Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, July 28, 2017

148. SEJARAH

SEJARAH TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
 
      Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah sejarah tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan sejarah tafsir Al-Quran.
       Pada saat Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad dari Allah melalui malaikat Jibril, Nabi Muhammad berfungsi sebagai “mubayyin” yaitu pemberi penjelasan. Nabi menjelaskan kepada para sahabat tentang arti dan kandungan AlQuran, terutama ayat yang tidak dipahami.
      Keadaan ini berlangsung sampai Nabi wafat. Meskipun penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui. Karena riwayatnya tidak sampai kepada kita. Atau karena memang Nabi tidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran.
      Pada zaman Nabi. Para sahabat langsung menanyakan masalah yang tidak jelas kepada beliau. Setelah Nabi wafat, para sahabat  terpaksa melakukan ijtihad. Terutama yang memiliki kemampuan, misalnya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab, dan Ibnu Masud.
     Ijtihad merupakan usaha sungguh-sungguh yang dilakukan para ahli agama untuk mencapai suatu putusan atau simpulan hukum agama Islam mengenai kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam Al-Quran dan Hadis.
       Sebagian sahabat bertanya tentang sejarah nabi atau kisah yang tercantum dalam Al-Quran kepada tokoh Ahli Kitab yang telah memeluk Islam. Misalnya, Abdullah bin Salam, Kaab Al-Ahbar, dan lainnya. Hal ini merupakan benih lahirnya hadis “Israiliyat”.
     Kata “Israiliyat” arti harfiahnya “dari Israil”. Hadis Israiliyat bermakna sejumlah hadis yang berasal dari tradisi Yahudi-Kristen. Hadis Israiliyat umumnya berupa berbagai cerita dan tradisi non-Alkitab Yahudi dan Kristiani yang memberikan informasi atau interpretasi tambahan mengenai kejadian atau tokoh dalam kitab suci Yahudi.
     Para ahli hadis menggolongkan hadis Israiliyat ke dalam tiga kategori. Pertama, Hadis yang dinilai benar, karena wahyu dari Nabi Muhammad menegaskan hadis tersebut. Kedua, Hadis yang dianggap palsu, karena wahyu dari Nabi Muhammad menolak hadis tersebut. Ketiga, Hadis yang tidak dikenali benar atau salahnya.
       Para tokoh tafsir para sahabat mempunyai murid para “tabiin”. Tabiin merupakan penganut ajaran Nabi Muhammad generasi kedua setelah para sahabat. Tabiin adalah generasi sesudah Nabi Muhammad. Sahabat ialah pemeluk Islam yang hidup sezaman dengan Nabi  
      Para tokoh tafsir kalangan tabiin.  Said bin Jubair, dan Mujahid bin Jabr, di Mekah murid Ibnu Abbas. Muhammad bin Kaab, dan Zaid bin Aslam, di Madinah, murid Ubay bin Kaab. Al-Hasan Al-Bashriy, dan Amir Al-Syabi, di Irak murid  Abdullah bin Masud.
      Gabungan tiga sumber, yaitu penafsiran Nabi, para sahabat, dan tabiin, dirangkum menjadi satu disebut “Tafsir bi Al-Ma'tsur”. Zaman ini dikatakan periode pertama sejarah tafsir Al-Quran. Periode pertama berakhir tahun 150 Masehi.
   Mulai tahun 150 Masehi disebut Periode Tafsir Kedua. Pada periode kedua hadis beredar amat pesat. Bermunculan hadis palsu dan lemah di tengah masyarakat. Perubahan sosial semakin cepat, dan muncul beberapa masalah yang belum pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad, para sahabat, dan para tabiin.
      Pada awalnya, usaha penafsiran ayat Al-Quran berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas dan terikat dengan kaidah bahasa serta arti yang dikandung dalam satu kosakata.
     Masyarakat terus berkembang dan bertambah pula porsi akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat AlQuran, bermunculan berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya.
      Keragaman tersebut ditunjang Al-Quran, yang keadaannya seperti dikatakan para ulama “Bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan sinar berbeda. Semakin banyak orang memandang dari sudut berbeda, akan semakin banyak kesan cahaya yang ditampilkan.”
      Para ahli berpendapat Al-Quran memberikan kemungkinan arti yang tidak terbatas. Kesan yang diberikan ayat Al-Quran mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud adalah mutlak. Tetapi, ayat Al-Quran selalu terbuka untuk interpretasi baru. Ayat Al-Quran tidak bersifat tertutup dalam interpretasi tunggal.
     Beberapa corak penafsiran yang dikenal selama ini. Pertama,  Corak Sastra Bahasa, yang timbul akibat banyaknya orang non-Arab yang memeluk Islam, dan akibat kelemahan orang Arab di bidang sastra, sehingga dirasakan perlu menjelaskan  keistimewaan dan kedalaman arti kandungan Al-Quran dalam bidang sastra.
      Kedua, Corak Filsafat dan Teologi, akibat penerjemahan kitab filsafat yang memengaruhi dan masuk Islamnya penganut agama lain. Dengan sadar atau tidak masih meyakini beberapa hal kepercayaan lama mereka. Menimbulkan pendapat berbeda dalam penafsiran mereka.
      Ketiga, Corak Penafsiran Ilmiah, dengan kemajuan sains dan teknologi yang terjadi, para penafsir berusaha memahami ayat Al-Quran sejalan dengan perkembangan sains dan teknologi.
    Keempat, Corak Fiqih atau Hukum, karena berkembangnya ilmu fiqih, dan terbentuknya Mazhab Fiqih, yang setiap golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum.
    Kelima, Corak Tasawuf, karena timbulnya gerakan sufi sebagai reaksi  kecenderungan berbagai pihak terhadap materi, atau sebagai “kompensasi” terhadap kelemahan yang dirasakan.
    Keenam, Bermula pada masa Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905 M), aneka corak mulai berkurang dan perhatian lebih banyak tertuju kepada “Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan”.
    Yakni satu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk ayat Al-Quran berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, dan usaha mengatasi masalah berdasarkan petunjuk ayat Al-Quran. Dengan menampilkan pedoman ayat Al-Quran dalam bahasa yang mudah dipahami dan indah didengarkan. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

