Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, July 30, 2017

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

154. TEORI

TAFSIR AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan antara Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan? Profesor Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara   Tafsir Al-Quran dengan Ilmu Pengetahuan.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tertentu.
      Sebagian ulama berpendapat masalah “syariat”, yaitu Al-Quran dan hadis harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada zaman turunnya.
      Hal Ini mengakibatkan pembatasan dalam memahami teks ayat Al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya Al-Quran yang masih terbelakang dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
     Pembatasan seperti itu sulit diterima, karena Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia di mana saja dan kapan saja. 
      Mustahil bisa menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama.  Al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Oleh karena itu, gagasan teks ayat Al-Quran harus dipahami berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada zaman Nabi sulit diterima.
      Perbedaan pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Kontemporer ialah bermakna pada masa kini atau dewasa ini. Teori ilmiah adalah pendapat berdasarkan penelitian dan penemuan ilmiah.
       Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bumi bulat, maka mufasir akan memahami dan menafsirkan firman Allah dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 19.  “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.”
       Kata “hamparan” tidak bertentangan dengan bumi bulat, karena bumi “terhampar” bisa disaksikan manusia ketika melangkahkan kakinya, dan redaksi ayat tersebut  bukan “Allah menciptakan”,  tetapi  “Allah menjadikan untuk kamu” sebagai hamparan.
      Para ahli  sudah bisa mendeteksi jenis kelamin janin bayi dalam perut ibunya,  pemahaman terhadap ayat Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 8.
     “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
      Pemahaman kata “apa”, yang tadinya bermakna sebagai “jenis kelamin bayi” menjadi lebih umum dari sekadar jenis kelamin. Sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya.
      Kata “apa” dalam istilah Al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Dan kalimat “Allah mengetahui”,  bukan berarti “hanya Allah saja yang mengetahui”, apabila yang dimaksud dengan “apa” adalah jenis kelamin janin.
      Pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa ditempuh, apabila ayat Al-Quran harus dipahami seperti zaman Nabi. 
      Pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat Al-Quran, harus dibatasi. Karena bisa mengakibatkan mengulang kesalahan zaman dahulu. Ketika penafsiran Kitab Suci (Kristen) terbukti bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sejati. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

