PERJALANAN
KE GUA HIRA MEKAH
Oleh: Drs.
H. M. Yusron Hadi, M.M.
A. Sejarah
Gua Hira di Mekah.
1. Nabi
Muhammad mendapat wahyu ke-1 dari Allah melalui Malaikat Jibril di Gua Hira,
Mekah sekitar umur 40 tahun.
2. Wahyu ke-1
turun, ketika Nabi Muhammad menyendiri di Gua Hira yang berada di tebing atas Jabal
Nur.
3. Gua
Hira terletak di puncak gunung Jabal Nur.
4. Jabal
Nur artinya Gunung Bercahaya.
5. Jabal
Nur juga dijuluki “Bukit Iluminasi” terletak dekat kota Mekah, di daerah Hejaz,
Saudi Arabia.
6. Jabal
Nur terletak sekitar 7 km arah timur laut dari Masjidilharam, Mekah.
7. Wahyu
yang turun di Jabl Nur adalah titik awal cahaya Islam yang menyinari seluruh dunia sepanjang masa.
8. Pada
malam hari yang gelap gulita, bebatuan gunung Jabal Nur seolah memancarkan
sinar.
9. Pemandangan
sekitar gunung yang mestinya gelap gulita, ternyata tampak jelas.
10. Hal
ini, karena tidak ada pepohonan atau bebatuan yang menyimpan atau memantulkan
cahaya.
11. Atau
sebab lainnya.
12. Entahlah,
yang jelas saya sudah membuktikannya sendiri.
13. Pada musim
ibadah haji tahun 2005, kuota jemaah haji Indonesia 205.000 orang.
14. Saya
dan Haji Suherman guru matematika SMP Negeri 4 Sidoarjo, sepakat naik ke Gua
Hira di gunung Jabal Nur.
15. Dan juga
naik ke Gua Tsur di gunung Jabal Tsur.
16. Kenapa?
17. Kami
ingin mencoba merasakan dan mengenang perjuangan Nabi Muhammad pada zaman dulu.
18. Peta
kota Mekah dan data profil gunung Jabal Nur sudah saya miliki.
19. Ketinggian
Jabal Nur sekitar 642 m dari permukaan air laut.
20. Gua
Hira dapat ditempuh melewati jalan setapak dengan bebatuan terjal.
21. Kemiringan
medan bisa mencapai 60 derajat.
B. Naik
taksi keliling Mekah tahun 2005.
1. Sehari
sebelumnya, kami naik taksi keliling kota Mekah sambil melihat Jabal Nur dari
jarak jauh.
2. Pada
malam hari gelap gulita.
3. Langit
penuh bintang kemintang.
4. Dari
kejauhan, gunung Jabal Nur tampak seolah bercahaya.
5. Mungkin,
karena gunung yang gundul tanpa pepohonan.
6. Atau
memang bahan bebatuan yang menyimpan panas matahari.
7. Yang
pasti, memancarkan pemandangan mengagumkan.
C. Perjalanan
naik Jabal Nur ke Gua Hira tahun 2005.
1. Hari
masih pagi, kami mulai melangkahkan kaki.
2. Kami
keluar dari hotel tempat menginap selama di Mekah.
3. Naik
taksi dari pemondokan di wilayah Al-Aziziyah, Mekah.
4. Menuju
gunung Jabal Nur yang jaraknya sekitar 7 kilo meter dari Mekah.
5. Turun
dari taksi dan mulai berjalan kaki mendaki gunung Jabal Nur.
6. Berangkat
pagi hari, mengapa?
7. Perubahan
cuaca di Mekah amat ekstrem dan tidak bersahabat.
8. Pada malam
hari, bulan Januari dan Februari suhu berkisar 5 - 20 derajat Celsius.
9. Pada siang
harinya melonjak 40 - 43 derajat Celcius.
10. Pada siang
hari matahari bersinar amat terik menyengat kulit dan menyilaukan mata.