148. SEJARAH

SEJARAH TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
 
      Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah sejarah tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan sejarah tafsir Al-Quran.
       Pada saat Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad dari Allah melalui malaikat Jibril, Nabi Muhammad berfungsi sebagai “mubayyin” yaitu pemberi penjelasan. Nabi menjelaskan kepada para sahabat tentang arti dan kandungan AlQuran, terutama ayat yang tidak dipahami.
      Keadaan ini berlangsung sampai Nabi wafat. Meskipun penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui. Karena riwayatnya tidak sampai kepada kita. Atau karena memang Nabi tidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran.
      Pada zaman Nabi. Para sahabat langsung menanyakan masalah yang tidak jelas kepada beliau. Setelah Nabi wafat, para sahabat  terpaksa melakukan ijtihad. Terutama yang memiliki kemampuan, misalnya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab, dan Ibnu Masud.
     Ijtihad merupakan usaha sungguh-sungguh yang dilakukan para ahli agama untuk mencapai suatu putusan atau simpulan hukum agama Islam mengenai kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam Al-Quran dan Hadis.
       Sebagian sahabat bertanya tentang sejarah nabi atau kisah yang tercantum dalam Al-Quran kepada tokoh Ahli Kitab yang telah memeluk Islam. Misalnya, Abdullah bin Salam, Kaab Al-Ahbar, dan lainnya. Hal ini merupakan benih lahirnya hadis “Israiliyat”.
     Kata “Israiliyat” arti harfiahnya “dari Israil”. Hadis Israiliyat bermakna sejumlah hadis yang berasal dari tradisi Yahudi-Kristen. Hadis Israiliyat umumnya berupa berbagai cerita dan tradisi non-Alkitab Yahudi dan Kristiani yang memberikan informasi atau interpretasi tambahan mengenai kejadian atau tokoh dalam kitab suci Yahudi.
     Para ahli hadis menggolongkan hadis Israiliyat ke dalam tiga kategori. Pertama, Hadis yang dinilai benar, karena wahyu dari Nabi Muhammad menegaskan hadis tersebut. Kedua, Hadis yang dianggap palsu, karena wahyu dari Nabi Muhammad menolak hadis tersebut. Ketiga, Hadis yang tidak dikenali benar atau salahnya.
       Para tokoh tafsir para sahabat mempunyai murid para “tabiin”. Tabiin merupakan penganut ajaran Nabi Muhammad generasi kedua setelah para sahabat. Tabiin adalah generasi sesudah Nabi Muhammad. Sahabat ialah pemeluk Islam yang hidup sezaman dengan Nabi  
      Para tokoh tafsir kalangan tabiin.  Said bin Jubair, dan Mujahid bin Jabr, di Mekah murid Ibnu Abbas. Muhammad bin Kaab, dan Zaid bin Aslam, di Madinah, murid Ubay bin Kaab. Al-Hasan Al-Bashriy, dan Amir Al-Syabi, di Irak murid  Abdullah bin Masud.
      Gabungan tiga sumber, yaitu penafsiran Nabi, para sahabat, dan tabiin, dirangkum menjadi satu disebut “Tafsir bi Al-Ma'tsur”. Zaman ini dikatakan periode pertama sejarah tafsir Al-Quran. Periode pertama berakhir tahun 150 Masehi.
   Mulai tahun 150 Masehi disebut Periode Tafsir Kedua. Pada periode kedua hadis beredar amat pesat. Bermunculan hadis palsu dan lemah di tengah masyarakat. Perubahan sosial semakin cepat, dan muncul beberapa masalah yang belum pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad, para sahabat, dan para tabiin.
      Pada awalnya, usaha penafsiran ayat Al-Quran berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas dan terikat dengan kaidah bahasa serta arti yang dikandung dalam satu kosakata.
     Masyarakat terus berkembang dan bertambah pula porsi akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat AlQuran, bermunculan berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya.
      Keragaman tersebut ditunjang Al-Quran, yang keadaannya seperti dikatakan para ulama “Bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan sinar berbeda. Semakin banyak orang memandang dari sudut berbeda, akan semakin banyak kesan cahaya yang ditampilkan.”
      Para ahli berpendapat Al-Quran memberikan kemungkinan arti yang tidak terbatas. Kesan yang diberikan ayat Al-Quran mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud adalah mutlak. Tetapi, ayat Al-Quran selalu terbuka untuk interpretasi baru. Ayat Al-Quran tidak bersifat tertutup dalam interpretasi tunggal.
     Beberapa corak penafsiran yang dikenal selama ini. Pertama,  Corak Sastra Bahasa, yang timbul akibat banyaknya orang non-Arab yang memeluk Islam, dan akibat kelemahan orang Arab di bidang sastra, sehingga dirasakan perlu menjelaskan  keistimewaan dan kedalaman arti kandungan Al-Quran dalam bidang sastra.
      Kedua, Corak Filsafat dan Teologi, akibat penerjemahan kitab filsafat yang memengaruhi dan masuk Islamnya penganut agama lain. Dengan sadar atau tidak masih meyakini beberapa hal kepercayaan lama mereka. Menimbulkan pendapat berbeda dalam penafsiran mereka.
      Ketiga, Corak Penafsiran Ilmiah, dengan kemajuan sains dan teknologi yang terjadi, para penafsir berusaha memahami ayat Al-Quran sejalan dengan perkembangan sains dan teknologi.
    Keempat, Corak Fiqih atau Hukum, karena berkembangnya ilmu fiqih, dan terbentuknya Mazhab Fiqih, yang setiap golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum.
    Kelima, Corak Tasawuf, karena timbulnya gerakan sufi sebagai reaksi  kecenderungan berbagai pihak terhadap materi, atau sebagai “kompensasi” terhadap kelemahan yang dirasakan.
    Keenam, Bermula pada masa Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905 M), aneka corak mulai berkurang dan perhatian lebih banyak tertuju kepada “Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan”.
    Yakni satu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk ayat Al-Quran berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, dan usaha mengatasi masalah berdasarkan petunjuk ayat Al-Quran. Dengan menampilkan pedoman ayat Al-Quran dalam bahasa yang mudah dipahami dan indah didengarkan. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

