Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, February 15, 2021

8647. MANUSIA AKAN MATI PASTI INGAT TUHAN

 


MANUSIA AKAN MATI PASTI INGAT TUHAN

Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Manusia sejak zaman dahulu percaya adanya Tuhan.

 

 

 

Jika kita belajar kepercayaan umat manusia pada masa silam.

 

 

 

Hampir semua umat manusia meyakini adanya Tuhan Yang Mengatur alam semesta ini.

 

 

 

 

Orang Yunani Kuno menganut paham politeisme (keyakinan banyak tuhan), yaitu:

 

 

 

1)    Bintang adalah tuhan atau dewa.

 

 

 

2)    Venus adalah Dewa Kecantikan.

 

 

 

3)    Mars adalah Dewa Peperangan.

 

 

 

4)    Minerva adalah Dewa Kekayaan.

 

 

 

5)    Dan tuhan tertinggi adalah Apollo atau Dewa Matahari.

 

 

 

Orang Hindu masa lampau juga punya banyak dewa, yang diyakini sebagai tuhan-tuhan.

 

 

 

Keyakinan itu tercermin dalam Hikayat Mahabarata.

 

 

 

 

Penduduk Mesir meyakini adanya:

 

1)    Dewa Iziz.

 

2)    Dewi Oziris.

 

3)    Dan tertinggi adalah Dewa Ra'.

 

 

 

Masyarakat Persia percaya adanya tuhan Gelap dan tuhan Terang.

 

 

 

Pengaruh keyakinan itu merambah kepada masyarakat Arab.

 

 

 

Jika mereka ditanya,

 

 

 

“Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”

 

 

 

 

Mereka menjawab,

 

 

“Yang menciptakan adalah Allah”.

 

 

 

 

 

Tetapi, pada saat sama mereka juga menyembah 3 berhala besarnya, yaitu:

 

 

 

1)    Al-Lata.

2)    Al-Uzza.

3)    Manat.

 

 

 

 

Orang Arab menyembah 3 berhala terbesar mereka, dan ratusan berhala lainnya.

 

 

 

 

Al-Quran datang meluruskan keyakinan itu.

 

 

 

Al-Quran membawa ajaran tauhid.

 

 

 

 

Tauhid mengakui hanya Allah Yang Maha Esa.

 

 

 

 

Tapi Al-Quran tidak membahas wujud Tuhan.

 

 

 

Kata “Allah” dalam Al-Quran terulang 2.697 kali.

 

 

 

 

Belum ditambah  kata  semacam “Wahid”, “Ahad”, “Rab”, “IIlah”.

 

 

 

 

Atau kalimat yang menolak adanya sekutu bagi Allah.

 

 

 

 

 

Semuanya mengarah kepada penjelasan tentang tauhid.

 

 

 

 

 

Dalam mushaf Al-Quran, tidak ditemukan adanya ayat yang membicarakan tentang wujud Tuhan.

 

 

 

 

Para ulama menegaskan Kitab Taurat, Kitab Injil, dan Al-Quran tidak menguraikan tentang wujud Tuhan.

 

 

 

 

Wujud Tuhan sangat terasa dengan jelas oleh manusia, sehingga tidak perlu dijelaskan.

 

 

 

 

Al-Quran mengisyaratkan kehadiran Tuhan ada dalam diri tiap insan.

 

 

 

 

Hal itu adalah fitrah bawaan manusia sejak asal kejadiannya.

 

 

 

 

Al-Quran surah Ar-Rum (surah ke-30) ayat 30.

 

 

 

 

 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

 

 

 


Maka hadapkan wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

 

 

 

 

 

Arti fitrah adalah manusia diciptakan Allah punya naluri beragama tauhid.

 

 

 

 

Jika ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidak wajar.

 

 

 

 

 

Orang tidak beragama tauhid hanya karena terpengaruh lingkungannya.

 

 

 

 

 

Al-Quran surah Al-A’raf (surah ke-7) ayat 172.

