
Organisasi Profesi Guru
Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.
Tema Gambar Slide 2
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tema Gambar Slide 3
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Monday, July 24, 2017
147. FILSAFAT

147. FILSAFAT

147. FILSAFAT

Sunday, July 23, 2017
146. MARAH
Ada 13 permintaan anak yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan:..*
1. Cintailah aku sepenuh hatimu.
2. Jangan marahi aku di depan orang banyak.😡
3. Jangan bandingkan aku dengan Kakak atau adikku atau orang lain.👐
4. Ayah Bunda jangan lupa, aku adalah fotocopy-mu.
5. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil.🙇
6. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah.🏃
7. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku.🙈
8. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.🎁
9. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar dari mulutmu sbgai orang tua adalah doa bagiku?😔
10. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan "JANGAN" tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu.😇
11. Tolong ayah ibu, jangan rusak mentalku dan pemikiranku dengan selalu kau bentak-bentak aku setiap hari.
12. Jangan ikutkan aku dalam masalahmu yang tidak ada kaitannya denganku. Kau marah sama yang lain, aku imbasnya.
13. Aku ingin kau sayangi cintai karena engkaulah yang ada di kehidupanku dan masa depanku.
*"SEMOGA BERMANFAAT BAGI PARA ORANG TUA"*
Kalau perlu bingkai taruh di kamar supaya tiap hari boleh ingat 😉
🦅🦅🦅🦅🦅
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
145. MINDER
MENGAPA TAFSIR ILMIAH AL-QURAN MELUAS?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Mengapa tafsir ilmiah Al-Quran semakin meluas? Faktor apakah yang menyebabkan tafsir ilmiah terhadap Al-Quran semakin banyak? Profesor Quraish Shihab menjelaskan meluasnya tafsir ilmiah terhadap Al-Quran.
Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
Tantangan ini berpengaruh besar terhadap pandangan hidup dan pemikiran sebagian besar umat Islam. Umat Islam melihat kekuatan Barat dan kemajuan sains dan teknologi. Sedangkan, pihak umat Islam merasakan kelemahan dan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan sains.
Keadaan ini menimbulkan perasaan “rendah diri” atau “inferiority complex” pada sebagian besar umat Islam. Sebagian besar umat Islam merasa “minder” dan “rendah diri” menghadapi kemajuan Barat.
Para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi dengan berbagai cara. Sebagian cendekiawan Islam bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap kemajuan tersebut. Sebagian intelek Islam “menyerah kalah” dengan mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat. Termasuk sikap, perilaku, kepribadian, dan adat kebiasaan.
Sebagian cendekiawan mengajak umat Islam menerima dan mempelajari sains dan sistem yang dipergunakan Barat dalam mencapai kemajuan tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama Islam.
Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan “minder”, mereka berusaha membuat “kompensasi” atau “melarikan diri” dengan bermacam cara.
Salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang masa lampau. Kemudian melahirkan “sastra kebanggaan dan kejayaan Islam”. Hal ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam dalam menafsirkan Al-Quran.
Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam berkata,”Al-Quran sejak lama telah menyatakan hal itu. Al-Quran mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya”. Semua itu terjadi karena “kompensasi” perasaan “minder” dan “rendah diri”.
Para penemu sains dan teknologi modern non-Islam “tersenyum sinis” seakan “mengejek” umat Islam. Kadang kala disertai dengan kata-kata “satire”, yang bersifat memandang “bodoh” dan “rendah” umat Islam.
Para ahli Barat berkata,“Kalau demikian, mengapa tuan-tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian dan penyelidikan?”
Mengingat kejayaan umat Islam pada masa silam merupakan “obat bius” yang dapat meredakan rasa sakit sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Hal itu hanya sekadar memberikan jawaban darurat terhadap tantangan Barat.
Mengingat kemajuan umat Islam zaman dahulu kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian umat Islam.
Tetapi, kita harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat menimbulkan sikap kejumudan dan kemandekan berpikir. Hal ini dapat memunculkan sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan perkembangan sains yang bersifat dinamis dan progresif.
Faktor lain yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan satu teori ilmiah, yaitu akibat pertentangan yang hebat antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
Para ilmuwan mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi menghasilkan hal yang bertentangan dengan kepercayaan gereja.
Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori lainnya, yang semua itu dihadapi gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
Banyak ilmuwan yang menjadi korban hasil penemuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lainnya. Hal ini menimbulkan keyakinan sains bertentangan dengan agama.
Pertentangan antara agama dengan sains zaman dahulu berpengaruh kepada cendekiawan Islam. Mereka khawatir penyakit tersebut menular dalam dunia Islam, sehingga mereka berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara sains dengan Al-Quran.
Sejarah menjadi saksi para ahli falak, kedokteran, kimia, ilmu pasti, dan cabang ilmu lainnya mencapai hasil yang mengagumkan pada zaman kejayaan Islam.
Para ilmuwan Islam tersebut menjalankan ajaran Islam dengan baik. Tidak ada pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dengan hasil penemuan mereka.
Para ilmuwan Indonesia sering mengutip Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33. Untuk membuktikan Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar sejak 14 abad lampau.
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Kesimpulannya, meluasnya penafsiran ilmiah atau pembenaran teori lmiah berdasarkan Al-Quran akibat perasaan “rendah diri” umat Islam dan akibat pertentangan antara gereja (agama) dengan ilmuwan yang dikhawatirkan akan terjadi dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dengan sains modern.
Memahami ayat Al-Quran dengan tafsir ilmiah sesuai dengan penemuan sains mutakhir merupakan ijtihad yang baik, selama tidak diyakini sebagai akidah Islam, dan tidak bertentangan dengan prinsip dan ketentuan bahasa.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.