148.SEJARAH

SEJARAH TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
 
      Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah sejarah tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan sejarah tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan sejarah tafsir Al-Quran.
       Pada saat Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad dari Allah melalui malaikat Jibril, Nabi Muhammad berfungsi sebagai “mubayyin” yaitu pemberi penjelasan. Nabi menjelaskan kepada para sahabat tentang arti dan kandungan AlQuran, terutama ayat yang tidak dipahami.
      Keadaan ini berlangsung sampai Nabi wafat. Meskipun penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui. Karena riwayatnya tidak sampai kepada kita. Atau karena memang Nabi tidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran.
      Pada zaman Nabi. Para sahabat langsung menanyakan masalah yang tidak jelas kepada beliau. Setelah Nabi wafat, para sahabat  terpaksa melakukan ijtihad. Terutama yang memiliki kemampuan, misalnya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab, dan Ibnu Masud.
     Ijtihad merupakan usaha sungguh-sungguh yang dilakukan para ahli agama untuk mencapai suatu putusan atau simpulan hukum agama Islam mengenai kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam Al-Quran dan Hadis.
       Sebagian sahabat bertanya tentang sejarah nabi atau kisah yang tercantum dalam Al-Quran kepada tokoh Ahli Kitab yang telah memeluk Islam. Misalnya, Abdullah bin Salam, Kaab Al-Ahbar, dan lainnya. Hal ini merupakan benih lahirnya hadis “Israiliyat”.
     Kata “Israiliyat” arti harfiahnya “dari Israil”. Hadis Israiliyat bermakna sejumlah hadis yang berasal dari tradisi Yahudi-Kristen. Hadis Israiliyat umumnya berupa berbagai cerita dan tradisi non-Alkitab Yahudi dan Kristiani yang memberikan informasi atau interpretasi tambahan mengenai kejadian atau tokoh dalam kitab suci Yahudi.
     Para ahli hadis menggolongkan hadis Israiliyat ke dalam tiga kategori. Pertama, Hadis yang dinilai benar, karena wahyu dari Nabi Muhammad menegaskan hadis tersebut. Kedua, Hadis yang dianggap palsu, karena wahyu dari Nabi Muhammad menolak hadis tersebut. Ketiga, Hadis yang tidak dikenali benar atau salahnya.
       Para tokoh tafsir para sahabat mempunyai murid para “tabiin”. Tabiin merupakan penganut ajaran Nabi Muhammad generasi kedua setelah para sahabat. Tabiin adalah generasi sesudah Nabi Muhammad. Sahabat ialah pemeluk Islam yang hidup sezaman dengan Nabi  
      Para tokoh tafsir kalangan tabiin.  Said bin Jubair, dan Mujahid bin Jabr, di Mekah murid Ibnu Abbas. Muhammad bin Kaab, dan Zaid bin Aslam, di Madinah, murid Ubay bin Kaab. Al-Hasan Al-Bashriy, dan Amir Al-Syabi, di Irak murid  Abdullah bin Masud.
      Gabungan tiga sumber, yaitu penafsiran Nabi, para sahabat, dan tabiin, dirangkum menjadi satu disebut “Tafsir bi Al-Ma'tsur”. Zaman ini dikatakan periode pertama sejarah tafsir Al-Quran. Periode pertama berakhir tahun 150 Masehi.
   Mulai tahun 150 Masehi disebut Periode Tafsir Kedua. Pada periode kedua hadis beredar amat pesat. Bermunculan hadis palsu dan lemah di tengah masyarakat. Perubahan sosial semakin cepat, dan muncul beberapa masalah yang belum pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad, para sahabat, dan para tabiin.
      Pada awalnya, usaha penafsiran ayat Al-Quran berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas dan terikat dengan kaidah bahasa serta arti yang dikandung dalam satu kosakata.
     Masyarakat terus berkembang dan bertambah pula porsi akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat AlQuran, bermunculan berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya.
      Keragaman tersebut ditunjang Al-Quran, yang keadaannya seperti dikatakan para ulama “Bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan sinar berbeda. Semakin banyak orang memandang dari sudut berbeda, akan semakin banyak kesan cahaya yang ditampilkan.”
      Para ahli berpendapat Al-Quran memberikan kemungkinan arti yang tidak terbatas. Kesan yang diberikan ayat Al-Quran mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud adalah mutlak. Tetapi, ayat Al-Quran selalu terbuka untuk interpretasi baru. Ayat Al-Quran tidak bersifat tertutup dalam interpretasi tunggal.
     Beberapa corak penafsiran yang dikenal selama ini. Pertama,  Corak Sastra Bahasa, yang timbul akibat banyaknya orang non-Arab yang memeluk Islam, dan akibat kelemahan orang Arab di bidang sastra, sehingga dirasakan perlu menjelaskan  keistimewaan dan kedalaman arti kandungan Al-Quran dalam bidang sastra.
      Kedua, Corak Filsafat dan Teologi, akibat penerjemahan kitab filsafat yang memengaruhi dan masuk Islamnya penganut agama lain. Dengan sadar atau tidak masih meyakini beberapa hal kepercayaan lama mereka. Menimbulkan pendapat berbeda dalam penafsiran mereka.
      Ketiga, Corak Penafsiran Ilmiah, dengan kemajuan sains dan teknologi yang terjadi, para penafsir berusaha memahami ayat Al-Quran sejalan dengan perkembangan sains dan teknologi.
    Keempat, Corak Fiqih atau Hukum, karena berkembangnya ilmu fiqih, dan terbentuknya Mazhab Fiqih, yang setiap golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum.
    Kelima, Corak Tasawuf, karena timbulnya gerakan sufi sebagai reaksi  kecenderungan berbagai pihak terhadap materi, atau sebagai “kompensasi” terhadap kelemahan yang dirasakan.
    Keenam, Bermula pada masa Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905 M), aneka corak mulai berkurang dan perhatian lebih banyak tertuju kepada “Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan”.
    Yakni satu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk ayat Al-Quran berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, dan usaha mengatasi masalah berdasarkan petunjuk ayat Al-Quran. Dengan menampilkan pedoman ayat Al-Quran dalam bahasa yang mudah dipahami dan indah didengarkan. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

Wednesday, July 26, 2017

147. ILMU

AL-QURAN DI TENGAH PERKEMBANGAN ILMU
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana posisi Al-Quran di tengah perkembangan ilmu? Tolong dijelaskan posisi Al-Quran di tengah pusaran ilmu? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
    Kata “ilmu” atau “Ilm” dalam Al-Quran ditemukan dalam berbagai bentuk dan artinya  sebanyak 854 kali. Kata “ilm” bisa bermakna “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.”
      Al-Quran surah ke-2 ayat 31. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman,”Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar. Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Seminar Internasional Pendidikan Islam di Mekah tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori. Pertama, Ilmu abadi. Yaitu ilmu yang berdasarkan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang bersumber darinya.
      Kedua, Ilmu yang dicari. Yaitu  ilmu sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai sumber nilai.
     Para ahli Islam berpendapat ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya pada masa kini maupun masa depan. Filosof non-Islam berpendapat satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.
      Perbedaan ajaran Al-Quran dengan sains “versi” ilmuwan Barat, yaitu Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu melewati batas-batas di luar alam materi. Ilmuwan Barat menilai sains hanya menyangkut alam materi saja.
      Al-Quran menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen, serta menyarankan menggunakan akal dan intuisi. Instuisi merupakan daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 20. “Katakan, “Berjalanlah di (muka) bumi, perhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 78. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Allah memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran menyatakan terdapat “realitas” lain yang tidak dapat dijangkau  pancaindera manusia, sehingga tidak mungkin dapat dilakukan observasi atau eksperimen. Observasi ialah peninjauan secara cermat. Eksperiman merupakan percobaan bersistem dan berencana untuk  membuktikan kebenaran suatu teori.
      Al-Quran surah Al-Haqqah, surah ke-69 ayat 38-39. “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.”
       Al-Quran menyatakan setan dan pengikutnya mampu melihat manusia dari suatu tempat, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.
      Al-Quran surah ke-7 ayat 27. “Wahai anak Adam, jangan sampai kamu ditipu setan, sebagaimana setan telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Dia melepaskan pakaiannya untuk memperlihatkan auratnya. Sesungguhnya setan dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman.”
      Wilayah ilmuwan adalah dunia empiris. Dunia empiris berarti  berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan, yang telah dilakukan.
      Tetapi terdapat “realitas lain” yang tidak diketahui para ilmwan. Karena tidak berada dalam dunia empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakan ilmu untuk menolak “dunia lain”, karena wilayah mereka hanya wilayah empiris.
      Banyak konsep abstrak yang digunakan imuwan yang tidak ada dalam dunia materi, seperti misalnya berat jenis benda, atau bentuk akar dalam matematika. Banyak hal yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapat dijangkau hakikatnya, seperti sinar atau cahaya.
      Hal ini membuktikan keterbatasan ilmu manusia. Kebanyakan manusia hanya “mengetahui” fenomena. Mereka tidak mampu “menjangkau” fenomena. Fenomena merupakan hal yang dapat disaksikan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena gejala alam. 
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke17 ayat 85. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
      Al-Quran surah Ar-Rum, surah ke-30 ayat 7. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
      Pengertian “ilmu” dalam tulisan ini terbatas pada pemahaman sempit tersebut. Dengan kata lain dalam pengertian “sains” yang meliputi pengungkapan “sunnatullah” tentang alam raya, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.       Dengan perumusan hipotesis yang memungkinkan seseorang dapat memprediksi  peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu.
     Al-Quran menjelaskan di balik alam semesta, ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia.  Tanda wujud-Nya akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia,  sebagai bukti kebenaran Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya. Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
      Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 53. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran benar. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu?”
       Al-Quran merupakan wahyu Allah untuk menjelaskan hakikat wujud-Nya  dengan mengaitkan dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada Allah.
       Al-Quran surah ke51 ayat 56. “Aku Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
      Al-Quran selalu mengaitkan perintah Allah yang berhubungan dengan alam semesta dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Allah.
     Wahyu pertama Al-Quran yaitu “iqra” dikaitkan dengan “bismi rabbika”. Berarti “ilmu bukan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan lainnya”. Tetapi, ilmu dikaitkan dengan nama Allah.
        Ayat Al-Quran menggambarkan alam semesta dan seluruh isinya adalah “intelligible”, yaitu dapat dijangkau daya akal manusia, juga segala sesuatu yang berada di alam semesta digampangkan untuk dimanfaatkan manusia.
     Al-Quran surah Az-Zukhruf, surah ke-43 ayat 13. “Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan,”Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. “
      Al-Quran mewajibkan semua usaha pengembangan sains dan teknologi, selama membawa manfaat untuk manusia.
      Beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah perkembangan ilmu. 
      Al-Quran surah ke-51 ayat 47. Teori kosmos yang mengembang. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
   Matahari bersinar dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan pantulan dari sinar matahari.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5. “Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan perut bumi, dan  bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan.
      Al-Quran surah ke-27 ayat 88. “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu menyangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
      Zat hijau daun (klorofil) yang berperan mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses “fotosintesis” sehingga menghasilkan energi.
     Al-Quran surah ke-36  ayat 80. “Katakan, “Dia akan dihidupkan oleh Allah yang menciptakannya kali yang pertama. Allah Maha Mengetahui segala makhluk. Allah yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
     Manusia diciptakan dari sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet pada dinding Rahim.
      Al-Quran surah At-Tariq, surah ke-86 ayat 5-7. “Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
      Surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 2. “Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
       Profesor Dr. Maurice Bucaille  dalam bukunya “Al-Quran, Bible, dan Sains Modern” menyatakan semua ayat dalam Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu  pengetahuan dan sains modern.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