 

 

 

 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

 

 


Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi“. Kami melakukan yang demikian, agar di hari kiamat, kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami, Bani Adam, adalah orang-orang yang lengah terhadap keesaan Tuhan".

 

 

 

 

 

Ketika kita duduk termenung seorang diri.

 

 

 

 

Pikiran mulai tenang, dan kesibukan hidup dapat teratasi.

 

 

 

 

Akan terdengar suara hati nurani.

 

 

 

 

 

Yang mengajak untuk berdialog akan adanya Tuhan Yang Maha Mutlak.

 

 

 

 

Suara dalam hati nurani manusia mengantarkan menyadari betapa lemahnya manusia di depan Tuhan.

 

 

 

 

Betapa Maha Kuasa dan Perkasa Tuhan Yang Maha Agung.

 

 

 

 

Suara seperti itu, adalah suara fitrah manusia.

 

 

 

 

Setiap orang punya fitrah yang terbawa sejak lahir.

 

 

 

 

Karena kesibukan dan dosa-dosa, suara fitrah terabaikan.

 

 

 

 

Suara fitarh lemah hingga tidak terdengar lagi.

 

 

 

 

Jika diusahakan didengarkan.

 

 

 

 

Kemudian benar-benar tertancap dalam jiwa.

 

 

 

 

Maka fitrah manusia akan muncul.

 

 

 

 

 

Yaitu hanya bergantung kepada Allah saja.

 

 

 

 

 

Hanya Allah tempat bergantung.

 

 

 

 

“La haula wa la quwwata illabillahil Aliyyil Azhim”.

 

 

 

 

Tidak ada daya untuk memperoleh manfaat dan tidak ada kuasa untuk menolak mudarat.

 

 

 

 

Kecuali bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

 

 

 

 

Sehingga tidak ada lagi rasa takut yang menghantui atau mencengkeram.

 

 

 

 

Tidak ada rasa sedih yang mencekam dalam hati manusia.

 

 

 

 

Al-Quran surah Fushshilat (surah ke-41) ayat 30.

 

 

    إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

 

 


Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Jangan kamu takut dan jangan merasa sedih”. Dan gembirakan mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.

 

 

 

 

Al-Quran surah Ar-Ra’du (surah ke-13) ayat 28.

 

 

 

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

 

 


Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Memang, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

 

 

 

 

Al-Quran menjelaskan ateisme.

 

 

 

 

 

Al-Quran Surah Al-Jatsiyah (surah ke-45) ayat 24.

 

 

 

 

وَقَالُوا۟ مَا هِىَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

       

 

 

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanya kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanya menduga-duga saja.

 

 

 

 

 

Al-Quran menjelaskan kehadiran Tuhan itu fitrah manusia dan kebutuhan hidupnya.

 

 

 

 

 

Jika ada orang mengingkari wujud Tuhan, maka bersifat sementara.

 

 

 

Pada akhirnya sebelum meninggal, dia akan mengakui keberadaan Tuhan.

 

 

 

 

 

Tetapi pengakuan itu sudah terlambat.

 

 

 

 

Al-Quran surah Yunus (surah ke-10) ayat 90-91.

 

 

 

 

۞ وَجَٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُۥ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدْرَكَهُ ٱلْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِىٓ ءَامَنَتْ بِهِۦ بَنُوٓا۟ إِسْرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
ءَآلْـَٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ

      

 

 

 

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka), hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, dia berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?

 

 

 

 

Tingkat kebutuhan manusia.

 

 

Kebutuhan manusia bertingkat-tingkat.

 

 

 

Ada kebutuhan harus dipenuhi segera.

 

 

 

Yaitu udara untuk bernapas.

 

 

 

 

Ada kebutuhan bisa ditunda beberapa saat.

 

 

 

Yaitu  minum.

 

 

 

 

Kebutuhan manusia untuk makan, bisa ditunda lebih lama dibanding minum.

 

 

 

 

Kebutuhan seksual bisa lebih lama ditangguhkan dibanding makan dan minum.