11. Istrinya
Haji Suherman dengan temannya terpaksa hanya menunggu di kaki gunung jabal Nur.
12. Saya
dan Haji Suherman menjadi bujangan lokal sementara naik gunung bersama ke Gua
Hira.
D. Pengumuman
di kaki gunung Jabal Nur tahun 2005.
1. Di
kaki gunung Jabal Nur dipasang papan
pengumuman.
2. Semacam
imbauan dari Kerajaan Arab Saudi.
3. Yang
ditulis dalam berbagai bahasa.
4. Termasuk
dalam bahasa Indonesia.
5. Papan
itu berisi peringatan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah menyarankan umat Islam untuk ziarah ke Gua Hira.
6. Yang
terletak di puncak gunung Jabal Nur.
7. Tapi,
juga tidak melarangnya.
8. Sehingga
Pemerintah Arab Saudi tidak merenovasi jalan ke Gua Hira.
9. Semuanya
dibiarkan alami.
10. Asli apa
adanya.
E. Mulai
naik Jabal Nur.
1. Kami
berjalan kaki bersandal jepit.
2. Membawa
bekal sedikit makanan, minuman, dan payung.
3. Pakai seragam
jamaah haji Indonesia yang khas.
4. Jaket
batik Sidoarjo dan kopiah hitam.
5. Kami
berdoa mohon kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang agar perjalanan
lancar sampai puncak.
6. Kemudian
bisa kembali lagi ke bawah, ke hotel di Mekah.
7. Agar
kami tetap sehat dan selamat.
8. Kami
bejalan bersama jemaah haji dari seluruh dunia.
9. Yang
berminat dengan tujuan sama.
10. Menuju
Gua Hira di puncak gunung Jabal Nur.
11. Tentu
saja, yang kuat fisik.
12. Terutama
mentalnya.
13. Banyak
jemaah dari Turki yang sudah berumur tampak semangat mendaki gunung.
14. Kami
berjalan mengikuti jalan setapak.
15. Berderet-deret
barisan manusia mengular berjalan kaki dari bawah ke atas.
16. Dan
sebaliknya dari atas ke bawah.
17. Beranagkat
naik ke Gua Hira, dan sebaliknya.
18. Pemandangan
yang menakjubkan.
F. Mengambil
foto.
1. Selama
di perjalanan kami sempat mengambil foto.
2. Bergantian,
memakai kamera sederhana, yang kami bawa.
G. Show
of force.
1. Beberapa
kali kami menyaksikan jemaah “show of force”.
2. Mereka
menunjukkan “kesaktiannya”.
3. Mungkin
jemaah haji lokal.
4. Mereka
berlompatan di antara bebatuan yang terjal dengan santai.
5. Seolah
mereka memiliki ilmu terbang.
6. Tidak
melewati jalan setapak yang biasanya.
7. Tapi, seakan-akan
mereka “menclok” di tepi bebatuan gunung.
8. Berpindah
dari ujung batu ke ujung yang lain.
9. Pemandangan
menarik sekaligus mendebarkan.
10. Tindakan
yang sangat berbahaya.
11. Khawatir
ada yang jatuh terpeleset.
12. Alhamdulillah.
13. Selama
kami berada di gunung Jabal Nur.
14. Tidak
terjadi musibah apa-apa.
H. Tenda
tempat istirahat dan berlidung.
1. Beberapa
kali kami berhenti.
2. Di tempat
semacam pos pemberhentian.
3. Yang
beratap ala kadarnya.
4. Dipakai
tempat berjualan.
5. Kami
istirahat sejenak.
6. Menikmati
makanan dan minuman.
7. Dan melihat
pemandangan sekitar.
8. Saya
berusaha mengingat, menelusuri, dan membayangkan jejak Rasulullah.
9. Sewaktu
Nabi, beberapa abad lampau.