147. ILMU

AL-QURAN DI TENGAH PERKEMBANGAN ILMU
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana posisi Al-Quran di tengah perkembangan ilmu? Tolong dijelaskan posisi Al-Quran di tengah pusaran ilmu? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
    Kata “ilmu” atau “Ilm” dalam Al-Quran ditemukan dalam berbagai bentuk dan artinya  sebanyak 854 kali. Kata “ilm” bisa bermakna “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.”
      Al-Quran surah ke-2 ayat 31. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman,”Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar. Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Seminar Internasional Pendidikan Islam di Mekah tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori. Pertama, Ilmu abadi. Yaitu ilmu yang berdasarkan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang bersumber darinya.
      Kedua, Ilmu yang dicari. Yaitu  ilmu sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai sumber nilai.
     Para ahli Islam berpendapat ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya pada masa kini maupun masa depan. Filosof non-Islam berpendapat satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.
      Perbedaan ajaran Al-Quran dengan sains “versi” ilmuwan Barat, yaitu Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu melewati batas-batas di luar alam materi. Ilmuwan Barat menilai sains hanya menyangkut alam materi saja.
      Al-Quran menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen, serta menyarankan menggunakan akal dan intuisi. Instuisi merupakan daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 20. “Katakan, “Berjalanlah di (muka) bumi, perhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 78. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Allah memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran menyatakan terdapat “realitas” lain yang tidak dapat dijangkau  pancaindera manusia, sehingga tidak mungkin dapat dilakukan observasi atau eksperimen. Observasi ialah peninjauan secara cermat. Eksperiman merupakan percobaan bersistem dan berencana untuk  membuktikan kebenaran suatu teori.
      Al-Quran surah Al-Haqqah, surah ke-69 ayat 38-39. “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.”
       Al-Quran menyatakan setan dan pengikutnya mampu melihat manusia dari suatu tempat, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.
      Al-Quran surah ke-7 ayat 27. “Wahai anak Adam, jangan sampai kamu ditipu setan, sebagaimana setan telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Dia melepaskan pakaiannya untuk memperlihatkan auratnya. Sesungguhnya setan dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman.”
      Wilayah ilmuwan adalah dunia empiris. Dunia empiris berarti  berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan, yang telah dilakukan.
      Tetapi terdapat “realitas lain” yang tidak diketahui para ilmwan. Karena tidak berada dalam dunia empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakan ilmu untuk menolak “dunia lain”, karena wilayah mereka hanya wilayah empiris.
      Banyak konsep abstrak yang digunakan imuwan yang tidak ada dalam dunia materi, seperti misalnya berat jenis benda, atau bentuk akar dalam matematika. Banyak hal yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapat dijangkau hakikatnya, seperti sinar atau cahaya.
      Hal ini membuktikan keterbatasan ilmu manusia. Kebanyakan manusia hanya “mengetahui” fenomena. Mereka tidak mampu “menjangkau” fenomena. Fenomena merupakan hal yang dapat disaksikan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena gejala alam. 
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke17 ayat 85. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
      Al-Quran surah Ar-Rum, surah ke-30 ayat 7. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
      Pengertian “ilmu” dalam tulisan ini terbatas pada pemahaman sempit tersebut. Dengan kata lain dalam pengertian “sains” yang meliputi pengungkapan “sunnatullah” tentang alam raya, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.       Dengan perumusan hipotesis yang memungkinkan seseorang dapat memprediksi  peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu.
     Al-Quran menjelaskan di balik alam semesta, ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia.  Tanda wujud-Nya akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia,  sebagai bukti kebenaran Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya. Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
      Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 53. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran benar. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu?”
       Al-Quran merupakan wahyu Allah untuk menjelaskan hakikat wujud-Nya  dengan mengaitkan dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada Allah.
       Al-Quran surah ke51 ayat 56. “Aku Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
      Al-Quran selalu mengaitkan perintah Allah yang berhubungan dengan alam semesta dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Allah.
     Wahyu pertama Al-Quran yaitu “iqra” dikaitkan dengan “bismi rabbika”. Berarti “ilmu bukan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan lainnya”. Tetapi, ilmu dikaitkan dengan nama Allah.
        Ayat Al-Quran menggambarkan alam semesta dan seluruh isinya adalah “intelligible”, yaitu dapat dijangkau daya akal manusia, juga segala sesuatu yang berada di alam semesta digampangkan untuk dimanfaatkan manusia.
     Al-Quran surah Az-Zukhruf, surah ke-43 ayat 13. “Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan,”Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. “
      Al-Quran mewajibkan semua usaha pengembangan sains dan teknologi, selama membawa manfaat untuk manusia.
      Beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah perkembangan ilmu. 
      Al-Quran surah ke-51 ayat 47. Teori kosmos yang mengembang. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
   Matahari bersinar dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan pantulan dari sinar matahari.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5. “Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan perut bumi, dan  bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan.
      Al-Quran surah ke-27 ayat 88. “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu menyangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
      Zat hijau daun (klorofil) yang berperan mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses “fotosintesis” sehingga menghasilkan energi.
     Al-Quran surah ke-36  ayat 80. “Katakan, “Dia akan dihidupkan oleh Allah yang menciptakannya kali yang pertama. Allah Maha Mengetahui segala makhluk. Allah yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
     Manusia diciptakan dari sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet pada dinding Rahim.
      Al-Quran surah At-Tariq, surah ke-86 ayat 5-7. “Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
      Surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 2. “Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
       Profesor Dr. Maurice Bucaille  dalam bukunya “Al-Quran, Bible, dan Sains Modern” menyatakan semua ayat dalam Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu  pengetahuan dan sains modern.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

