” dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali. Kata “Kufr” berarti “kekufuran” dan “iman” berarti “iman” dalam bentuk indifinite masing-masing 8 kali. Kata “al-shayf” bermakna “musim panas” dan “al-syita” bermakna “musim dingin” masing-masing 1 kali.
    Keempat, Keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya dan makna yang dikandungnya. Sinonim ialah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk bahasa lain.
      Kata “al-harts” dan “al-zira'ah” artinya “membajak atau bertani”, masing-masing 14 kali. Kata “al-'ushb” dan “al-dhurur” bermakna “membanggakan diri atau angkuh” masing-masing 27 kali.
     Kat “al-dhallun” dan “al-mawta” artinya “orang sesat atau mati jiwanya”, masing-masing 17 kali. Kata “al-Quran, al-wahyu, dan al-Islam” artinya “Al-Quran, wahyu dan Islam”, masing-masing 70 kali.
      Kat “al-aql” dan “al-nur” bermakna “akal” dan “cahaya”, masing-masing 49 kali. Kata “al-jahr” dan “al-'alaniyah” artinya “nyata” masing-masing 16 kali.
      Kelima, Keseimbangan antara jumlah kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
      Kata “al-infaq” artinya “infak”  dengan “al-ridha” artinya “kerelaan, masing-masing 73 kali.  Kata “al-bukhl” artinya “kekikiran” dengan “al-hasarah” artinya “penyesalan”, masing-masing 12 kali.
      Kat “al-kafirun” berarti “orang-orang kafir”  dengan “al-nar” dan “al-ahraq” artinya “neraka dan  pembakaran”, masing-masing 154 kali. Kata “al-zakah” artinya “zakat atau penyucian” dengan “al-barakat” artinya “kebajikan yang banyak, masing-masing 32 kali. Kata “al-fahisyah” artinya “kekejian” dengan “al-ghadhb” artinya “murka”, masing-masing 26 kali.
     Keenam, Keseimbangan antara jumlah kata dengan kata penyebabnya.
      Kata “al-israf” artinya “pemborosan” dengan “al-sur'ah” bermakna “ketergesa-gesaan”, masing-masing 23 kali. Kata “al-maw'izhah” bermakna “nasihat atau petuah” dengan “al-lisan” bermakan “lidah”, masing-masing 25 kali.
  Kata “al-asra” artinya “tawanan” dengan “al-harb” artinya “perang”, masing-masing 6 kali. Kata “al-salam” artinya “kedamaian” dengan “al-thayyibat” artinya “ kebajikan”, masing-masing 60 kali.
    Ketujuh, keseimbangan khusus. Kata “yawm” artinya “hari” dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun.
      Sedangkan kata “hari” bentuk plural “ayyam” atau “dua” “yawmayni”, jumlah seluruhnya 30, sama dengan jumlah hari dalam sebulan.
      Kata “syahar” yang berarti “bulan” terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.
    Al-Quran menjelaskan langit ada “tujuh”. Kata ini diulangi sebanyak 7 kali, yakni dalam ayat Al-Baqarah (2:29), Al-Isra' (17:44), Al-Mu'minun (23:86), Fushshilat (41:12), Al-Thalaq (65:12), Al-Mulk (67:3), dan Nuh 15.
      Kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, yaitu rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), semua berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita, yakni 518 kali.
      Kedelapan, pemberitaan gaibnya terbukti benar.
     Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 92. “Pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Fir’aun) agar menjadi pelajaran bagi orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda kekuasaan Kami.”
     Sebelumnya, tak ada yang mengetahui, karena terjadi ribuan tahun sebelum Masehi. Pada 1896 Masehi, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah Raja Luxor Mesir, sebuah mumi mayat Fir'aun yang bernama Maniptah yang pernah mengejar Nabi Musa.
     Pada 8 Juli 1908, Elliot Smith membuka pembalut mayat Fir'aun. Dia menemukan satu mayat utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran.
      Kesembilan, isyarat ilmiah Al-Quran sesuai dengan sains modern. Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan sinar rembulan adalah pantulan.