153. NALAR

METODE PENALARAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Metode Penalaran Tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan Metode Penalaran  Tafsir Al-Quran.
      Metode ialah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Metodologi Tafsir Al-Quran ialah uraian tentang metode dalam penafsiran Al-Quran.
     Metode Penalaran Tafsir Al-Quran merupakan suatu metode yang menafsirkan ayat Al-Quran dengan mengandalkan nalar. Nalar atau akal budi adalah berpikir logis untuk mempertimbangan sesuatu baik atau buruk
         Para ulama menjelaskan dua metode penalaran tafsir Al-Quran yang paling populer yaitu “Metode Tahliliy” dan “Metode Mawdhuiy”.
      Pertama, Metode Tafsir “Tahliliy”. Yaitu metode tafsir yang mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat Al-Quran dari aneka sudut dengan memperhatikan runtutan ayat Al-Quran seperti tercantum dalam urutan mushaf.
      Seorang mufasir menguraikan arti kosakata, “asbabun nuzul”, munasabah, dan lainnya yang berkaitan dengan teks atau kandungan ayat Al-Quran.
     Metode ini sangat luas, namun tidak menyelesaikan suatu pokok bahasan. Sering kali suatu pokok bahasan dalam ayat Al-Quran diuraikan kelanjutannya pada ayat lain.
     Para ulama menganggap metode ini digunakan sebagai upaya meletakkan dasar rasional bagi pemahaman kemukjizatan Al-Quran. Mukjizat Al-Quran ditujukan kepada orang yang tidak percaya kepada Al-Quran.
      Hal ini dapat dibuktikan dengan rumusan definisi mukjizat yang berisi “tantangan” kepada orang yang tidak mempercayai Al-Quran. Teks ayat Al-Quran yang berbicara tentang keluarbiasaan Al-Quran yang selalu dimulai dengan kalimat “Inkuntum fi raib” atau “Inkuntum shadiqin”.
     Al-Quran menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan. Al-Quran surah Ath-Thur, surah ke-52 ayat 32-34.
      “Apakah mereka diperintah pikiran untuk mengucapkan tuduhan atau mereka kaum yang melampaui batas? Atau mereka mengatakan,”Muhammad membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran, jika mereka orang-orang yang benar.”
     Al-Quran menantang menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran. Al-Quran surah Hud, surah ke-11 ayat 13.
      “Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat Al-Quran. Katakan,”Kalau demikian, maka datangkan sepuluh surat yang dibuat untuk menyamainya, dan panggil orang yang kamu sanggup, selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar”.   
      Al-Quran menantang menyusun satu surah saja semacam Al-Quran. Al-Quran surah , surah ke-10 ayat 38.
      “Atau patutkah mereka mengatakan, “Muhammad membuatnya.” Katakan, “Kalau benar yang kamu katakan itu, maka coba datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggil siapa saja yang dapat kamu panggil untuk membuatnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
      Al-Quran menantang untuk menyusun sesuatu yang mirip dengan satu surah Al-Quran. Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 23.
     “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
       Al-Quran surah Al-Ira’, surah ke-17 ayat 88. “Katakan,”Sesungguhnya apabila manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran, niscaya mereka tidak dapat membuat yang serupa, meskipun mereka saling membantu”.
         Kelemahan Metode Tafsir Tahliliy. Kalau tujuan penggunaan Metode Tahliliy untuk meletakkan dasar rasional bagi pemahaman kemukjizatan Al-Quran. Sekarang ini, masalah tersebut bukan persoalan mendesak.
    Para ulama berpendapat metode ini menghasilkan pandangan parsial dan  kontradiktif dalam kehidupan umat Islam. Kadang kala para penafsir menggunakan metode ini hanya berusaha menemukan dalil atau lebih tepat “dalih pembenaran” pendapatnya dengan ayat Al-Quran.
    Metode ini tidak mampu memberikan jawaban tuntas terhadap masalah yang dihadapi dan tidak banyak memberikan pagar metodologis yang dapat mengurangi subjektivitas mufasirnya.
       Kelemahan lain yang dirasakan dalam Metode Tafsir Tahliliy, tetapi masih dicari penyebabnya, bahasan tafsirnya dirasakan “mengikat” generasi berikut.
      Hal ini mungkin karena sifat penafsirannya amat teoretis, tidak sepenuhnya mengacu penafsiran masalah khusus yang dialami masyarakat. Sehingga uraian yang bersifat teoretis dan umum bisa mengesankan pandangan Al-Quran untuk setiap waktu dan tempat.
      Kedua, Metode Tafsir “Mawdhuiy”. Yaitu metode yang mengharuskan penafsir untuk berupaya menghimpun ayat Al-Quran dari berbagai surah yang berkaitan dengan suatu topik tertentu. 
     Kemudian, penafsir membahas dan menganalisis kandungan ayat Al-Quran tersebut, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