147. ILMU

AL-QURAN DI TENGAH PERKEMBANGAN ILMU
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana posisi Al-Quran di tengah perkembangan ilmu? Tolong dijelaskan posisi Al-Quran di tengah pusaran ilmu? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
    Kata “ilmu” atau “Ilm” dalam Al-Quran ditemukan dalam berbagai bentuk dan artinya  sebanyak 854 kali. Kata “ilm” bisa bermakna “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.”
      Al-Quran surah ke-2 ayat 31. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman,”Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar. Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Seminar Internasional Pendidikan Islam di Mekah tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori. Pertama, Ilmu abadi. Yaitu ilmu yang berdasarkan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang bersumber darinya.
      Kedua, Ilmu yang dicari. Yaitu  ilmu sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai sumber nilai.
     Para ahli Islam berpendapat ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya pada masa kini maupun masa depan. Filosof non-Islam berpendapat satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.
      Perbedaan ajaran Al-Quran dengan sains “versi” ilmuwan Barat, yaitu Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu melewati batas-batas di luar alam materi. Ilmuwan Barat menilai sains hanya menyangkut alam materi saja.
      Al-Quran menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen, serta menyarankan menggunakan akal dan intuisi. Instuisi merupakan daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 20. “Katakan, “Berjalanlah di (muka) bumi, perhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 78. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Allah memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran menyatakan terdapat “realitas” lain yang tidak dapat dijangkau  pancaindera manusia, sehingga tidak mungkin dapat dilakukan observasi atau eksperimen. Observasi ialah peninjauan secara cermat. Eksperiman merupakan percobaan bersistem dan berencana untuk  membuktikan kebenaran suatu teori.
      Al-Quran surah Al-Haqqah, surah ke-69 ayat 38-39. “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.”
       Al-Quran menyatakan setan dan pengikutnya mampu melihat manusia dari suatu tempat, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.
      Al-Quran surah ke-7 ayat 27. “Wahai anak Adam, jangan sampai kamu ditipu setan, sebagaimana setan telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Dia melepaskan pakaiannya untuk memperlihatkan auratnya. Sesungguhnya setan dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman.”
      Wilayah ilmuwan adalah dunia empiris. Dunia empiris berarti  berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan, yang telah dilakukan.
      Tetapi terdapat “realitas lain” yang tidak diketahui para ilmwan. Karena tidak berada dalam dunia empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakan ilmu untuk menolak “dunia lain”, karena wilayah mereka hanya wilayah empiris.
      Banyak konsep abstrak yang digunakan imuwan yang tidak ada dalam dunia materi, seperti misalnya berat jenis benda, atau bentuk akar dalam matematika. Banyak hal yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapat dijangkau hakikatnya, seperti sinar atau cahaya.
      Hal ini membuktikan keterbatasan ilmu manusia. Kebanyakan manusia hanya “mengetahui” fenomena. Mereka tidak mampu “menjangkau” fenomena. Fenomena merupakan hal yang dapat disaksikan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena gejala alam. 
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke17 ayat 85. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
      Al-Quran surah Ar-Rum, surah ke-30 ayat 7. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
      Pengertian “ilmu” dalam tulisan ini terbatas pada pemahaman sempit tersebut. Dengan kata lain dalam pengertian “sains” yang meliputi pengungkapan “sunnatullah” tentang alam raya, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.       Dengan perumusan hipotesis yang memungkinkan seseorang dapat memprediksi  peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu.
     Al-Quran menjelaskan di balik alam semesta, ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia.  Tanda wujud-Nya akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia,  sebagai bukti kebenaran Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya. Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
      Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 53. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran benar. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu?”
       Al-Quran merupakan wahyu Allah untuk menjelaskan hakikat wujud-Nya  dengan mengaitkan dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada Allah.
       Al-Quran surah ke51 ayat 56. “Aku Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
      Al-Quran selalu mengaitkan perintah Allah yang berhubungan dengan alam semesta dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Allah.
     Wahyu pertama Al-Quran yaitu “iqra” dikaitkan dengan “bismi rabbika”. Berarti “ilmu bukan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan lainnya”. Tetapi, ilmu dikaitkan dengan nama Allah.
        Ayat Al-Quran menggambarkan alam semesta dan seluruh isinya adalah “intelligible”, yaitu dapat dijangkau daya akal manusia, juga segala sesuatu yang berada di alam semesta digampangkan untuk dimanfaatkan manusia.
     Al-Quran surah Az-Zukhruf, surah ke-43 ayat 13. “Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan,”Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. “
      Al-Quran mewajibkan semua usaha pengembangan sains dan teknologi, selama membawa manfaat untuk manusia.
      Beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah perkembangan ilmu. 
      Al-Quran surah ke-51 ayat 47. Teori kosmos yang mengembang. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
   Matahari bersinar dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan pantulan dari sinar matahari.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5. “Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan perut bumi, dan  bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan.
      Al-Quran surah ke-27 ayat 88. “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu menyangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
      Zat hijau daun (klorofil) yang berperan mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses “fotosintesis” sehingga menghasilkan energi.
     Al-Quran surah ke-36  ayat 80. “Katakan, “Dia akan dihidupkan oleh Allah yang menciptakannya kali yang pertama. Allah Maha Mengetahui segala makhluk. Allah yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
     Manusia diciptakan dari sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet pada dinding Rahim.
      Al-Quran surah At-Tariq, surah ke-86 ayat 5-7. “Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
      Surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 2. “Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
       Profesor Dr. Maurice Bucaille  dalam bukunya “Al-Quran, Bible, dan Sains Modern” menyatakan semua ayat dalam Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu  pengetahuan dan sains modern.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