      Al-Quran surah, surah ke-10 ayat 5. “Dia menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya tempat bagi perjalanan bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tak menciptakan demikian, melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Al-Quran surah Al-Baqarah, ke-2 ayat 223.  Yang menjelaskan jenis kelamin bayi ditentukan sperma ayahnya, sedangkan ibunya bagaikan ladang.
      “Istri-istrimu (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, datangi tanah tempat bercocok-tanammu bagaimana saja kamu kehendaki. Kerjakan (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan kamu kelak akan menemui-Nya. Beri kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”
      Masih banyak bukti lainnya yang sesuai dengan sains modern.  Nabi Muhammad mengetahui semuanya berasal dari Allah Yang Maha Mengetahui. Sungguh Al-Quran terbukti benar-benar berasal dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

138. BENAR

AL-QURAN TERBUKTI BENAR
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya, “Apakah buktinya Al-Quran benar-benar berasal dari Allah? Coba tunjukkan bukti Al-Quran memang benar sebuah kitab suci yang berasal dari Allah? Professor Quraish Shihab menjelaskan bukti kebenaran Al-Quran.
       Al-Quran mempunyai banyak fungsi. Salah satunya menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad. Bukti kebenaran disampaikan dalam tantangan yang bertahap.
      Pertama, Al-Quran menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan. Al-Quran surah Ath-Thur, surah ke-52 ayat 32-34.
      “Apakah mereka diperintah pikiran untuk mengucapkan tuduhan atau mereka kaum yang melampaui batas? Atau mereka mengatakan,”Muhammad membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran, jika mereka orang-orang yang benar.”
      Kedua, Al-Quran menantang menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran. Al-Quran surah Hud, surah ke-11 ayat 13.
      “Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat Al-Quran. Katakan,”Kalau demikian, maka datangkan sepuluh surat yang dibuat untuk menyamainya, dan panggil orang yang kamu sanggup, selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar”.   
      Ketiga, menantang menyusun satu surah saja semacam Al-Quran. Al-Quran surah , surah ke-10 ayat 38.
      “Atau patutkah mereka mengatakan, “Muhammad membuatnya.” Katakan, “Kalau benar yang kamu katakan itu, maka coba datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggil siapa saja yang dapat kamu panggil untuk membuatnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
      Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu yang mirip dengan satu surah Al-Quran. Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 23.
     “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
       Al-Quran surah Al-Ira’, surah ke-17 ayat 88. “Katakan,”Sesungguhnya apabila manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran, niscaya mereka tidak dapat membuat yang serupa, meskipun mereka saling membantu”.
       Para ahli berkomentar ketika terdapat tantangan yang “angkuh dan sombong” seperti di atas, hal ini hanya berasal dari  orang yang memiliki sifat “orang gila “ atau “sangat  yakin”.
      Nabi Muhammad sangat yakin dengan wahyu Allah, karena “Wahyu merupakan  informasi yang amat diyakini bersumber dari Allah”.
     Walaupun Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, tetapi fungsi utama Al-Quran sebagai “petunjuk seluruh umat manusia”. Yaitu sebagai  petunjuk agama atau syariat. Kata “syariat” berarti “jalan menuju sumber air”.
      Untuk meyakinkan manusia, para Nabi dan Rasul diberi bukti oleh Allah berupa mukjizat.  Para Nabi dan Rasul terdahulu memiliki mukjizat yang terbatas pada daerah dan waktu tertentu.
      Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia, di mana saja hingga akhir zaman. Mukjizat Nabi Muhammad harus bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia. Inilah fungsi Al-Quran sebagai mukjizat.
        Beberapa aspek menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang disampaikan benar bersumber dari Allah.
      Pertama, Nabi Muhammad tidak pandai membaca dan menulis. Nabi hidup dalam lingkungan terbelakang. Nabi berada dalam masyarakat yang tidak pandai membaca, menulis dan berhitung.
