Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, October 10, 2021

11181. PRO KONTRA PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD

 



PRO DAN KONTRA PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD

Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Pada bulan Rabiul Awal  penanggalan Islam Hijriah.

 

Umat Islam akan mengingat satu momen.

 

Yaitu lahirnya Rasulullah SAW.

Pembawa risalah umat.

 

Kecintaan umat lslam menyambut hari  kelahiran Nabi.

Disikapi dengan berbagai macam.

 

Salah satunya dengan menggelar acara Maulid Nabi SAW.


Tapi peringatan kelahiran Nabi menimbulkan perbedaan pendapat.

 

1.      Ada ulama membolehkan.

2.      Tapi ada yang menyebut bid'ah.

 


ULAMA MEMBOLEHKAN MAULID NABI


Ulama Mesir tergabung dalam Dewan Fatwa Darul Al Ifta Mesir.

 

Menurut lembaga fatwa tertinggi di Mesir ini.

 

Merayakan maulid Nabi adalah amalan paling baik.

Dan ibadah yang agung.

 

Perayaan maulid ungkapan rasa gembira.

Dan cinta kepada Rasulullah SAW.

 

Cinta kepada Nabi adalah fondasi keimanan.


Rasulullah bersabda,

 

“Tidak beriman seseorang di antara kalian.

Sehingga menjadikan diriku lebih dicintai.

Daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.”

 

 


Memperingati maulid adalah bentuk penghormatan terhadap Nabi SAW.

 

Dan menghormati Rasulullah adalah amalan mutlak dianjurkan.

 

Allah SWT melebihkan derajat Nabi Muhammad SAW kepada  seluruh alam.


Lembaga yang pernah dipimpin Syekh Ali Jum'ah Muhammad  menambahkan.

 

Para salafus saleh sejak abad ke-4 dan ke-5 Hijriah.

 

Memberi contoh merayakan maulid.

 

Mereka menghidupkan malam maulid dengan berbagai ibadah.

 

Seperti memberi jamuan makan, melantunkan ayat Al-Quran.

Dan membaca zikir.

 

Para ulama seperti Jalaluddin as-Suyuti, Ibnu Dihyah al-Andalusi.

Dan Ibnu Hajar  banyak  meriwayatkan amalan ini.



Ibnu al-Hajj dalam kitabnya al-madkhal.

Secara panjang lebar menyebutkan keutamaan perayaan maulid Nabi.

 

Kitabnya itu menganjurkan maulid.

 

Padahal kitab itu ditulis.

Tujuannya menyebutkan perbuatan bid'ah.

 

Imam Suyuthi juga menulis sebuah risalah.

 

Dengan judul Husnul Maqshid fi Amalil Maulid.



Dar Ifta Mesir menegaskan banyak orang ragu merayakan maulid.

 

Karena tidak ada contoh perayaan mauled pada awal Islam.

 

Argumen itu bukan alasan tepat untuk melarang perayaan  maulid.

 

Menurut Lembaga Fatwa Mesir.

 

Tidak ada seorang pun.

Yang meragukan cintanya generasi awal kepada Nabi SAW.

 

Tapi bentuk cinta punya beberapa cara.

Dan ungkapan berbeda. 

 

Sebuah cara tidak bisa disebut ibadah.

 

Jika dilihat dari inti pelaksanaannya.

 

Karena hanya wasilah (sarana) yang boleh untuk digunakan.

 

Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama, KH Zulfa Mustafa.

 

Menyebut perayaan maulid Nabi sah-sah saja.

 

Selama isinya bukan hal yang dilarang agama.

 

Maulid Nabi isinya pembacaan shalawat.

Ceramah sejarah hidup Nabi.

 

Justru sarana efektif mengajarkan orang agar cinta Rasul.


Tapi jika peringatan maulid digelar dengan bercampur pria dan wanita.

Sebaiknya hal tersebut dihindari.

 

 “Jadi bukan melarang maulidnya.

 

Tapi menghindari hal-hal yang keliru di dalamnya,” ungkap Sekretaris MUI DKI Jakarta.



Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam kumpulan fatwanya.

 

Berpendapat tidak mengapa memperingati maulid Nabi.

 

Dengan berkumpul.

 

Membaca sejarah.

Dan pujian yang benar.

 

Dibarengi sedekah.

 

Tapi jika dicampur dengan pemukulan alat music.

 

Sehingga gaduh.

Dan nyanyian wanita dan pria dengan suara melengking.

Sebaiknya dihindari.

 

Umat perlu meneliti dengan baik.

 

Beberapa kitab.

Yang berisi pujian berlebihan terhadap Rasulullah SAW.

 

Pujian berlebihan justru mengurangi nilai.

 

Bahkan menghilangkan penghormatan terhadap Nabi SAW.

 

ULAMA YANG MENOLAK MAULID NABI


Pendapat menolak perayaan mauled.

Datang dari Lajnah Daimah Kerajaan Arab Saudi.

 

Ulama di Komite Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi berpendapat.

 

Membaca kisah Nabi untuk mengetahui ibadah, ucapan, perbuatan.

Dan akhlak Nabi SAW sangat dianjurkan.


Tapi jika khusus kisah maulid untuk dibaca.

Dan berkumpul untuk menggelarnya tiap tahun.

 

Termasuk bid'ah.

 

 

Alasannya, hal itu tidak ditemukan di zaman Nabi SAW.

 

Dan tidak pula di abad ke-1 generasi terbaik.

Yang disebut Nabi.

 

Perayaan dengan bercampurnya wanita dan pria juga khawatir timbul fitnah.



Lajnah Daimah menyebut.

 

Jika maulid disandarkan kepada Imam Syafii.

Maka hal itu tertolak.

 

Karena perayaan maulid muncul abad ke-4 Hijriah.

 

Pada masa pemerintahan Fatimiah.

 

Padahal Imam Syafii wafat  tahun 204 H.

Yaitu masuk abad ke-3.



Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menambahkan.

 

Generasi terbaik adalah generasi:

1.      Khulafaur rasyidin.

2.      Sahabat.

3.      Tabiin di abad awal Islam.

 

Jika mereka disebut oleh Rasulullah generasi terbaik.

Tapi mereka tidak melakukan mauled.

 

Maka seharusnya cukup meniru generasi awal Islam itu.

 


Menurut Syekh Abdul Aziz.

 

Mengadakan peringatan seperti itu.

Memberi kesan Allah belum menyempurnakan agama-Nya.

 

Untuk umat ini.

 

Juga memberi kesan.

 

Rasulullah belum menyampaikan hal wajib dikerjakan umatnya.

 

Kemudian datang orang-orang.

Yang membuat hal baru.

 

Yang tidak diperkenankan oleh Allah.

 

(Sumber republika)

11180. DITANTANG MEMBUAT 1 SURAH SAJA MIRIP AL-QURAN

 



DITANTANG MEMBUAT 1 SURAH SAJA MIRIP AL-QURAN

Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Metode ialah cara teratur yang dipakai untuk melakukan suatu pekerjaan.

Agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki.

 

Tafsir adalah penjelasan tentang ayat Al-Quran.

Agar maksudnya lebih mudah dipahami.

 

Metodologi Tafsir Al-Quran ialah uraian tentang metode dalam penafsiran Al-Quran.

 

Metode Penalaran Tafsir Al-Quran adalah metode menafsirkan ayat Al-Quran.

Dengan mengandalkan nalar.

 

Nalar atau akal budi adalah berpikir logis.

Untuk mempertimbangan sesuatu baik atau buruk.

 

Ada 2 metode penalaran tafsir Al-Quran paling popular, yaitu:

1.      Metode Tahlili.

2.      Metode Maudhui.

 

METODE TAHLILI

Yaitu metode tafsir.

Yang mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat Al-Quran.

Dari aneka sudut.

 

Dengan memperhatikan runtutan ayat Al-Quran.

Seperti tercantum dalam urutan mushaf.