147. ILMU

AL-QURAN DI TENGAH PERKEMBANGAN ILMU
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana posisi Al-Quran di tengah perkembangan ilmu? Tolong dijelaskan posisi Al-Quran di tengah pusaran ilmu? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
    Kata “ilmu” atau “Ilm” dalam Al-Quran ditemukan dalam berbagai bentuk dan artinya  sebanyak 854 kali. Kata “ilm” bisa bermakna “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.”
      Al-Quran surah ke-2 ayat 31. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman,”Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar. Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Seminar Internasional Pendidikan Islam di Mekah tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori. Pertama, Ilmu abadi. Yaitu ilmu yang berdasarkan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang bersumber darinya.
      Kedua, Ilmu yang dicari. Yaitu  ilmu sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai sumber nilai.
     Para ahli Islam berpendapat ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya pada masa kini maupun masa depan. Filosof non-Islam berpendapat satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.
      Perbedaan ajaran Al-Quran dengan sains “versi” ilmuwan Barat, yaitu Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu melewati batas-batas di luar alam materi. Ilmuwan Barat menilai sains hanya menyangkut alam materi saja.
      Al-Quran menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen, serta menyarankan menggunakan akal dan intuisi. Instuisi merupakan daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 20. “Katakan, “Berjalanlah di (muka) bumi, perhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 78. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Allah memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran menyatakan terdapat “realitas” lain yang tidak dapat dijangkau  pancaindera manusia, sehingga tidak mungkin dapat dilakukan observasi atau eksperimen. Observasi ialah peninjauan secara cermat. Eksperiman merupakan percobaan bersistem dan berencana untuk  membuktikan kebenaran suatu teori.
      Al-Quran surah Al-Haqqah, surah ke-69 ayat 38-39. “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.”
       Al-Quran menyatakan setan dan pengikutnya mampu melihat manusia dari suatu tempat, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.
      Al-Quran surah ke-7 ayat 27. “Wahai anak Adam, jangan sampai kamu ditipu setan, sebagaimana setan telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Dia melepaskan pakaiannya untuk memperlihatkan auratnya. Sesungguhnya setan dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman.”
      Wilayah ilmuwan adalah dunia empiris. Dunia empiris berarti  berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan, yang telah dilakukan.
      Tetapi terdapat “realitas lain” yang tidak diketahui para ilmwan. Karena tidak berada dalam dunia empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakan ilmu untuk menolak “dunia lain”, karena wilayah mereka hanya wilayah empiris.
      Banyak konsep abstrak yang digunakan imuwan yang tidak ada dalam dunia materi, seperti misalnya berat jenis benda, atau bentuk akar dalam matematika. Banyak hal yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapat dijangkau hakikatnya, seperti sinar atau cahaya.
      Hal ini membuktikan keterbatasan ilmu manusia. Kebanyakan manusia hanya “mengetahui” fenomena. Mereka tidak mampu “menjangkau” fenomena. Fenomena merupakan hal yang dapat disaksikan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena gejala alam. 
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke17 ayat 85. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
      Al-Quran surah Ar-Rum, surah ke-30 ayat 7. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
      Pengertian “ilmu” dalam tulisan ini terbatas pada pemahaman sempit tersebut. Dengan kata lain dalam pengertian “sains” yang meliputi pengungkapan “sunnatullah” tentang alam raya, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.       Dengan perumusan hipotesis yang memungkinkan seseorang dapat memprediksi  peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu.
     Al-Quran menjelaskan di balik alam semesta, ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia.  Tanda wujud-Nya akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia,  sebagai bukti kebenaran Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya. Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
      Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 53. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran benar. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu?”
       Al-Quran merupakan wahyu Allah untuk menjelaskan hakikat wujud-Nya  dengan mengaitkan dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada Allah.
       Al-Quran surah ke51 ayat 56. “Aku Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
      Al-Quran selalu mengaitkan perintah Allah yang berhubungan dengan alam semesta dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Allah.
     Wahyu pertama Al-Quran yaitu “iqra” dikaitkan dengan “bismi rabbika”. Berarti “ilmu bukan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan lainnya”. Tetapi, ilmu dikaitkan dengan nama Allah.
        Ayat Al-Quran menggambarkan alam semesta dan seluruh isinya adalah “intelligible”, yaitu dapat dijangkau daya akal manusia, juga segala sesuatu yang berada di alam semesta digampangkan untuk dimanfaatkan manusia.
     Al-Quran surah Az-Zukhruf, surah ke-43 ayat 13. “Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan,”Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. “
      Al-Quran mewajibkan semua usaha pengembangan sains dan teknologi, selama membawa manfaat untuk manusia.
      Beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah perkembangan ilmu. 
      Al-Quran surah ke-51 ayat 47. Teori kosmos yang mengembang. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
   Matahari bersinar dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan pantulan dari sinar matahari.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5. “Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan perut bumi, dan  bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan.
      Al-Quran surah ke-27 ayat 88. “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu menyangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
      Zat hijau daun (klorofil) yang berperan mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses “fotosintesis” sehingga menghasilkan energi.
     Al-Quran surah ke-36  ayat 80. “Katakan, “Dia akan dihidupkan oleh Allah yang menciptakannya kali yang pertama. Allah Maha Mengetahui segala makhluk. Allah yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
     Manusia diciptakan dari sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet pada dinding Rahim.
      Al-Quran surah At-Tariq, surah ke-86 ayat 5-7. “Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
      Surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 2. “Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
       Profesor Dr. Maurice Bucaille  dalam bukunya “Al-Quran, Bible, dan Sains Modern” menyatakan semua ayat dalam Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu  pengetahuan dan sains modern.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

