HALAL HARAM PAKAI DALIL BUKAN KATANYA
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM
Kenapa hukum halal dan haram
Wajib punya dalil?
Jawaban.
1)
Menentukan halal–haram adalah hak
Allah, bukan hak manusia
2)
Dilarang berkata halal–haram tanpa
ilmu
3)
Mengharamkan yang halal itu dosa
4)
Standar halal–haram: wahyu, bukan
tokoh
5)
Yang halal dan haram sudah diterangkan
dengan jelas
Penjelasan.
A.
Menentukan halal haram adalah hak
Allah, bukan hak manusia
1)
Al-Qur’an tegaskan.
2)
Yang berhak menetapkan hukum hanya
Allah:
3)
“Menetapkan hukum hanya hak Allah.”
QS. Yusuf (12:40)
مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا
أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ
سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا
إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا
يَعْلَمُونَ
Kamu tidak menyembah selain
Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu
membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama
itu. Keputusan hanya kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak
menyembah selain Dia. Itu agama yang lurus, tapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui".
4)
Artinya:
5)
Tak boleh mengharamkan atau
menghalalkan sesuatu.
6)
Hanya berdasar pendapat pribadi,
tradisi, atau tokoh.
7)
Tanpa dalil wahyu.
B.
Dilarang berkata halal–haram tanpa
ilmu
1)
Allah keras melarang.
2)
Asal bicara hukum agama:
3)
“Jangan kamu mengatakan dusta yang
keluar dari mulutmu: ‘Ini halal dan ini haram’, untuk berbohong pada Allah.”
QS. An-Nahl (16:116)
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ
أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى
اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا
يُفْلِحُونَ
Dan jangan kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut
oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk
mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang
mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung.
4)
Pesannya jelas:
5)
Dilarang ikut halal dan haram
6)
Berdasar “katanya ustaz”, “kata
leluhur”, atau “menurut kebiasaan” .
7)
Harus berdasar dalil.
C.
Mengharamkan yang halal itu dosa
1)
Dilarang berlebihan mengharamkan:
2)
“Wahai orang-orang beriman, jangan
kamu mengharamkan yang baik-baik yang Allah halalkan bagimu.”
QS. Al-Mā’idah (5:87)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Hai orang-orang beriman,
jangan kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan
jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang melampaui
batas.
3)
Terlalu mudah mengharamkan itu melewati
batas
4)
Agama bukan dipersulit
D.
Standar halal–haram: wahyu, bukan
tokoh
1)
Al-Qur’an kritik umat terdahulu .
2)
Yang ikuti tokoh
3)
Tapi tanpa dalil:
4)
“Mereka menjadikan para ulama dan
rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”
QS. At-Taubah (9:31)
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ
سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka menjadikan
orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga
mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh
menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.
Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
5)
Maksudnya tak menyembah.
6)
Tapi:
7)
Taat penetapan halal–haram mereka.
8)
Meskipun bertentangan dengan wahyu
E.
Yang halal dan haram sudah dijelaskan
dengan jelas
1)
Allah tegaskan.
2)
Hukum pokok itu jelas.
3)
Hukuim pokok tak samar:
4)
“Dia telah menjelaskan kepadamu apa
yang Dia haramkan atasmu.”
(QS. Al-An‘ām (6:119)
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي
الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti
kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Allah. Mereka tidak lain hanya ikut persangkaan belaka, dan mereka tidak lain
hanya berdusta (pada Allah).
5)
Artinya:
6)
Hal yang jelas dalilnya
7)
Maka diikuti
8)
Hal yang tidak ada dalil.
9)
Tak dipaksakan haram
KESIMPULAN
1)
Halal–haram harus ada dalil dari
Al-Qur’an dan Sunah
2)
Tidak sah.
3)
Jika hanya karena:
a.
Katanya tokoh
b.
Tradisi turun-temurun
c.
Perasaan pribadi
d.
Mayoritas orang
4)
Beragama itu taat kepada dalil.
5)
Bukan taat pada “katanya”.
VERSI SISWA
HUKUM HALAL–HARAM HARUS ADA DALIL
1.
Yang menentukan halal–haram hanya
Allah
1)
Dalam Islam.
2)
Yang boleh menentukan halal dan haram.
3)
Bukan manusia.
4)
Tapi Allah.
5)
“Menetapkan hukum hanya hak Allah.”
(QS. Yusuf: 40)
6)
Manusia tidak boleh asal menentukan
sesuatu halal atau haram.
2.
Tak boleh bilang halal–haram tanpa
dasar
1)
Allah melarang sebut halal atau haram.
2)
Jika tanpa ilmu.
3)
“Jangan kamu katakan: ini halal dan
ini haram, padahal dusta atas nama Allah.”
(QS. An-Nahl: 116)
4)
Tak cukup hanya katanya:
a.
Katanya ustaz
b.
Katanya orang tua
c.
Katanya kebiasaan
d.
Harus ada dalil.
3.
Mengharamkan yang halal itu salah
1)
Islam tak mempersulit.
2)
“Jangan kamu mengharamkan yang
baik-baik yang telah Allah halalkan.”
(QS. Al-Mā’idah: 87)
3)
Jika Allah halalkan.
4)
Maka manusia tak boleh haramkan.
4.
Mengikuti tokoh tanpa dalil itu
berbahaya
1)
Al-Qur’an ingatkan.
2)
Agar tak ikut-ikutan tokoh.
3)
Jika tak sesuai wahyu.
4)
“Mereka menjadikan ulama dan rahib
sebagai tuhan selain Allah.”
(QS. At-Taubah: 31)
5)
Maksudnya:
6)
Mengikuti ucapan tokoh .
7)
Soal halal–haram
8)
Tapi tanpa dalil.
5.
Dalil itu pedoman utama
1)
Allah jelaskan mana halal dan haram.
2)
“Allah telah menjelaskan apa yang Dia
haramkan atas kamu.”
(QS. Al-An‘ām: 119)
3)
Jadi:
4)
Ada dalil → diikuti
5)
Tidak ada dalil → jangan dipaksakan
KESIMPULAN SISWA)
1)
Halal–haram harus berdasar Al-Qur’an
dan Sunah
2)
Tidak boleh berdasar:
a.
Perasaan
b.
Tradisi
c.
Kata orang
3)
Islam pakai dalil.
4)
Bukan pakai katanya.
1)
Tafsir Quran Perkata DR M Hatta.
2)
ChatGPT.
3)
Copilot.
4)
Cici.
5)
Claude.
6)
Grok.
7)
Meta AI



.bmp)