MANFAAT AYAT ILMIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Apakah manfaatnya ayat ilmiah yang terdapat dalam Al-Quran? Mohon dijelaskan hikmah ayat ilmiah yang terdapat dalam A-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan manfaat dan hikmah ayat ilmiah dalam Al-Quran.
Manfaat (dalam KBBI V) merupakan guna atau faedah atau sesuatu yang mengutungkan. Hikmah adalah arti atau makna yang dalam. Hikmah merupakan manfaat atau makna yang terkandung di balik suatu peristiwa.
Ilmiah ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
Terdapat kebenaran ilmiah yang dipaparkan oleh Al-Quran, tetapi tujuan pemaparan ayat-ayat tersebut untuk menunjukkan kebesaran Allah dan mendorong manusia untuk mengadakan observasi dan penelitian agar lebih menguatkan iman dan keyainan kepada Allah.
Pasa sahabat bertanya kepada Nabi,”Mengapa bulan kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi bulan purnama?” Nabi menjawabnya dengan membacakan Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 189.
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakan,”Bulan sabit adalah tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. Bukanlah kebajikan memasuki rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke dalam rumah lewat pintunya. Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
Jawaban Al-Quran ini bukan jawaban ilmiah, tetapi jawabannya sesuai dengan tujuan pokoknya.
Para sahabat bertanya tentang roh. Roh adalah nyawa atau sesuatu unsur yang ada dalam jasad yang diciptakan Allah sebagai penyebab adanya hidup atau kehidupan.
Nabi membacakan Al-Quran surah Al-Isra’, surah ke-17 ayat 85. “Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Al-Quran tidak menerangkan hakikat roh, karena tujuan pokok Al-Quran bukan menjelaskan masalah ilmiah, tetapi tujuan Al-Quran memberikan pedoman dan petunjuk manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Tujuan utama Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup manusia yang menjelaskan masalah akidah, syariah dan akhlak, bukan menjelaskan segala macam ilmu pengetahuan.
Jadi, manfaat atau hikmah ayat ilmiah dalam Al-Quran untuk menunjukkan kebesaran Allah dan mendorong manusia melaksanakan pengamatan dan penelitian supaya lebih menguatkan keimanan dan keyakinan kepada Allah.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
Organisasi Profesi Guru
Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.
Tema Gambar Slide 2
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tema Gambar Slide 3
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Sunday, July 23, 2017
144. MANFAAT
Saturday, July 22, 2017
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
143. TAFSIR
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah perkembangan tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah perkembangan tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan perkembangan tafsir Al-Quran.
Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan Al-Quran berarti menerangkan maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Quran supaya gampang dipahami.
Perkembangan tafsir Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Sebagian ulama, apabila ditanya mengenai pengertian satu ayat, mereka diam saja, mereka tidak memberikan jawaban apa pun.
Pada abad berikutnya, sebagian ulama berpendapat setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran asalkan dia “mumpuni”. Para ulama memberikan syarat orang yang boleh menafsirkan ayat Al-Quran yaitu memiliki pengetahuan bahasa yang baik, menguasai ilmu “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”, “isytiqaq”, ilmu ushuluddin, ilmu qiraah, “asbabun nuzul”, “nasikh-mansukh”, dan syarat lainnya.
Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat-ayatnya sesuai dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat. Penafsiran berkembang, bercampur hadis sahih dengan hadis “Israiliyat”, yaitu kisah bersumber Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama atau pikiran yang sehat.
Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat penulisnya, atau menyatukan pendapat tersebut dengan hadis atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
Tafsir Al-Thabari adalah kitab tafsir yang menyimpulkan hadis dan pendapat terdahulu. Kemudian penulisnya, Al-Thabari, “men-tarjih” atau menguatkan salah satu pendapat.
Tafsir Fakhr Al-Razi merupakan kitab yang lebih banyak menggambarkan pendapat Fahr Al-Razi sendiri. Riwayat terdahulu hanya ditampilkan sedikit.
