PLUS MINUS ORMAS NU MENJADI PARTAI NU
Oleh: Drs. H. M. Yusron
Hadi, MM
A.
Sejarah Partai NU
Tahun 1943.
a.
Zaman pendudukan Jepang
b.
Berdiri Masyumi (Majelis Syuro
Muslimin Indonesia)
c.
Wadah organisasi Islam.
d.
Setelah Indonesia Merdeka.
e.
Masyumi dihidupkan Kembali
f. Pada 7 November 1945.
1.
NU di dalam Masyumi
a.
Pada awal kemerdekaan.
b.
NU tidak jadi partai sendiri.
3)
Tahun 1952
Partai NU keluar dari Masyumi.
Hasil Pemilu DPR 1955
Pemilu pertama Indonesia.
1)
PNI 57 kursi
2)
Masyumi 57 kursi
3)
NU 45 kursi
4)
PKI 39 kursi
Jika ormas NU (Nahdlatul Ulama)
Menjadai Partai NU
A.
Keuntungan Partai NU.
yaitu:
1)
Aspirasi politik umat lebih
terorganisasi
2)
Memperjuangkan keadilan melalui
kekuasaan
3)
Memperkuat persatuan
Penjelasan.
1.
Aspirasi politik umat lebih
terorganisasi
1)
Jika Partai NU memperjuangkan
pendidikan, kemiskinan, keadilan, kesehatan, ekonomi rakyat, dan pemberantasan
korupsi.
2)
Sarana amar makruf.
2.
Memperjuangkan keadilan melalui
kekuasaan
1)
Kekuasaan politik
2)
Alat mewujudkan keadilan.
3)
Sebagai Amanah.
4)
Bukan memperkaya kelompok.
3.
Memperkuat persatuan
1)
Partai NU sarana politik.
2)
Berjuang untuk masyarakat luas.
3)
Tak hanya warga NU.
B.
Potensi kerugian
Yaitu:
1)
NU terpecah merebut kekuasaan
2)
Kekuasaan dapat mengubah niat
3)
Fanatik kelompok
1.
NU terpecah merebut kekuasaan
1)
Politik mudah timbul konflik:
2)
jabatan → rebutan pengaruh → konflik
elite → faksi → perpecahan.
3)
Contohnya bisa terjadi:
a.
siapa jadi ketua partai,
b.
siapa dapat nomor urut,
c.
d.
siapa jadi calon DPR,
e.
siapa jadi calon kepala daerah,
f. siapa dapat posisi menteri.
1)
Organisasi agama.
2)
Fokus dakwah dan Pendidikan.
3)
Terseret kompetisi politik.
2.
Kekuasaan dapat mengubah niat
1)
Al-Qur’an ingatkan.
2)
Manusia cinta harta dan kedudukan:
“Dijadikan indah pada pandangan
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini...”
QS. Ali Imran 3:14
3)
Politik punya daya tarik besar:
4)
kekuasaan + jabatan + fasilitas + uang
+ pengaruh.
5)
Bahaya terbesar
6)
Bukan jadi partai.
7)
Tapi politik kalahkan amanah agama.
3.
Fanatik kelompok
1)
Al-Qur’an tak ingin identitas kelompok.
2)
Jadi tidak adil:
“Jangan bencimu pada suatu kaum mendorong kamu tidak adil.”
QS. Al-Ma'idah 5:8
3)
Misalnya:
a.
“Karena dia kader Partai NU.
b.
Maka harus kita dukung
c.
Meskipun korupsi.”
Melawan prinsip keadilan.
C.
Logika politik modern
1)
Keuntungan besar:
a.
NU punya basis sosial sangat besar.
b.
Jika seluruh jaringan pendidikan,
pesantren, ulama, kader, dan masyarakatnya
c.
Diarahkan politik.
d.
Partai NU punyai kekuatan besar.
2)
Tapi ada persoalan:
a.
Basis sosial besar
b.
Tak otomatis jadi suara politik besar.