153. NALAR

METODE PENALARAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Metode Penalaran Tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan Metode Penalaran  Tafsir Al-Quran.
      Metode ialah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Metodologi Tafsir Al-Quran ialah uraian tentang metode dalam penafsiran Al-Quran.
     Metode Penalaran Tafsir Al-Quran merupakan suatu metode yang menafsirkan ayat Al-Quran dengan mengandalkan nalar. Nalar atau akal budi adalah berpikir logis untuk mempertimbangan sesuatu baik atau buruk
         Para ulama menjelaskan dua metode penalaran tafsir Al-Quran yang paling populer yaitu “Metode Tahliliy” dan “Metode Mawdhuiy”.
      Pertama, Metode Tafsir “Tahliliy”. Yaitu metode tafsir yang mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat Al-Quran dari aneka sudut dengan memperhatikan runtutan ayat Al-Quran seperti tercantum dalam urutan mushaf.
      Seorang mufasir menguraikan arti kosakata, “asbabun nuzul”, munasabah, dan lainnya yang berkaitan dengan teks atau kandungan ayat Al-Quran.
     Metode ini sangat luas, namun tidak menyelesaikan suatu pokok bahasan. Sering kali suatu pokok bahasan dalam ayat Al-Quran diuraikan kelanjutannya pada ayat lain.
     Para ulama menganggap metode ini digunakan sebagai upaya meletakkan dasar rasional bagi pemahaman kemukjizatan Al-Quran. Mukjizat Al-Quran ditujukan kepada orang yang tidak percaya kepada Al-Quran.
      Hal ini dapat dibuktikan dengan rumusan definisi mukjizat yang berisi “tantangan” kepada orang yang tidak mempercayai Al-Quran. Teks ayat Al-Quran yang berbicara tentang keluarbiasaan Al-Quran yang selalu dimulai dengan kalimat “Inkuntum fi raib” atau “Inkuntum shadiqin”.
     Al-Quran menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan. Al-Quran surah Ath-Thur, surah ke-52 ayat 32-34.
      “Apakah mereka diperintah pikiran untuk mengucapkan tuduhan atau mereka kaum yang melampaui batas? Atau mereka mengatakan,”Muhammad membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran, jika mereka orang-orang yang benar.”
     Al-Quran menantang menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran. Al-Quran surah Hud, surah ke-11 ayat 13.
      “Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat Al-Quran. Katakan,”Kalau demikian, maka datangkan sepuluh surat yang dibuat untuk menyamainya, dan panggil orang yang kamu sanggup, selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar”.   
      Al-Quran menantang menyusun satu surah saja semacam Al-Quran. Al-Quran surah , surah ke-10 ayat 38.
      “Atau patutkah mereka mengatakan, “Muhammad membuatnya.” Katakan, “Kalau benar yang kamu katakan itu, maka coba datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggil siapa saja yang dapat kamu panggil untuk membuatnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
      Al-Quran menantang untuk menyusun sesuatu yang mirip dengan satu surah Al-Quran. Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 23.
     “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
       Al-Quran surah Al-Ira’, surah ke-17 ayat 88. “Katakan,”Sesungguhnya apabila manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran, niscaya mereka tidak dapat membuat yang serupa, meskipun mereka saling membantu”.
         Kelemahan Metode Tafsir Tahliliy. Kalau tujuan penggunaan Metode Tahliliy untuk meletakkan dasar rasional bagi pemahaman kemukjizatan Al-Quran. Sekarang ini, masalah tersebut bukan persoalan mendesak.
    Para ulama berpendapat metode ini menghasilkan pandangan parsial dan  kontradiktif dalam kehidupan umat Islam. Kadang kala para penafsir menggunakan metode ini hanya berusaha menemukan dalil atau lebih tepat “dalih pembenaran” pendapatnya dengan ayat Al-Quran.
    Metode ini tidak mampu memberikan jawaban tuntas terhadap masalah yang dihadapi dan tidak banyak memberikan pagar metodologis yang dapat mengurangi subjektivitas mufasirnya.
       Kelemahan lain yang dirasakan dalam Metode Tafsir Tahliliy, tetapi masih dicari penyebabnya, bahasan tafsirnya dirasakan “mengikat” generasi berikut.
      Hal ini mungkin karena sifat penafsirannya amat teoretis, tidak sepenuhnya mengacu penafsiran masalah khusus yang dialami masyarakat. Sehingga uraian yang bersifat teoretis dan umum bisa mengesankan pandangan Al-Quran untuk setiap waktu dan tempat.
      Kedua, Metode Tafsir “Mawdhuiy”. Yaitu metode yang mengharuskan penafsir untuk berupaya menghimpun ayat Al-Quran dari berbagai surah yang berkaitan dengan suatu topik tertentu. 
     Kemudian, penafsir membahas dan menganalisis kandungan ayat Al-Quran tersebut, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