 

Mufasir menguraikan arti kosakata, “asbabun nuzul”, munasabah, dan lainnya.

 

Yang Terkait dengan teks atau kandungan ayat Al-Quran.

 

Metode ini sangat luas.

Tapi tidak menyelesaikan suatu pokok bahasan.

 

Sering suatu pokok bahasan dalam ayat Al-Quran.

Diuraikan kelanjutannya pada ayat lain.

 

Metode ini untuk meletakkan dasar rasional.

Bagi pemahaman mukjizat Al-Quran.

 

Mukjizat Al-Quran ditujukan kepada orang yang tidak percaya kepada Al-Quran.

 

 Hal ini dapat dibuktikan dengan rumusan definisi mukjizat.

 

 Yang berisi tantangan kepada orang yang tidak percaya Al-Quran.

 

Teks ayat Al-Quran yang bicara tentang hebatnya Al-Quran.

 

Sang selalu dimulai dengan kalimat:

“Inkuntum fi raib” atau “Inkuntum shadiqin”.

Artinya “jika kamu orang yang benar.”

 

 Al-Quran menantang siapa pun yang meragukannya.

Untuk menyusun mirip seluruh Al-Quran.

 

Al-Quran surah Ath-Thur (surah ke-52) ayat 32-34.

 


أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْ بِهَٰذَا ۚ أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

 

Apakah mereka diperintah oleh pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan ini atau mereka kaum yang melampaui batas?

 

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ

 

Atau mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman.

 

 

فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

 

Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.

 

Al-Quran menantang menyusun 10 surah mirip Al-Quran.

 

Al-Quran surah Hud (surah ke-11) ayat 13.

 

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

 

Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al-Quran itu", Katakan: "(Kalau demikian), maka datangkan 10 surat untuk menyamainya, dan panggil orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".

 

Al-Quran menantang menyusun 1 surah saja mirip Al-Quran.

 

Al-Quran surah Yunus (surah ke-10) ayat 38.

 

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

 

Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya". Katakan: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan 1 surah seumpamanya dan panggil siapa pun yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar".

 

 

 Al-Quran menantang untuk menyusun sesuatu yang mirip dengan 1 surah Al-Quran.

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 23.

 

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

 

Dan jika kamu (tetap) ragu tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah 1 surah (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

 

 

Al-Quran surah Al-Ira (surah ke-17) ayat 88.

 

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

 

Katakan: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa, meskipun mereka saling pembantu".

 

Kelemahan Metode Tafsir Tahlili.

 

1.      Kalau tujuan Metode Tahlili untuk meletakkan dasar rasional.

Bagi pemahaman mukjizat Al-Quran.

 

Sekarang hal itu bukan masalah mendesak.

 

2.      Metode ini menghasilkan pandangan parsial.

Dan  kontradiktif dalam kehidupan umat Islam.

 

3.      Terkadang para penafsir.

Memakai metode ini hanya untuk menemukan dalil.

 

Atau lebih tepat “dalih pembenaran” pendapatnya dengan ayat Al-Quran.

4.       Metode ini tidak mampu memberi jawaban tuntas.

Terhadap masalah yang dihadapi.

Dan tidak banyak memberi pagar metodologis.

Yang dapat mengurangi subjektif mufasirnya.

 

5.      Bahasan tafsirnya “mengikat” generasi berikut.

      Karena sifatnya amat teoretis.

Tak sepenuhnya mengacu masalah khusus masyarakat.

 

Uraian yang bersifat teoretis dan umum.

Bisa mengesankan pandangan Al-Quran.

Untuk tiap waktu dan tempat.

 

METODE TAFSIR MAUDHUI

 

Yaitu metode yang mengharuskan penafsir.

Untuk menghimpun ayat Al-Quran.

Dari berbagai surah.

Yang terkait topik tertentu.  

 

 Kemudian, penafsir membahas.

Dan menganalisis kandungan ayat Al-Quran itu.

 

Sehingga menjadi satu kesatuan utuh.

 

 

Daftar Pustaka

1.      Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.      Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.