147. ILMU

AL-QURAN DI TENGAH PERKEMBANGAN ILMU
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana posisi Al-Quran di tengah perkembangan ilmu? Tolong dijelaskan posisi Al-Quran di tengah pusaran ilmu? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
    Kata “ilmu” atau “Ilm” dalam Al-Quran ditemukan dalam berbagai bentuk dan artinya  sebanyak 854 kali. Kata “ilm” bisa bermakna “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.”
      Al-Quran surah ke-2 ayat 31. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman,”Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar. Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Seminar Internasional Pendidikan Islam di Mekah tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori. Pertama, Ilmu abadi. Yaitu ilmu yang berdasarkan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang bersumber darinya.
      Kedua, Ilmu yang dicari. Yaitu  ilmu sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai sumber nilai.
     Para ahli Islam berpendapat ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya pada masa kini maupun masa depan. Filosof non-Islam berpendapat satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.
      Perbedaan ajaran Al-Quran dengan sains “versi” ilmuwan Barat, yaitu Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu melewati batas-batas di luar alam materi. Ilmuwan Barat menilai sains hanya menyangkut alam materi saja.
      Al-Quran menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen, serta menyarankan menggunakan akal dan intuisi. Instuisi merupakan daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 20. “Katakan, “Berjalanlah di (muka) bumi, perhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 78. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Allah memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran menyatakan terdapat “realitas” lain yang tidak dapat dijangkau  pancaindera manusia, sehingga tidak mungkin dapat dilakukan observasi atau eksperimen. Observasi ialah peninjauan secara cermat. Eksperiman merupakan percobaan bersistem dan berencana untuk  membuktikan kebenaran suatu teori.
      Al-Quran surah Al-Haqqah, surah ke-69 ayat 38-39. “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.”
       Al-Quran menyatakan setan dan pengikutnya mampu melihat manusia dari suatu tempat, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.
      Al-Quran surah ke-7 ayat 27. “Wahai anak Adam, jangan sampai kamu ditipu setan, sebagaimana setan telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Dia melepaskan pakaiannya untuk memperlihatkan auratnya. Sesungguhnya setan dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman.”
      Wilayah ilmuwan adalah dunia empiris. Dunia empiris berarti  berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan, yang telah dilakukan.
      Tetapi terdapat “realitas lain” yang tidak diketahui para ilmwan. Karena tidak berada dalam dunia empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakan ilmu untuk menolak “dunia lain”, karena wilayah mereka hanya wilayah empiris.
      Banyak konsep abstrak yang digunakan imuwan yang tidak ada dalam dunia materi, seperti misalnya berat jenis benda, atau bentuk akar dalam matematika. Banyak hal yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapat dijangkau hakikatnya, seperti sinar atau cahaya.
      Hal ini membuktikan keterbatasan ilmu manusia. Kebanyakan manusia hanya “mengetahui” fenomena. Mereka tidak mampu “menjangkau” fenomena. Fenomena merupakan hal yang dapat disaksikan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena gejala alam. 
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke17 ayat 85. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
      Al-Quran surah Ar-Rum, surah ke-30 ayat 7. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
      Pengertian “ilmu” dalam tulisan ini terbatas pada pemahaman sempit tersebut. Dengan kata lain dalam pengertian “sains” yang meliputi pengungkapan “sunnatullah” tentang alam raya, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.       Dengan perumusan hipotesis yang memungkinkan seseorang dapat memprediksi  peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu.
     Al-Quran menjelaskan di balik alam semesta, ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia.  Tanda wujud-Nya akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia,  sebagai bukti kebenaran Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya. Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
      Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 53. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran benar. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu?”
       Al-Quran merupakan wahyu Allah untuk menjelaskan hakikat wujud-Nya  dengan mengaitkan dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada Allah.
       Al-Quran surah ke51 ayat 56. “Aku Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
      Al-Quran selalu mengaitkan perintah Allah yang berhubungan dengan alam semesta dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Allah.
     Wahyu pertama Al-Quran yaitu “iqra” dikaitkan dengan “bismi rabbika”. Berarti “ilmu bukan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan lainnya”. Tetapi, ilmu dikaitkan dengan nama Allah.
        Ayat Al-Quran menggambarkan alam semesta dan seluruh isinya adalah “intelligible”, yaitu dapat dijangkau daya akal manusia, juga segala sesuatu yang berada di alam semesta digampangkan untuk dimanfaatkan manusia.
     Al-Quran surah Az-Zukhruf, surah ke-43 ayat 13. “Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan,”Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. “
      Al-Quran mewajibkan semua usaha pengembangan sains dan teknologi, selama membawa manfaat untuk manusia.
      Beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah perkembangan ilmu. 
      Al-Quran surah ke-51 ayat 47. Teori kosmos yang mengembang. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
   Matahari bersinar dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan pantulan dari sinar matahari.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5. “Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan perut bumi, dan  bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan.
      Al-Quran surah ke-27 ayat 88. “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu menyangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
      Zat hijau daun (klorofil) yang berperan mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses “fotosintesis” sehingga menghasilkan energi.
     Al-Quran surah ke-36  ayat 80. “Katakan, “Dia akan dihidupkan oleh Allah yang menciptakannya kali yang pertama. Allah Maha Mengetahui segala makhluk. Allah yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
     Manusia diciptakan dari sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet pada dinding Rahim.
      Al-Quran surah At-Tariq, surah ke-86 ayat 5-7. “Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
      Surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 2. “Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
       Profesor Dr. Maurice Bucaille  dalam bukunya “Al-Quran, Bible, dan Sains Modern” menyatakan semua ayat dalam Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu  pengetahuan dan sains modern.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

147. ILMU

AL-QURAN DI TENGAH PERKEMBANGAN ILMU
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana posisi Al-Quran di tengah perkembangan ilmu? Tolong dijelaskan posisi Al-Quran di tengah pusaran ilmu? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
    Kata “ilmu” atau “Ilm” dalam Al-Quran ditemukan dalam berbagai bentuk dan artinya  sebanyak 854 kali. Kata “ilm” bisa bermakna “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.”
      Al-Quran surah ke-2 ayat 31. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman,”Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar. Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Seminar Internasional Pendidikan Islam di Mekah tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori. Pertama, Ilmu abadi. Yaitu ilmu yang berdasarkan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang bersumber darinya.
      Kedua, Ilmu yang dicari. Yaitu  ilmu sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai sumber nilai.
     Para ahli Islam berpendapat ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya pada masa kini maupun masa depan. Filosof non-Islam berpendapat satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.
      Perbedaan ajaran Al-Quran dengan sains “versi” ilmuwan Barat, yaitu Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu melewati batas-batas di luar alam materi. Ilmuwan Barat menilai sains hanya menyangkut alam materi saja.
      Al-Quran menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen, serta menyarankan menggunakan akal dan intuisi. Instuisi merupakan daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 20. “Katakan, “Berjalanlah di (muka) bumi, perhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 78. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Allah memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran menyatakan terdapat “realitas” lain yang tidak dapat dijangkau  pancaindera manusia, sehingga tidak mungkin dapat dilakukan observasi atau eksperimen. Observasi ialah peninjauan secara cermat. Eksperiman merupakan percobaan bersistem dan berencana untuk  membuktikan kebenaran suatu teori.
      Al-Quran surah Al-Haqqah, surah ke-69 ayat 38-39. “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.”
       Al-Quran menyatakan setan dan pengikutnya mampu melihat manusia dari suatu tempat, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.
      Al-Quran surah ke-7 ayat 27. “Wahai anak Adam, jangan sampai kamu ditipu setan, sebagaimana setan telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Dia melepaskan pakaiannya untuk memperlihatkan auratnya. Sesungguhnya setan dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman.”
      Wilayah ilmuwan adalah dunia empiris. Dunia empiris berarti  berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan, yang telah dilakukan.
      Tetapi terdapat “realitas lain” yang tidak diketahui para ilmwan. Karena tidak berada dalam dunia empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakan ilmu untuk menolak “dunia lain”, karena wilayah mereka hanya wilayah empiris.
      Banyak konsep abstrak yang digunakan imuwan yang tidak ada dalam dunia materi, seperti misalnya berat jenis benda, atau bentuk akar dalam matematika. Banyak hal yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapat dijangkau hakikatnya, seperti sinar atau cahaya.
      Hal ini membuktikan keterbatasan ilmu manusia. Kebanyakan manusia hanya “mengetahui” fenomena. Mereka tidak mampu “menjangkau” fenomena. Fenomena merupakan hal yang dapat disaksikan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena gejala alam. 
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke17 ayat 85. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
      Al-Quran surah Ar-Rum, surah ke-30 ayat 7. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
      Pengertian “ilmu” dalam tulisan ini terbatas pada pemahaman sempit tersebut. Dengan kata lain dalam pengertian “sains” yang meliputi pengungkapan “sunnatullah” tentang alam raya, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.       Dengan perumusan hipotesis yang memungkinkan seseorang dapat memprediksi  peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu.
     Al-Quran menjelaskan di balik alam semesta, ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia.  Tanda wujud-Nya akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia,  sebagai bukti kebenaran Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya. Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
      Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 53. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran benar. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu?”
       Al-Quran merupakan wahyu Allah untuk menjelaskan hakikat wujud-Nya  dengan mengaitkan dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada Allah.
       Al-Quran surah ke51 ayat 56. “Aku Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
      Al-Quran selalu mengaitkan perintah Allah yang berhubungan dengan alam semesta dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Allah.
     Wahyu pertama Al-Quran yaitu “iqra” dikaitkan dengan “bismi rabbika”. Berarti “ilmu bukan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan lainnya”. Tetapi, ilmu dikaitkan dengan nama Allah.
        Ayat Al-Quran menggambarkan alam semesta dan seluruh isinya adalah “intelligible”, yaitu dapat dijangkau daya akal manusia, juga segala sesuatu yang berada di alam semesta digampangkan untuk dimanfaatkan manusia.
     Al-Quran surah Az-Zukhruf, surah ke-43 ayat 13. “Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan,”Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. “
      Al-Quran mewajibkan semua usaha pengembangan sains dan teknologi, selama membawa manfaat untuk manusia.
      Beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah perkembangan ilmu. 
      Al-Quran surah ke-51 ayat 47. Teori kosmos yang mengembang. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
   Matahari bersinar dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan pantulan dari sinar matahari.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5. “Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan perut bumi, dan  bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan.
      Al-Quran surah ke-27 ayat 88. “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu menyangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
      Zat hijau daun (klorofil) yang berperan mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses “fotosintesis” sehingga menghasilkan energi.
     Al-Quran surah ke-36  ayat 80. “Katakan, “Dia akan dihidupkan oleh Allah yang menciptakannya kali yang pertama. Allah Maha Mengetahui segala makhluk. Allah yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
     Manusia diciptakan dari sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet pada dinding Rahim.
      Al-Quran surah At-Tariq, surah ke-86 ayat 5-7. “Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
      Surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 2. “Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
       Profesor Dr. Maurice Bucaille  dalam bukunya “Al-Quran, Bible, dan Sains Modern” menyatakan semua ayat dalam Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu  pengetahuan dan sains modern.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