153. NALAR

METODE PENALARAN TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Metode Penalaran Tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskan Metode Penalaran  Tafsir Al-Quran.
      Metode ialah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki.
      Tafsir merupakan keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Metodologi Tafsir Al-Quran ialah uraian tentang metode dalam penafsiran Al-Quran.
     Metode Penalaran Tafsir Al-Quran merupakan suatu metode yang menafsirkan ayat Al-Quran dengan mengandalkan nalar. Nalar atau akal budi adalah berpikir logis untuk mempertimbangan sesuatu baik atau buruk
         Para ulama menjelaskan dua metode penalaran tafsir Al-Quran yang paling populer yaitu “Metode Tahliliy” dan “Metode Mawdhuiy”.
      Pertama, Metode Tafsir “Tahliliy”. Yaitu metode tafsir yang mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat Al-Quran dari aneka sudut dengan memperhatikan runtutan ayat Al-Quran seperti tercantum dalam urutan mushaf.
      Seorang mufasir menguraikan arti kosakata, “asbabun nuzul”, munasabah, dan lainnya yang berkaitan dengan teks atau kandungan ayat Al-Quran.
     Metode ini sangat luas, namun tidak menyelesaikan suatu pokok bahasan. Sering kali suatu pokok bahasan dalam ayat Al-Quran diuraikan kelanjutannya pada ayat lain.
     Para ulama menganggap metode ini digunakan sebagai upaya meletakkan dasar rasional bagi pemahaman kemukjizatan Al-Quran. Mukjizat Al-Quran ditujukan kepada orang yang tidak percaya kepada Al-Quran.
      Hal ini dapat dibuktikan dengan rumusan definisi mukjizat yang berisi “tantangan” kepada orang yang tidak mempercayai Al-Quran. Teks ayat Al-Quran yang berbicara tentang keluarbiasaan Al-Quran yang selalu dimulai dengan kalimat “Inkuntum fi raib” atau “Inkuntum shadiqin”.
     Al-Quran menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan. Al-Quran surah Ath-Thur, surah ke-52 ayat 32-34.
      “Apakah mereka diperintah pikiran untuk mengucapkan tuduhan atau mereka kaum yang melampaui batas? Atau mereka mengatakan,”Muhammad membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran, jika mereka orang-orang yang benar.”
     Al-Quran menantang menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran. Al-Quran surah Hud, surah ke-11 ayat 13.
      “Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat Al-Quran. Katakan,”Kalau demikian, maka datangkan sepuluh surat yang dibuat untuk menyamainya, dan panggil orang yang kamu sanggup, selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar”.   
      Al-Quran menantang menyusun satu surah saja semacam Al-Quran. Al-Quran surah , surah ke-10 ayat 38.
      “Atau patutkah mereka mengatakan, “Muhammad membuatnya.” Katakan, “Kalau benar yang kamu katakan itu, maka coba datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggil siapa saja yang dapat kamu panggil untuk membuatnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
      Al-Quran menantang untuk menyusun sesuatu yang mirip dengan satu surah Al-Quran. Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 23.
     “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
       Al-Quran surah Al-Ira’, surah ke-17 ayat 88. “Katakan,”Sesungguhnya apabila manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran, niscaya mereka tidak dapat membuat yang serupa, meskipun mereka saling membantu”.
         Kelemahan Metode Tafsir Tahliliy. Kalau tujuan penggunaan Metode Tahliliy untuk meletakkan dasar rasional bagi pemahaman kemukjizatan Al-Quran. Sekarang ini, masalah tersebut bukan persoalan mendesak.
    Para ulama berpendapat metode ini menghasilkan pandangan parsial dan  kontradiktif dalam kehidupan umat Islam. Kadang kala para penafsir menggunakan metode ini hanya berusaha menemukan dalil atau lebih tepat “dalih pembenaran” pendapatnya dengan ayat Al-Quran.
    Metode ini tidak mampu memberikan jawaban tuntas terhadap masalah yang dihadapi dan tidak banyak memberikan pagar metodologis yang dapat mengurangi subjektivitas mufasirnya.
       Kelemahan lain yang dirasakan dalam Metode Tafsir Tahliliy, tetapi masih dicari penyebabnya, bahasan tafsirnya dirasakan “mengikat” generasi berikut.
      Hal ini mungkin karena sifat penafsirannya amat teoretis, tidak sepenuhnya mengacu penafsiran masalah khusus yang dialami masyarakat. Sehingga uraian yang bersifat teoretis dan umum bisa mengesankan pandangan Al-Quran untuk setiap waktu dan tempat.
      Kedua, Metode Tafsir “Mawdhuiy”. Yaitu metode yang mengharuskan penafsir untuk berupaya menghimpun ayat Al-Quran dari berbagai surah yang berkaitan dengan suatu topik tertentu. 
     Kemudian, penafsir membahas dan menganalisis kandungan ayat Al-Quran tersebut, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.