      Seandainya Nabi Muhammad pandai membaca dan menulis, pasti akan dipakai sebagai alasan meragukan kenabian beliau.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 48. “Dan kamu tidak pernah membaca sebelum Al-Quran sesuatu kitab dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Seandainya kamu pernah membaca dan menulis, akan ragu orang yang mengingkarimu.”
      Kedua, aspek keindahan dan ketelitian redaksi Al-Quran. Orang yang tak paham bahasa Arab, sulit memahami keindahan Al-Quran. Karena keindahan merupakan  “perasaan”, bukan pikiran.
      Beberapa hal untuk membantu menjelaskan keindahan Al-Quran. Seperti diketahui, sering kali Al-Quran “diturunkan” secara spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa.
     Nabi menjawab langsung pertanyaan. Jawaban spontan tak memberikan peluang berpikir dan menyusun dengan redaksi indah dan teliti.
      Tetapi, setelah Al-Quran rampung diturunkan dan dilakukan analisis. Ditemukan hal yang luar biasa dan menakjubkan.
      Dijumpai keseimbangan yang sangat serasi antarkata yang digunakannya. Misalnya, keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.
     Ketiga, Keseimbangan antara jumlah kata dengan antonimnya. Antonim ialah  kata yang berlawanan makna dengan kata lain.
    Kata “al-hayah” berarti “hidup” dan “al-mawt“ berarti “mati”, masing-masing sebanyak 145 kali. Kata “al-naf” bermakna “manfaat” dan “al-madharrah” bermakna “mudarat”, masing-masing sebanyak 50 kali.
      Kata “al-har” artinya “panas” dan “al-bard” artinya “dingin” masing-masing 4 kali. Kata “al-shalihat” bermakna “kebajikan” dan “al-sayyi'at” bermakna “keburukan, masing-masing 167 kali.
      Kata “al-Thumaninah” artinya “kelapangan atau ketenangan” dan “al-dhiq” artinya “kesempitan atau kekesalan” masing-masing 13 kali. Kata “al-rahbah” berarti “cemas atau takut”  dan “al-raghbah” berarti “harap atau ingin” masing-masing 8 kali.
      Kata “al-kufr” artinya “kekufuran” dan “al-iman” artinya “iman” dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali. Kata “Kufr” berarti “kekufuran” dan “iman” berarti “iman” dalam bentuk indifinite masing-masing 8 kali. Kata “al-shayf” bermakna “musim panas” dan “al-syita” bermakna “musim dingin” masing-masing 1 kali.
    Keempat, Keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya dan makna yang dikandungnya. Sinonim ialah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk bahasa lain.
      Kata “al-harts” dan “al-zira'ah” artinya “membajak atau bertani”, masing-masing 14 kali. Kata “al-'ushb” dan “al-dhurur” bermakna “membanggakan diri atau angkuh” masing-masing 27 kali.
     Kat “al-dhallun” dan “al-mawta” artinya “orang sesat atau mati jiwanya”, masing-masing 17 kali. Kata “al-Quran, al-wahyu, dan al-Islam” artinya “Al-Quran, wahyu dan Islam”, masing-masing 70 kali.
      Kat “al-aql” dan “al-nur” bermakna “akal” dan “cahaya”, masing-masing 49 kali. Kata “al-jahr” dan “al-'alaniyah” artinya “nyata” masing-masing 16 kali.
      Kelima, Keseimbangan antara jumlah kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
      Kata “al-infaq” artinya “infak”  dengan “al-ridha” artinya “kerelaan, masing-masing 73 kali.  Kata “al-bukhl” artinya “kekikiran” dengan “al-hasarah” artinya “penyesalan”, masing-masing 12 kali.
      Kat “al-kafirun” berarti “orang-orang kafir”  dengan “al-nar” dan “al-ahraq” artinya “neraka dan  pembakaran”, masing-masing 154 kali. Kata “al-zakah” artinya “zakat atau penyucian” dengan “al-barakat” artinya “kebajikan yang banyak, masing-masing 32 kali. Kata “al-fahisyah” artinya “kekejian” dengan “al-ghadhb” artinya “murka”, masing-masing 26 kali.