Dari masa ke masa muncul beraneka model tafsir. Terdapat kitab tafsir berdasarkan nalar penulisnya. Ada kitab tafsir berdasarkan banyak riwayat. Beberapa kitab tafsir menyatukan pendapat berdasarkan riwayat dan pendapat penulisnya.
Terdapat kitab tafsir khusus membahas arti kalimat yang sukar, misalnya Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy. Beberapa kitab tafsir menuliskan kisah sejarah, yaitu Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin. Ada kitab tafsir yang memperhatikan “balaghah” atau sastra bahasa, seperti Al-Zamakhsyari.
Terdapat kitab tafsir yang membahas ilmu pengetahuan, logika dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi. Ada kitab tafsir berupa ilmu fiqih yaitu Al-Qurthubiy. Beberapa kitab tafsir berupa “terjemahan” kalimatnya, misalnya Tafsir Al-Jalalain.
Dalam sejarah kehidupan manusia, Cuma kitab Al-Quran yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi oleh para ahli dan dihimpun dalam banyak buku tafsir yang disusun berjilid-jilid.
Penafsiran ilmiah yaitu menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan sains telah lama berlangsung. Kitab tafsir Fakhr Al-Raziy, adalah contoh penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran. Sebagian ulama tidak menyebutnya kitab tafsir. Karena masalah filsafat dan logika disinggung dengan sangat luas.
Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran. Tetapi, penafsiran para ulama terhadap suatu masalah kadang kala berbeda-beda. Sebagian ulama membenarkan “Teori Evolusi Darwin” dengan berdasarkan ayat Al-Quran, sebagian ulama yang lain menolaknya dengan ayat Al-Quran .
Para ulama yang mendukung Teori Evolusi Darwin menggunakan ayat Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14.
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan fase kejadian.”
Fase ini menurut sebagian ulama sesuai ‘Teori Evolusi Darwin” dalam proses kejadian manusia, bukan seperti yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun,surah ke-23 ayat 11-14.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
Dalam menghadapi suatu teori baru, sebaiknya umat Islam tidak langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran. Setiap ditemukan suatu teori baru, dengan cepat kita membuka lembaran Al-Quran untuk membenarkan atau menyalahkannya.
Sebaiknya, kita jangan langsung membenarkan atau menyalahkan suatu teori dengan ayat Al-Quran, yang memang pada dasarnya Al-Quran tidak membahas masalah tersebut secara mendetail dan terperinci.
Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman?”
Ayat ini menerangkan langit dan bumi, dahulu merupakan suatu gumpalan. Dan pada suatu masa yang tidak diterangkan Al-Quran, gumpalan dipecahkan atau dipisah oleh Allah.
Hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meyakininya.
Umat Islam boleh menyatakan ayat tersebut menguatkan suatu teori, atau lebih tepat dikatakan sebagai hipotesis tentang pembentukan matahari dan planet lainnya, apa pun teori tersebut. Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya tentang terjadinya planet tata surya.
Orang boleh berpendapat tata surya berasal bola gas yang berotasi cepat, kemudian pecah dan terpisah menjadi banyak planet kecil akibat panas yang sangat tinggi.
Orang dapat menyatakan terjadinya planet akibat tabrakan antara dua matahari, atau disebabkan karena pecahnya matahari itu sendiri, dan pendapat lainnya.
Setiap orang bebas dan berhak menyatakan suatu teori yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran lalu menganggapnya sebagai akidah Islam.
