Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, February 15, 2021

8645. SEMUA ULAMA SEPAKAT RIBA HUKUMNYA HARAM

 


SEMUA ULAMA SEPAKAT RIBA HUKUMNYA HARAM

Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

 

 

 

SEMUA ULAMA SEPAKAT RIBA HUMUNYA HARAM

 

 

 

Semua ulama sepakat bahwa riba adalah hukumnya haram berdasar ayat Al-Quran dan  ijmak seluruh ulama Islam.

 

 

 

 

 

Semua mazhab atau aliran dalam Islam sepakat bahwa riba adalah hukumnya haram.

 

 

Ijmak adalah kesesuaian pendapat atau kata sepakat para ulama tentang suatu hal.

 

 

 

 

Para ulama sejak zaman dahulu hingga sekarang, ketika membahas masalah riba, tidak melihat esensi riba guna sekadar mengetahuinya.

 

 

 

Tetapi para ulama melihat dan membahas beberapa praktik transaksi ekonomi yang terjadi.

 

 

 

 

Para ulama ingin mengetahui dan menetapkan praktik ekonomi yang berlaku.

 

 

 

 

”Apakah dalam praktiknya sama dengan riba yang diharamkan, sehingga akan menjadi haram, atau tidak sama?”

 

 

 

 

 

Perbedaan pendapat dalam penerapan pengertian pada praktik transaksi ekonomi telah berlangsung sejak masa para sahabat.

 

 

 

Dan diperkirakan akan terus berlangsung selama masih terus muncul bentuk baru dalam transaksi ekonomi.

 

 

 

Perbedaan pendapat para sahabat disebabkan wahyu tentang riba turun kepada Rasulullah Muhammad mendekati beliau wafat.

 

 

 

 

Bahkan ada riwayat ayat tentang riba turun 9 hari sebelum Rasulullah  wafat.

 

 

 

 

 

Umar bin Khaththab berkata,

 

 

 

 “Sesungguhnya ayat tentang riba termasuk dalam bagian akhir Al-Quran yang turun, sebelum Rasulullah menjelaskannya.

 

 

 

 

 

Sebaiknya tinggalkan saja sesuatu yang meragukanmu.

 

 

 

Dan pilih sesuatu yang tidak meragukanmu.”

 

 

 

 

Umar bin Khattab berkata,

 

 

 

 

”Karena khawatir terjerumus ke dalam riba yang diharamkan.

 

 

 

Maka para sahabat meninggalkan 90 persen yang halal.”

 

 

 

 

Sejarah menjelaskan bahwa Thaif, tempat pemukiman suku Tsaqif.

 

 

 

Yang terletak sekitar 100 km sebelah tenggara Mekah adalah daerah subur dan menjadi salah satu pusat perdagangan.

 

 

 

Terutama suku Quraisy yang bermukim di Mekah.

 

 

 

 

Di Thaif bermukim orang Yahudi yang telah mengenal praktik riba.

 

 

 

Sehingga keberadaan mereka menyuburkan praktik riba.

 

 

 

Suku Quraisy tinggal di Mekah juga terkenal dengan aktivitas perdagangan.

 

 

 

Al-Quran surah Quraisy (surah ke-106) ayat 1-4.

 

 

 

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ

   إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

 

 

 

 

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

 

 

 

 

 

Orang Quraisy biasa mengadakan perjalanan berdagang ke luar negeri.

 

 

 

Yaitu ke Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin.

 

 

 

 

Selama perjalanan mereka mendapat jaminan keamanan dari para penguasa dari negeri yang dilaluinya.

 

 

 

 

Hal ini adalah suatu nikmat yang amat besar dari Allah.

 

 

 

 

Sehingga wajar mereka menyembah Allah yang telah memberikan nikmat kepada mereka.

 

 

 

 

 

Di lokasi perdagangan orang Quraisy mengenal praktik riba.

 

 

 

 

Terbukti sebagian dari tokoh para sahabat Rasulullah, seperti Abbas bin Abdul Muththalib (paman Rasulullah), Khalid bin Walid, dan lainnya.

 

 

 

Mereka mempraktikkannya sampai dengan turunnya larangan.

 

 

Pada zaman itu, kaum musyrik heran terhadap larangan riba.

 

 

 

 

Mereka mengganggap praktik riba sama dengan jual beli.

 

 

 

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 275.

 

 

 

 

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

     

 

 

 

Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

 

 

 

 

 

 

Dalam penjelasan ayat diterangkan riba ada 2 macam:

 

 

 

1) Riba nasiah.

2) Riba fadhl.

 

 

RIBA NASIAH

 

 

Riba nasiah adalah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.

 

 

 

RIBA FADHL

 

 

Riba fadhl adalah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis.