 

 

 

 

Demikian seterusnya.

 

 

 

 

Kebutuhan manusia paling lama bisa ditunda adalah kebutuhan keyakinan adanya Allah Yang Maha Kuasa.

 

 

 

 

 

Ketika manusia hampir mendekati meninggal.

 

 

 

 

 

Baru manusia merasa butuh dan merindukan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Misan, 2009.

3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

 

8646. WAJIBNYA SALAT BERJAMAAH

 


WAJIBNYA SALAT BERJAMAAH

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

 

 

Berdasar Al-Quran dan hadis Nabi, salat berjemaah hukumnya wajib bagi setiap lelaki Muslim.

 

 

 

 

Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 102.

 

 

 

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

 

 

 

 

Dan jika kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersalat, lalu bersalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

 

 

 

 

 

Allah tetap memerintahkan mengerjakan salat berjamaah saat berperang dan berjihad di jalan Allah.

 

 

 

 

Pada saat berperang tidak menggugurkan salat berjamaah.

 

 

 

Tentunya pada saat aman lebih utama mengerjakan salat berjamaah.

 

 

 

 

 

 

 

Jika salat berjamaah bukan suatu kewajiban, maka  pastilah diberikan keringanan saat kondisi genting dan darurat.

 

 

 

 

Rasulullah mendidik para sahabat mengerjakan salat berjamaah secara bertahap  diawali dengan motivasi.

 

 

 

Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah bersabda,

 

 

 

”Salat berjemaah lebih utama 27 tingkatan daripada salat sendirian.”

(HR. Bukhari).

 

 

 

 

Rasulullah melanjutkan inspeksi kepada para jemaah salat.

 

 

 

 

 

Ubai bin Kaab berkata,

 

 

 

 

”Suatu hari Rasulullah melaksanakan salat Subuh bersama kami.

 

 

 

Rasulullah bertanya,

 

 

 

”Apakah si Fulan ikut salat berjamaah?”.

 

 

Mereka menjawab,”Tidak”.

 

 

 

Rasulullah bersabda.

 

 

 

1)     Sesungguhnya 2 rakaat salat ini lebih berat bagi orang-orang munafik.

 

 

2)     Andai kamu tahu apa yang ada dalam 2 rakaat salat ini, pastilah kamu menghadirinya, meskipun merangkak dengan lutut.

 

 

 

3)     Sesungguhnya saf pertama seperti safnya para malaikat.

 

 

 

Seandainya kamu mengetahui keutamaannya, maka kamu akan segera menghadirinya.

 

 

 

 

Sesungguhnya salat satu orang bersama satu orang lebih baik daripada salat sendirian.

 

 

 

 

Salat satu orang bersama dua orang lebih baik daripada salat satu orang bersama satu orang.

 

 

 

 

Jika mengerjakan salat dengan lebih banyak orang, maka lebih dicintai oleh Allah.

(HR. Abu Daud).

 

 

 

 

Rasulullah mengacan orang yang menyepelekan salat berjamaah.

 

 

 

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah kehilangan beberapa orang pada sebagian salat Isya.

 

 

 

Rasulullah bersabda.

1)     Aku ingin memerintahkan seseorang memimpin salat berjemaah, kemudian aku menentang orang-orang yang meninggalkan salat berjamaah.

 

 

 

2)     Aku perintahkan agar rumah mereka dibakar dengan ikatan-ikatan kayu bakar.

 

 

 

3)     Seandainya salah seorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapat tulang yang gemuk (daging), pastilah ia akan menghadirinya.

(HR. Muslim).

 

 

 

 

Dalam hadis Nabi yang lain Usamah bin Zaid berkata,

 

 

 

 

”Rasulullah bersabda hendaklah mereka mengikuti salat berjemaah atau aku akan membakar rumah mereka”.

 

(HR. Ibnu Majah).

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.      Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat.

2.      Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat.

3.      Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer.

4.      Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.      Tafsirq.com online