Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Saturday, October 3, 2020

5678. JANGAN SOMBONG KARENA TELAH BERBUAT BAIK

 


JANGAN SOMBONG KARENA TELAH BERBUAT BAIK

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

A.  Dilarang berbuat ria.

 

1.  Ria artinya sombong, congkak, dan bangga karena telah berbuat baik.

 

 

2.  Al-Quran surah Al-Maun (surah ke-107) ayat 4.

 

      فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

 

Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat,

 

3.  Al-Quran surah Al-Maun (surah ke-107) ayat 5.

 

      الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

 

(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,

 

4.  Al-Quran surah Al-Maun (surah ke-107) ayat 6.

 

      الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

 

orang-orang yang berbuat ria.

 

5.  Al-Quran surah Al-Maun (surah ke-107) ayat 7.

 

      وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

 

      dan enggan (menolong dengan) barang berguna.  

 

 

 

B.  Asbabun nuzul (penyebab turunnya) surah Al-Maun (suraha ke-107) ayat 4-7.

 

1.  Ibnu Abbas menjelaskan ayat ini turun berkenaan dengan sikap kaum munafik.

 

2.  Jika berada di tengah-tengah kaum muslim, maka orang munafik mengerjakan salat dengan ria.

 

3.  Tetapi jika kaum muslim tidak ada, maka orang munafik tidak mengerjakan salat.

 

 

4.  Orang munafik juga enggan memberi pinjaman kepada kaum muslim.

 

5.  Kemudian turun ayat 4-7 ini.

 

6.  Orang-orang yang lalai dalam salatnya adalah orang yang tidak menghargai serta melalaikan pelaksanaan dan waktu-waktu salat.

 

 

6.  Ria adalah melakukan perbuatan tidak untuk mencari keridaan Allah, tetapi untuk mencari pujian dan kemasyhuran dalam masyaratakat.

 

7.  Sebagian ulama berpendapat yang dimaksud dengan enggan menolong dengan barang berguna adalah enggan membayar zakat.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.  Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

2.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3.  Tafsirq.com online.

 

5677. DISARANKAN MENIKAH 1 ISTRI SAJA

 


DISARANKAN MENIKAH 1 ISTRI SAJA 

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

A.  Seorang pria dianjurkan menikah dengan 1 wanita saja untuk dijadikan istrinya.

 

 

1.  Jika khawatir tidak bisa berlaku adil, maka seorang suami cukup menikah hanya 1 wanita saja.

 

2.  Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 3.

 

      وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

 

      Dan jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) wanita yatim (bila kamu mengawininya), maka kawini wanita (lain) yang kamu senangi: 2, 3, atau 4. Tetapi jika kamu khawatir tidak bisa berlaku adil, maka (kawini) 1 orang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian adalah lebih dekat kepada tidak berbuat zalim.

 

 

B.  Asbabun nuzul (penyebab turunnya) surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 3.

 

1.  Aisyah (istri Rasulullah) berkata,”Ayat ini turun berkenaan dengan seorang pria yang menguasai anak wanita yatim, kemudian dinikahinya, dan mengadakan gabungan harta untuk berdagang dengan wanita yatim yang menjadi tanggung jawabnya.”

 

2.  Dia menguasai semua harta hasil perdagangannya, sehingga wanita tidak mendapat bagian apa pun.

 

3.  Kemudian turun ayat ini.

 

4.  Berlaku adil artinya perlakuan yang adil dalam memenuhi kebutuhan istri, seperti pakaian, tempat, giliran, dan lainnya yang bersifat lahiriah.

 

5.  Islam membolehkan poligami dengan syarat tertentu.

 

6.  Sebelum ayat ini turun poligami sudah banyak terjadi.

 

7.  Para nabi sebelum Nabi Muhammad juga menjalankan poligami.

 

8.  Ayat ini membatasi poligami sampai 4 istri dengan syarat tertentu.

 

9.  Hamba sahaya dan perbudakan dalam pengertian ini, sekarang sudah tidak ada.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.  Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

2.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3.  Tafsirq.com online.