10. Menyendiri
di Gua Hira, di puncak gunung Jabal Nur.
11. Sambil
melihat kota Mekah dari puncak gunung.
12. Dengan
kondisi alam yang masih alami, keras, dan liar.
13. Sungguh
berat dan amat melelahkan.
14. Perlu
mental kuat dan butuh motivasi hebat.
15. Memerlukan
keimanan yang sangat kokoh.
16. Berangkat,
pulang, naik, dan turun gunung terjal.
17. Mendaki
dan menuruni gunung.
18. Hanya
satu tujuan ke Gua Hira di puncak gunung Jabal Nur.
19. Tidak terasa, air mata menetes di pipi.
20. Mengenang
betapa berat tugas Nabi Muhammad, masa itu.
I. Tiba
di puncak Jabal Nur.
1. Setelah
berjalan sekitar 2 jam.
2. Termasuk
beberapa kali istirahat sejenak.
3. Akhirnya,
kami sampai di puncak Jabal Nur.
4. Di
atas Gua Hira.
5. Gua
yang bersejarah.
6. Syaikh
Syafiyyurrahman menulis Sirah Nabawiyah:
1) Menjelang
usia 40 tahun, Nabi sering menyendiri di
gua ini.
2) Dengan
bekal roti yang terbuat dari gandum dan air minum.
3) Keluarga
Nabi terkadang menyertai ke sana.
4) Selama
bulan Ramadan Nabi berada di gua ini.
5) Juga
memberi sebagian bekal makanan kepada orang miskin yang berada di sekitar.
6) Beliau
menghabiskan waktunya untuk beribadah.
7) Memikirkan
keadaan alam sekitar.
8) Kekuatan
tidak terhingga di balik alam.
9) Tidak
puas dengan kondisi kaumnya yang penuh kemusyrikan.
J. Ukuran
Gua Hira.
1. Alhamdulillah,
kami berhasil melaksanakan napak tilas jejak perjalanan Nabi.
2. Sewaktu
Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira.
3. Gua Hira
panjangnya sekitar 3,5 m dan lebarnya 1,5 m.
4. Berada
sekitar 4 m di tebing puncak Jabal Nur.
K. Batu
tetap sama dengan zaman Rasulullah.
1. Kami
duduk di bebatuan.
2. Melihat
pemandangan kota Mekah yang indah.
3. Dan pemandangan
sekitar yang hebat.
4. Saya
membayangkan beberapa abad lalu.
5. Nabi
berada di puncak gunung melihat kota Mekah.
6. Menyaksikan
rumah beliau dari kejauhan puncak gunung.
7. Dengan
bebatuan keras, “kenthing”, dan berkilat.
8. Tidak
mustahil, bebatuan sekarang ini tetap sama.
9. Tidak
berubah.
10. Sewaktu
dikunjungi Nabi beberapa abad silam.
11. Subhanallah.
L. Turun gunung
Jabal Nur.
1. Setelah
puas duduk-duduk dan menyaksikan pemandangan di atas Gua Hira kami turun kembali.
2. Perjalanan
turun lebih berbahaya.
3. Banyak
bebatuan licin yang harus dihindari.
4. Jalan setapak
dipakai bersama.
5. Dengan
tujuan berbeda.
6. Rombongan
mengular naik ke atas.
7. Dan serombongan
mengular turun ke bawah.
8. Dengan
arah berlawanan.
9. Pemandangan
luar biasa.
10. Manusia
bermacam-macam warna kulit, suku, ras, dan bangsa.
11. Semuanya
datang dengan tujuan sama.
12. Mengenang
perjalanan Rasulullah.
13. Alhamdulillah.
Daftar
Pustaka.
1. Sirah
Nabawiyah. Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury. Penerjemah: Kastur Suhardi.
Penerbit Pustaka Al-Kautsar. Jakarta 1997.
2. Peta
Mekah dan Medinah.
0 comments:
Post a Comment