147. ILMU

AL-QURAN DI TENGAH PERKEMBANGAN ILMU
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana posisi Al-Quran di tengah perkembangan ilmu? Tolong dijelaskan posisi Al-Quran di tengah pusaran ilmu? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
    Kata “ilmu” atau “Ilm” dalam Al-Quran ditemukan dalam berbagai bentuk dan artinya  sebanyak 854 kali. Kata “ilm” bisa bermakna “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.”
      Al-Quran surah ke-2 ayat 31. “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman,”Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar. Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Seminar Internasional Pendidikan Islam di Mekah tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori. Pertama, Ilmu abadi. Yaitu ilmu yang berdasarkan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang bersumber darinya.
      Kedua, Ilmu yang dicari. Yaitu  ilmu sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai sumber nilai.
     Para ahli Islam berpendapat ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya pada masa kini maupun masa depan. Filosof non-Islam berpendapat satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.
      Perbedaan ajaran Al-Quran dengan sains “versi” ilmuwan Barat, yaitu Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu melewati batas-batas di luar alam materi. Ilmuwan Barat menilai sains hanya menyangkut alam materi saja.
      Al-Quran menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen, serta menyarankan menggunakan akal dan intuisi. Instuisi merupakan daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari.
     Al-Quran surah Al-Ankabut, surah ke-29 ayat 20. “Katakan, “Berjalanlah di (muka) bumi, perhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 78. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Allah memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran menyatakan terdapat “realitas” lain yang tidak dapat dijangkau  pancaindera manusia, sehingga tidak mungkin dapat dilakukan observasi atau eksperimen. Observasi ialah peninjauan secara cermat. Eksperiman merupakan percobaan bersistem dan berencana untuk  membuktikan kebenaran suatu teori.
      Al-Quran surah Al-Haqqah, surah ke-69 ayat 38-39. “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.”
       Al-Quran menyatakan setan dan pengikutnya mampu melihat manusia dari suatu tempat, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.
      Al-Quran surah ke-7 ayat 27. “Wahai anak Adam, jangan sampai kamu ditipu setan, sebagaimana setan telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Dia melepaskan pakaiannya untuk memperlihatkan auratnya. Sesungguhnya setan dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman.”
      Wilayah ilmuwan adalah dunia empiris. Dunia empiris berarti  berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan, yang telah dilakukan.
      Tetapi terdapat “realitas lain” yang tidak diketahui para ilmwan. Karena tidak berada dalam dunia empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakan ilmu untuk menolak “dunia lain”, karena wilayah mereka hanya wilayah empiris.
      Banyak konsep abstrak yang digunakan imuwan yang tidak ada dalam dunia materi, seperti misalnya berat jenis benda, atau bentuk akar dalam matematika. Banyak hal yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapat dijangkau hakikatnya, seperti sinar atau cahaya.
      Hal ini membuktikan keterbatasan ilmu manusia. Kebanyakan manusia hanya “mengetahui” fenomena. Mereka tidak mampu “menjangkau” fenomena. Fenomena merupakan hal yang dapat disaksikan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena gejala alam. 
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke17 ayat 85. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
      Al-Quran surah Ar-Rum, surah ke-30 ayat 7. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
      Pengertian “ilmu” dalam tulisan ini terbatas pada pemahaman sempit tersebut. Dengan kata lain dalam pengertian “sains” yang meliputi pengungkapan “sunnatullah” tentang alam raya, yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.       Dengan perumusan hipotesis yang memungkinkan seseorang dapat memprediksi  peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu.
     Al-Quran menjelaskan di balik alam semesta, ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia.  Tanda wujud-Nya akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia,  sebagai bukti kebenaran Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya. Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
      Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 53. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran benar. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu?”
       Al-Quran merupakan wahyu Allah untuk menjelaskan hakikat wujud-Nya  dengan mengaitkan dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada Allah.
       Al-Quran surah ke51 ayat 56. “Aku Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
      Al-Quran selalu mengaitkan perintah Allah yang berhubungan dengan alam semesta dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Allah.
     Wahyu pertama Al-Quran yaitu “iqra” dikaitkan dengan “bismi rabbika”. Berarti “ilmu bukan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan lainnya”. Tetapi, ilmu dikaitkan dengan nama Allah.
        Ayat Al-Quran menggambarkan alam semesta dan seluruh isinya adalah “intelligible”, yaitu dapat dijangkau daya akal manusia, juga segala sesuatu yang berada di alam semesta digampangkan untuk dimanfaatkan manusia.
     Al-Quran surah Az-Zukhruf, surah ke-43 ayat 13. “Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan,”Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. “
      Al-Quran mewajibkan semua usaha pengembangan sains dan teknologi, selama membawa manfaat untuk manusia.
      Beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah perkembangan ilmu. 
      Al-Quran surah ke-51 ayat 47. Teori kosmos yang mengembang. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
   Matahari bersinar dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan pantulan dari sinar matahari.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5. “Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
     Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan perut bumi, dan  bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan.
      Al-Quran surah ke-27 ayat 88. “Kamu lihat gunung-gunung itu, kamu menyangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
      Zat hijau daun (klorofil) yang berperan mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses “fotosintesis” sehingga menghasilkan energi.
     Al-Quran surah ke-36  ayat 80. “Katakan, “Dia akan dihidupkan oleh Allah yang menciptakannya kali yang pertama. Allah Maha Mengetahui segala makhluk. Allah yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
     Manusia diciptakan dari sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet pada dinding Rahim.
      Al-Quran surah At-Tariq, surah ke-86 ayat 5-7. “Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
      Surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 2. “Allah telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
       Profesor Dr. Maurice Bucaille  dalam bukunya “Al-Quran, Bible, dan Sains Modern” menyatakan semua ayat dalam Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu  pengetahuan dan sains modern.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.