5676. HUKUM AIR MANI MANUSIA 4 MAZHAB

 


HUKUM AIR MANI MANUSIA 4 MAZHAB

Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

A.      Hukum air mani manusia menurut 4 mazhab.

 

 

1.  Mazhab Hanafi: Air mani manusia adalah najis.

 

2.  Mazhab Maliki: Air mani manusia adalah suci.

 

3.  Mazhab Syafii: Air mani manusia adalah suci.

 

4.  Mazhab Hambali: Air mani manusia adalah suci.

 

 

 

 

Daftar Pustaka.

1.  Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007.

2.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.  Tafsirq.com online.

 

5675. HUKUM MENYAMAKAN ISTRI DENGAN IBU DIHAPUS

 


 

HUKUM MENYAMAKAN ISTRI DENGAN IBU DIHAPUS

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

A.  Hukum zihar istri dihapus oleh Allah.

 

1.  Zihar adalah menyamakan istrinya dengan ibu kandungnya.

2.  Zihar adalah perkataan suami yang menyamakan sebagian anggota tubuh isterinya dengan tubuh ibu kandungnya.

 

3.  Suami menzihar istrinya, dengan maksud dia tak boleh lagi menggauli istrinya, seperti anak yang tidak boleh menggauli ibunya.

 

 

4.  Menurut adat jahiliah, kalimat zihar seperti itu sama dengan menceraikan istrinya.

 

 

5.  Al-Quran surah Al-Mujadilah (surah ke-58) ayat 1.

     قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

 

     Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

 

 

B.  Asbabun-nuzul (penyebab turunnya) surah Al-Mujadilah (surah ke-58) ayat 1.

 

1.  Aisyah (istri Rasulullah) menjelaskan ayat ini turun berkenaan dengan seorang wanita yang mengadukan suaminya kepada Rasulullah.

 

2.  Khaulah binti Tsa’labah mengadukan sikap suaminya kepada Rasulullah.

 

 

3.  Kemudian turun ayat 1 ini.

 

6.  Khaulah binti Tsa’labah mengadukan sikap suaminya (Aus bin Tsamit) kepada Rasulullah.

 

7.  Aus bin Tsamit telah menzihar istrinya (Khaulah binti Tsa’labah).

 

 

8.  Aus bin Tsamit berkata kepada istrinya,”Kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku.”

 

9.  Zihar adalah menyamakan istrinya dengan ibu kandungnya.

 

 

10.      Zihar adalah perkataan suami yang menyamakan sebagian anggota tubuh isterinya dengan tubuh ibu kandungnya.

 

11.      Suami menzihar istrinya, dengan maksud dia tak boleh lagi menggauli istrinya, seperti anak yang tidak boleh menggauli ibunya.

 

 

12.      Menurut adat jahiliah, kalimat zihar seperti itu sama dengan menceraikan istrinya.

 

13.      Khaulah mengadu kepada Rasulullah.

 

 

14.      Rasulullah bersabda,”Tunggu dahulu, belum ada keputusan dari Allah.”

 

15.      Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda,”Kamu telah diiharamkan bergaul dengan suamimu.”

 

 

16.      Khaulah binti Tsa’labah berkata,”Suamiku belum mengucapkan kata talak.”

 

17.      Khaulah berulang-ulang mendesak Rasulullah untuk memutuskan kasusnya.”

 

 

18.      Kemudian turun ayat 1 ini.

 

19.      Akhirnya, hukum adat zihar jahiliah dibatalkan dan dihapuskan.

 

 

20.      Aus bin Tsamit dan Khaulah binti Tsa’labah menjadi suami istri lagi.

 

 

C. Keterangan.

 

1.  Zihar adalah menyamakan istrinya dengan ibu kandungnya.

 

2.  Zihar adalah perkataan suami yang menyamakan sebagian anggota tubuh isterinya dengan tubuh ibu kandungnya.

 

 

Daftar Pustaka

1.  Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

2.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3.  Tafsirq.com online.