 

 

 

Tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian.

 

 

 

Seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

Riba yang dimaksud dalam ayat ini adalah “riba nasiah”.

 

 

 

Yaitu berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliah.

 

 

 

 

Yang dimaksudkan penyakit gila adalah orang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti  kemasukan setan.

 

 

 

 

Dan riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

 

 

 

 

Pada zaman itu, mereka beranggapan kelebihan yang diperoleh dari modal yang dipinjamkan sama dengan keuntungan.

 

 

 

 

Yaitu kelebihan yang diperoleh dari hasil perdagangan. 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

1.      Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.      Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

3.      Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

4.      Tafsirq.com online.

8644. HUKUM WAJIB DISAMPAIKAN APA ADANYA

 


HUKUM WAJIB DISAMPAIKAN APA ADANYA

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

 

 

 

Umat Islam diharapkan dapat membedakan antara hukum dengan sikap hukum.

 

 

 

 

Hukum adalah aturan yang sesuai dengan tuntunan aslinya.

 

 

 

Hukum harus disampaikan sesuai dengan aslinya.

 

 

 

Dan tidak boleh hanya disesuaikan dengan selera dirinya sendiri/golongannya saja.

 

 

 

 

Sikap hukum adalah pilihan orang dari berbagai pilihan hukum yang ada.

 

 

 

Misalnya, tentang gerakan anggota tubuh umat Islam dalam salat dari posisi iktidal ke posisi sujud .

 

 

 

 

Ada 2 macam hukum yang disampaikan oleh para ulama tentang gerakan salat dari posisi iktidal ke posisi sujud.

 

 

 

1)    Pendapat ke-1:

 

Dengan meletakkan kedua lutut ke lantai terlebih dahulu, baru diikuti meletakkan kedua telapak tangan ke lantai.

 

 

 

2)   Pendapat ke-2:

 

 

Dengan meletakkan kedua telapak tangan ke lantai terlebih dahulu, baru diikuti meletakkan kedua lutut ke lantai.

 

 

 

 

Hukum ke-1:

 

 

Meletakkan kedua lutut ke lantai terlebih dahulu, lalu diikuti meletakkan kedua telapak tangan ke lantai.

 

 

 

 Hukum ke-2:

 

 

 

Meletakkan kedua telapak tangan ke lantai terlebih dahulu, lalu diikuti meletakkan kedua lutut ke lantai.

 

 

 

 

 

Sikap hukum adalah memilih salah 1 dari 2 cara itu.

 

 

 

 

Sikap memilih 1 model dari 2 model itu disebut sikap hukum.

 

 

 

Sikap memilih salah 1 dari 2 model itu benar, karena keduanya benar.

 

 

 

Orang memilih hukum ke-1 tidak boleh mengharamkan orang lain yang memilih hukum ke-2, dan sebaliknya.

 

 

 

 

Misalnya: Hukum musik.

 

 

 

Musik adalah segala suara yang menghasilkan irama.

 

 

 

 

Musik dibagi 2 kelompok.

 

1.         Musik tidak pakai alat.

2.       Musik pakai alat.

 

 

 

 

Syair termasuk musik tidak pakai alat dan hanya berupa suara manusia saja.

 

 

 

 

Para ulama berpendapat hukum syair (berupa suara) terbagi 2 golongan :

 

 

 

 

1.   Syair hukumnya halal.

 

 

Jika syairnya berisi kebaikan dan mengajak orang berbuat amal kebaikan.

 

 

 

Syair hukumnya haram.

 

 

Jika syairnya berisi kejelekan dan mengajak berbuat negatif.

 

 

 

 

Para ulama membagi musik pakai alat 2 kelompok:

 

 

1.     Musik tanpa nada.

 

 

Misalnya: rebana, jidor, kentongan, drum dan sejenisnya.

 

 

 

2.  Musik dengan nada.

 

 

Misalnya: gitar, organ, piano, biola, dan semacamnya.

 

 

 

 

Sebagian ulama berpendapat semua alat musik hukumnya mubah (diperbolehkan).

 

 

 

 

 Sebagian ulama berpendapat semua alat musik yang mempunyai nada.

 

 

 

Misalnya: gitar, organ, piano, biola, dan sejenisnya hukumnya makruh.

 

 

 

 

 

Para ulama berpendapat semua alat manusia, hukum aslinya mubah (netral) tergantung penggunaannya.

 

 

 

 

Misalnya: pisau, panah, senjata, dan termasuk alat musik.

 

 

 

 

Al-Quran Asy-Syuara (surah ke-26) ayat 224.

 

 

 

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ

      أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ

وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

 

      

 

 

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

1.                     Youtube Ustad Adi Hidayat, Lc. MA

2.                   Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.                   Tafsirq.com online