     Keenam, Keseimbangan antara jumlah kata dengan kata penyebabnya.
      Kata “al-israf” artinya “pemborosan” dengan “al-sur'ah” bermakna “ketergesa-gesaan”, masing-masing 23 kali. Kata “al-maw'izhah” bermakna “nasihat atau petuah” dengan “al-lisan” bermakan “lidah”, masing-masing 25 kali.
  Kata “al-asra” artinya “tawanan” dengan “al-harb” artinya “perang”, masing-masing 6 kali. Kata “al-salam” artinya “kedamaian” dengan “al-thayyibat” artinya “ kebajikan”, masing-masing 60 kali.
    Ketujuh, keseimbangan khusus. Kata “yawm” artinya “hari” dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun.
      Sedangkan kata “hari” bentuk plural “ayyam” atau “dua” “yawmayni”, jumlah seluruhnya 30, sama dengan jumlah hari dalam sebulan.
      Kata “syahar” yang berarti “bulan” terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.
    Al-Quran menjelaskan langit ada “tujuh”. Kata ini diulangi sebanyak 7 kali, yakni dalam ayat Al-Baqarah (2:29), Al-Isra' (17:44), Al-Mu'minun (23:86), Fushshilat (41:12), Al-Thalaq (65:12), Al-Mulk (67:3), dan Nuh 15.
      Kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, yaitu rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), semua berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita, yakni 518 kali.
      Kedelapan, pemberitaan gaibnya terbukti benar.
     Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 92. “Pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Fir’aun) agar menjadi pelajaran bagi orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda kekuasaan Kami.”
     Sebelumnya, tak ada yang mengetahui, karena terjadi ribuan tahun sebelum Masehi. Pada 1896 Masehi, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah Raja Luxor Mesir, sebuah mumi mayat Fir'aun yang bernama Maniptah yang pernah mengejar Nabi Musa.
     Pada 8 Juli 1908, Elliot Smith membuka pembalut mayat Fir'aun. Dia menemukan satu mayat utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran.
      Kesembilan, isyarat ilmiah Al-Quran sesuai dengan sains modern. Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan sinar rembulan adalah pantulan.
      Al-Quran surah, surah ke-10 ayat 5. “Dia menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya tempat bagi perjalanan bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tak menciptakan demikian, melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Al-Quran surah Al-Baqarah, ke-2 ayat 223.  Yang menjelaskan jenis kelamin bayi ditentukan sperma ayahnya, sedangkan ibunya bagaikan ladang.
      “Istri-istrimu (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, datangi tanah tempat bercocok-tanammu bagaimana saja kamu kehendaki. Kerjakan (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan kamu kelak akan menemui-Nya. Beri kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”
      Masih banyak bukti lainnya yang sesuai dengan sains modern.  Nabi Muhammad mengetahui semuanya berasal dari Allah Yang Maha Mengetahui. Sungguh Al-Quran terbukti benar-benar berasal dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

Sunday, July 16, 2017

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. ASLI

KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     
      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar asli wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar autentik berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti keaslian Al-Quran.
        Al-Quran mengenalkan diri dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya Al-Quran merupakan kitab yang keasliannya dijamin Allah dan kitab yang selalu dijaga.
      Al-Quran surah Al-Hijr. Surah ke-15 ayat 9. “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
      Setiap umat Islam amat yakin Al-Quran yang dibaca dan didengarnya saat ini, tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
      Tetapi, bisakah keyakinan itu didukung bukti yang lain? Dapatkah bukti tersebut meyakinkan manusia yang tidak percaya Al-Quran? Jawabnya,” Ya benar, Al-Quran dapat membuktikan keaslian dirinya.”
      Para ulama berkata,”Para orientalis dari zaman ke zaman selalu berusaha mencari kelemahan Al-Quran, tetapi mereka tidak mendapatkan celah untuk meragukan keautentikannya.” Hal ini, disebabkan data sejarah yang membuktikannya.