3)
Mengapa?
Karena warga NU
Punya pilihan politik beragam.
4)
Ada warga NU yang:
a.
memilih partai A,
b.
memilih partai B,
c.
memilih partai C,
d.
tidak memilih partai NU,
e.
tidak tertarik politik.
5)
Jika NU berubah jadi partai.
6)
Maka sebagian warga NU merasa:
a.
“Saya NU secara agama dan budaya.
b.
Tapi pilihan politik berbeda.”
Contoh: rumah sakit
1)
NU punya rumah sakit.
2)
Rumah sakit melayani semua:
a.
pendukung partai + bukan pendukung
partai + kaya + miskin.
3)
Kalau rumah sakit
Berubah jadi alat politik.
4)
Bisa muncul masalah:
“Apakah pelayanan akan tetap netral?”
a.
Demikian juga lembaga pendidikan,
pesantren, masjid, dan lembaga sosial.
Kekuatan NU
1)
Melayani masyarakat lintas pilihan politik.
Partai NU tidak otomatis buruk
1)
Ini penting.
a.
Partai politik tak otomatis haram.
b.
Politik sarana kebaikan.
2)
Partai NU punya program:
a.
pendidikan gratis bagi keluarga
miskin,
b.
memperkuat pesantren,
c.
meningkatkan kualitas guru,
d.
pemberantasan korupsi,
e.
ekonomi UMKM,
f. kesehatan masyarakat,
g.
pemerataan pembangunan,
h.
perlindungan anak,
i. pengembangan sains dan teknologi.
3)
Jika dilakukan Amanah.
4)
Politik alat pelayanan masyarakat.
Prinsipnya:
1)
Kekuasaan adalah alat.
2)
Bukan tujuan.
Masalah paling besar: konflik kepentingan
1)
Misalnya
Tokoh NU punya 2 kepentingan:
a.
Sebagai ulama:
Membimbing umat.
b.
Sebagai politisi:
Memenangkan partai.
Mana diprioritaskan?
1)
Misalnya
a.
Pemerintah didukung partainya.
b.
Buat kebijakan merugikan rakyat.
Apakah tokoh akan:
1)
Membela rakyat.
2)
Membela partai?
Di sini ujian moralnya.
Contoh negatif
1)
NU → Partai NU → rebutan jabatan →
politik uang → fanatik → konflik → korupsi
2)
Maka merusak organisasi.
Pelajaran sejarah politik
1)
Partai NU menjadi partai politik.
2)
Era 1950-an sampai 1970-an.
3)
Pada tahun 1984 NU
Menegaskan Khittah 1926.
Analisis untung-rugi
Jika jadi Partai NU:
Keuntungan:
1)
kekuatan politik terorganisasi,
2)
aspirasi politik mudah diperjuangkan,
3)
peluang dapat kursi parlemen besar,
4)
kebijakan publik dapat dipengaruhi,
5)
kader NU masuk pemerintahan.
Kerugiannya:
1)
NU berpotensi terpecah,
2)
rebutan jabatan meningkat,
3)
dakwah campur kepentingan politik,
4)
warga NU beda pilihan bisa menjauh,
5)
kegagalan politisi mencoreng nama NU,
6)
konflik politik masuk pesantren dan
keluarga,
7)
risiko politik uang dan korupsi
meningkat.
Kesimpulan
1)
NU organisasi agama.
a.
Cakupan pelayanan luas.
b.
Relatif lintas partai.
2)
Partai NU
a.
Kekuatan politik terkonsentrasi.
b.
Tapi risiko pecah dan konflik.
Prinsip Qur’an
1)
Kekuatan tanpa Amanah
Berbahaya.
2)
Amanah tanpa kekuatan
Sulit diwujudkan.
3)
Yang ideal
a.
Kekuatan + amanah + keadilan + ilmu +
akhlak.
Sumber
1)
Tafsir Quran Perkata DR
M Hatta.
2)
Tafsirq.com
3)
ChatGPT.



.jpg)