MENGAPA PROFESOR CERDAS TAPI AGNOSTIK
Oleh: Drs. H. M. Yusron
Hadi, MM
Kenapa ada Profesor cerdas.
Tapi jadi ateis atau agnostic?.
Jawaban.
1)
Kecerdasan akademik.
2)
Tak otomatis jadi beriman.
Dalam Al-Qur’an.
Masalahnya
1)
Tak hanya pintar otak.
2)
Tapi cara orang memakai
a.
Akal.
b.
Hati.
c.
Pengalaman.
d.
Sikap
Dalam hadapi kebenaran.
Kenapa ada Profesor cerdas.
Tapi jadi ateis atau agnostic?.
Jawaban.
1)
Al-Qur’an akui manusia punya ilmu, tapi
bisa salah arah
2)
Cerdas tak otomatis beriman
3)
Akal manusia punya batas
4)
Mengapa ada profesor menjadi ateis?
5)
Ateis bukan berarti tidak cerdas
6)
Dalam Al-Qur'an, masalahnya tak sekadar
“punya akal”
7)
Kesalahan logika perlu dihindari
Penjelasan.
A.
Al-Qur’an akui manusia punya ilmu, tapi
bisa salah arah
QS. Az-Zariyat (51:20–21)
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ
20. Dan di bumi ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang
yakin.
وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا
تُبْصِرُونَ
21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak
memperhatikan?
Catatan.
1)
“Dan di bumi ada tanda bagi
orang-orang yang yakin, dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak
memperhatikan?”
Logika
1)
Punya ilmu tentang alam
2)
Belum tentu hasilkan kesimpulan
metafisik yang sama.
1)
Profesor fisika bisa sangat ahli.
2)
Menjelaskan cara alam bekerja.
3)
Tapi pertanyaan
a.
“mengapa alam ada?”
b.
“apakah ada Tuhan?”
Pada tingkat filsafat/metafisika lebih
luas.
B.
Cerdas tak otomatis beriman
1)
Al-Qur'an sebut orang punya
pengetahuan.
2)
Tapi tak bisa ambil pelajaran.
QS. Al-A'raf (7:179)
لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا
“Mereka punya hati, tapi tidak dipakai
untuk memahami...”
catatan.
1)
Tak berarti orang ateis pasti bodoh.
2)
Al-Qur'an ajarkan.
a.
Kemampuan intelektual
b.
Harus disertai kemampuan memahami dan
menerima kebenaran.
C.
Akal manusia punya batas
Contoh
1)
Mata
Tak bisa melihat gelombang radio.
2)
Telinga
Tak bisa mendengar semua frekuensi.
3)
Mikroskop
Tak bisa mengukur moral.
4)
Termometer
a.
Tak bisa menentukan
b.
Suatu tindakan adil atau zalim.
1)
Alat hebat untuk 1 bidang.
2)
Belum tentu cocok untuk semua soal.
3)
Sains menjawab pertanyaan
“bagaimana?”.
4)
Tapi tak selalu bisa jawab seluruh
pertanyaan “mengapa?”
D.
Mengapa ada profesor menjadi ateis?
Secara logika.
Beberapa sebabnya
yaitu:
1)
Perbedaan standar bukti.
2)
Pengalaman hidup.
3)
Latar belakang filsafat.
4)
Masalah kejahatan dan penderitaan.
5)
Kesimpulan pribadi.
1.
Perbedaan standar bukti.
1)
Ateis berkata,
a.
“Saya belum menemukan bukti cukup.
b.
Untuk percaya pada Tuhan.”
2.
pengalaman hidup.
1)
Pengalaman buruk
2)
Manusia beragama atau institusi agama.
3)
Pengaruhi pandangan orang.
4)
Tapi harus dibedakan
a.
Salah manusia beragama
b.
Benar-salahnya agama.
3.
Latar belakang filsafat.
1)
Profesor pakai materialis.
2)
Sebagai kerangka berpikir:
a.
Yang dianggap benar
b.
Yang dapat diuji empiris.
4.
Masalah kejahatan dan penderitaan.
1)
Orang bertanya:
Jika Tuhan Maha Baik dan Maha Kuasa.
Mengapa ada penderitaan?
2)
Salah satu argumen filosofis.
3)
Membuat orang jadi agnostik atau
ateis.
5.
Kesimpulan pribadi.
1)
Ada 2 orang pakai data sama.
2)
Tapi beda kesimpulan.
3)
Karena asumsi filosofis
4)
Mereka berbeda.
E.
Ateis tidak berarti tidak cerdas
1)
Ini penting.
2)
Ateisme bukan ukuran IQ.
3)
Ada orang beriman sangat cerdas.
4)
Ada ateis sangat cerdas.
5)
Ada orang beriman dan ateis.
6)
Kemampuan berpikirnya biasa.
Demikian juga:
1)
orang pintar tak pasti benar.
2)
Profesor ahli matematika
Belum tentu ahli sejarah.
3)
Dokter sangat ahli
Belum tentu ahli filsafat.
F.
Dalam Al-Qur'an.
Masalahnya tak sekadar “punya akal”
1)
Al-Qur'an berkali-kali ajak berpikir:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kamu menggunakan akal?”
Dan:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ
“Tidakkah mereka merenungkan?”
1)
Islam tak matikan akal
2)
Untuk jadi orang beriman.
3)
Tapi akal dipakai untuk
a.
Amati alam.
b.
Manusia.
c.
Kehidupan.
d.
Kematian.
e.
Teraturnya ciptaan.
G.
Kesalahan logika
1)
Jangan mengatakan:
“Profesor itu ateis, berarti dia
bodoh.”
2)
Itu ad hominem—menyerang orangnya.
Bukan bahas argumen.
3)
Lebih baik katakan:
a.
“Profesor cerdas dalam bidangnya.
b.
Tapi cerdas ilmiah.
c.
Tak otomatis simpulkan tentang Tuhan.
4)
Yang harus diperiksa
a.
Argumen
b.
Bukti yang dipakai.
Kesimpulan
1)
Ilmu → tahu banyak hal
2)
Akal → olah pengetahuan
3)
Filsafat → tanya makna dan dasar
realitas
4)
Hati/sikap → menentukan orang
merespons kebenaran
5)
Iman → terima kebenaran Allah berdasar
dalil dan keyakinan
Profesor sangat cerdas.
Tapi ateis/agnostic
Karena
1)
Kecerdasan akademik.
2)
Keyakinan metafisik
Hal berbeda.
Dalam Islam.
1)
Tak merendahkan ateis/agnostic.
2)
Tapi menguji argumennya
3)
Dengan ilmu, akal, dan akhlak.
Sumber
1)
Tafsir Quran Perkata DR
M Hatta.
2)
Tafsirq.com
3)
ChatGPT.


0 comments:
Post a Comment