Juga, orang tidak berhak menyalahkan suatu teori atas nama Al-Quran, kecuali dia bisa menunjukkan suatu dalil Al-Quran yang memberikan keterangan atau bukti yang jelas untuk membatalkannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
Friday, July 21, 2017
142. UMUR
Ada yg kirim tulisan sangat bagus
*BERAPA UMURMU..?*
*SUDAH 50 TAHUN?*
Firman Allah SWT : *"...Bukankah Kami telah memberimu umur sehingga kamu sempat mengingat bagi sesiapa yang mau mengingat?"* _(Fathir : 37)_
*"Allah tidak lagi memberi alasan bagi siapa yang telah dipanjangkan umurnya hingga 50 tahun"* _(HR.Bukhari)_
Al-Khattabi berkata : *"Maknanya, orang yg Allah panjangkan umurnya hingga 50 tahun, tidak diterima lagi keuzuran/alasan. Karena usia 50 tahun merupakan usia yang dekat dgn kematian,* maka inilah kesempatan untuk memperbanyak taubat, beribadah dgn khusyuk, dan *bersiap2 bertemu Allah."*
_(Tafsir al-Qurthubi)_
Fudhail bin Iyadh berkata kepada seseorang yang telah mencapai umur 50 tahun, Maka nasihat Fudhail kepadanya : *"Berarti sudah 50 tahun kamu berjalan menuju Tuhanmu, sekarang hampir sampai... Lakukan yang terbaik pada sisa usia senja-mu, lalu akan diampuni dosa2mu yang lalu. Tapi jika engkau masih berbuat dosa di usia senjamu, kamu pasti dihukum akibat dosa masa lalu dan masa kini sekaligus..!"*
Maka para alim ulama memberi nasihat cara menjalani umur yang sudah mencapai 50 tahun :
*🌿Jangan banyak bergurau dan terjebak dalam hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.*
*🌿Jangan berlebihan berhias, bersolek, dan berpakaian.*
*🌿Jangan berlebihan makan, minum, dan berbelanja barang yg kurang diperlukan utk mendukung amal shalih.*
*🌿Jangan berkawan dengan orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal.*
*🌿Jangan banyak berjalan dan melancong ke sana sini tanpa manfaat yg dapat mendekatkan diri pada kehidupan akhirat.*
*🌿Jangan gelisah, berkeluh kesah, dan kesal dengan kehidupan sehari-hari. Selalu penuhi diri dg rasa sabar dan bersyukur.*
*🌿Perbanyak doa mengharap keridha-an Allah agar Husnul Khatimah dan dijauhkan dari Su'ul Khatimah.*
*🌿Tambahkan ilmu agama, perbanyak mengingat kematian, dan bersiap menghadapinya.*
*🌿Siapkan wasiat dan lakukan pembahagian harta.*
*🌿Kerapkan menjalin silaturahim dan merekatkan hubungan yang renggang sebelumnya.*
*🌿Minta maaf dan berbuat baik terhadap pihak yang pernah dizalimi.*
*🌿Tingkatkan amal soleh terutama amal jariah yang dapat terus memberi pahala dan syafa'at setelah kita mati.*
*🌿Maafkan kesalahan orang kepada kita walau seberat apapun kesalahan itu.*
*🌿Bereskan segala hutang yang ada dan jangan buat hutang baru walaupun untuk menolong orang lain.*
*🌿Berhentilah dari semua maksiat !*
*mata, berhentilah memandang yg tidak halal bagimu*
*tangan, berhentilah dari meraih yg bukan hak mu*
*mulut, berhentilah makan yg tidak baik dan yg tidak halal bagimu, berhentilah dari ghibah, fitnah, dan berhentilah menyakiti hati orang lain*
*telinga, berhentilah mendengar hal2 haram dan tak bermanfaat*
*🌿Berbaik sangka lah kepada Allah atas segala sesuatu yg terjadi dan menimpa*
*🌿penuhi terus hati dan lisan kita dg istighfar & taubat utk diri sendiri, orang tua, dan semua orang beriman, di setiap saat dan setiap waktu.*
Semoga bermanfaat bagi kita semua, walaupun Anda belum 50 tahun.
karena...
*KEMATIAN TIDAK MENGENAL UMUR.*
141. SAINS
KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya. Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
“Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
“Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi. Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
“Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.