      Pertama, Bukti dari Al-Quran Sendiri. Para ulama menyatakan sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Al-Quran dibaca dan dihafalkan umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
     Rasyad Khalifah, juga mengemukakan dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti sekaligus jaminan akan keautentikannya.
      Huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada awal beberapa surah Al-Quran merupakan jaminan keutuhan dan keaslian Al-Quran. Tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun. Semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf pada “Bismillahirrahmanirrahim.” 
     Dalam “Basmalah” terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab, yaitu: bak, sin, mim, alif,  lam, lam, hak , alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, mim.
     Sistem Desimal merupakan sistem bilangan yang dipakai hampir di seluruh dunia sekarang ini. Sistem Desimal menggunakan 10 angka, yaitu: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Selebihnya adalah perpaduan angka tersebut.
      Angka 19 istimewa, karena 1 terkecil dan 9 terbesar. Juga, 19 merupakan bilangan Prima. Yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Huruf “Qaf” yang merupakan awal dari surah Qaf atau ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 x 19.
      Huruf “Kaf, hak, yak, ain, sad”, dalam surah Maryam atau surah ke-19, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 x 19.
      Huruf “Nun” yang memulai surah Al-Qalam atau surah ke-68, ditemukan sebanyak 133 atau 7 x 19.
      Huruf “Yak” dan “Sin” pada surah Yasin atau surah ke-36, masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 x 19.
     Huruf “Tha’” dan “Ha’” pada surah Taha atau surah ke-20, masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 18 x 19.
     Huruf “Ha’” dan “Mim” terdapat huruf “ha’” dan “mim” sejumlah 2.166, merupakan perkalian dari 114 x 19.
      Jumlah surah dalam Al-Quran sebanyak 114 surah atau 6 x 19.
       Angka 19 di atas, ditemukan dalam surah Al-Muddatstsir atau surah ke-74 ayat 30, yang turun berisi ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
      “Kemudian dia berkata, “Al-Quran hanya sihir yang dipelajari dari orang terdahulu, hanya perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apa neraka Saqar itu? Saqar tak meninggalkan dan tak membiarkan. Neraka Saqar pembakar kulit manusia. Di atasnya terdapat 19 malaikat penjaga.”
      Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Quran tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi, hafalan mereka luar biasa.
     Masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran amat sederhana dan bersahaja. Sehingga mereka memiliki waktu luang yang cukup, yang menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
     Masyarakat Arab sangat gandrung kesusastraan. Mereka melakukan perlombaan dalam bidang satra pada waktu tertentu.
    Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan. Banyak tokoh musyrik secara sembunyi mendengarkan ayat Al-Quran yang dibaca oleh umat Islam.
       Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa yang mereka alami, dan menjawab pertanyaan mereka.
     Ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan makna dan proses penghafalannya.
    Dalam Al-Quran dan hadis Nabi, ditemukan petunjuk yang mendorong para sahabat agar selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita, apalagi terhadap firman Allah dan sabda Nabi.
     Semua faktor di atas menjadi penunjang terjaga dan mendorong dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menjelaskan terdapat ratusan sahabat Nabi yang menghafalkan Al-Quran.
     Dalam Perang Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah Nabi wafat. Telah gugur sekitar 70 orang penghafal Al-Quran.
      Walaupun Nabi dan para sahabat menghafal ayat Al-Quran, untuk menjamin terpeliharanya wahyu Allah, Nabi tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga disertai dengan tulisan.
     Sejarah menginformasikan setiap ada ayat yang turun, Nabi memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterima, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
      Ayat Al-Quran mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit dan tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat Al-Quran secara pribadi,
     Kepingan tulisan naskah Al-Quran dihimpun dalam sebuah “buku” pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
    Semua hal tersebut membuktikan keaslian Al-Quran. Kitab suci Al-Quran yang dibaca dan didengarkan saat ini adalah asli dan autentik. Tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca Nabi Muhammad dan para sahabat pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.