JANGAN ADU DOMBA KOTAK
AMAL DENGAN
POLISI
Oleh:
Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
ADU DOMBA KOTAK AMAL
Kita
jangan ikut-ikut merusak lembaga Kepolisian dengan memfitnah dan kriminalisasi
Kotak Amal.
Mengadu
domba polisi dengan kotak Amal berbahaya sekali.
Masjid
di Republik ini tidak pernah menjadi basis teroris.
Teroris
mengebom masjid dan teroris bukan Islam.
Orang-orang
yang “menisbatkan” Islam dengan terorisme akan menanggung 2 dosa sekaligus:
1. Dosa
kepada pemilik Islam yaitu Allah SWT.
2. Dosa
kepada Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ia
bisa lolos dari yang kedua karena sedang berkuasa.
Tapi
tidak dari yang pertama.
Menciptakan
ketegangan permanen antara Islam dengan negara memang kejahatan lama yang
kambuhan dalam negara Pancasila kita.
Awal
penyakit ini muncul karena sila Ketuhanan Yang Maha Esa terletak pada sila
pertama.
Mereka
masih tidak terima.
Sampai
sekarang!
Padahal
sering saya katakan, Pancasila kita adalah ide lebih kompleks dari ide sekuler
dan juga ide negara agama.
Justru
karena ia adalah jalan tengah.
Di
dalamnya ide Agama dan Negara berdampingan.
Apa
yang gagal dihamoniskan oleh negara lain, kita satukan indah.
Justru
karena rumitnya ide Pancasila maka diperlukan
kecerdasan ekstra memahaminya.
Tapi Presiden Soekarno dan kawan-kawan
dikelabui oleh PKI.
Presiden
Soeharto belok menjadi terpimpin dan otoriter.
Para
pemimpin transisi kita tampak gamang dan sampai hari ini.
Oleng!
Saat
BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) dibuat dan dipimpin oleh pak Yudi
Latif, saya bayangkan sosok intelektual yang akan menjadi Jubir narasi rumit
Pancasila kita.
Tapi
tak lama beliau mundur.
Dugaan
saya, karena BPIP niatnya bukan memperkaya tapi mempersempit.
Belakangan,
saya mendengar Ketua BPIP yang baru bilang,
“....dalam
bernegara, geser kitab suci ke konstitusi..”.
Kalimat
ini menjelaskan kegagalan mengharmoni makna Pancasila kita dalam agama dan
negara.
Dalam
Pancasila, agama dan negara bukan pilihan tapi keduanya.
Memang,
Pancasila juga akan gagal diterjemahkan oleh orang yang dalam dirinya sejak
awal terdapat ketegangan.
Yang
salah satu sumbernya adalah kepercayaan diri yang lama dirampas hilang oleh
orang lain.
Saya
temukan orang-orang yang sekolahnya jauh, tapi karakternya gegar.
Dan
yang paling sulit bersikap normal di depan Pancasila adalah kelompok yang tidak
bisa memahami bagaimana cara agama masih boleh hidup di Abad 21 ini.
Pada
dasarnya “hanya tidak bisa mengerti saja”.
Ini
yang banyak, sementara sikap ini juga mendatangkan respon tak wajar.
Akhirnya,
memang harus ada generasi baru yang tidak punya trauma dan rasa rendah diri
untuk membaca Pancasila kita dan memaknainya apa adanya.
Sebuah
kepercayaan diri bahwa kita punya modal besar untuk menjadi bangsa besar.
Dan
kita harus percaya harapan itu masih ada.
(Sumber
fahrihamzah 21/12/20)
0 comments:
Post a Comment