ALQURAN PASTI BENAR TAPI MANUSIA BISA
SALAH PAHAM
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Ada 6 tanda.
Dewasa beragama.
Yaitu:
1.
Agama
sebagai kekuatan motivasi.
2.
Membentuk
akhlak konsisten.
3.
Komprehensif
(berpikir terbuka).
4.
Integral
(menyatu).
5.
Heuristik
(selalu ingin berkembang).
6.
Koreksi
kelebihan dan kekurangan.
1.
Agama
sebagai kekuatan motivasi
Agama.
1)
Jadi kekuatan.
2)
Memberi
motivasi.
3)
Untuk
menjalani hidup.
Dengan
baik.
4)
Tak
jadi sumber konflik.
5)
Tak
jadi beban hidup.
6)
Tak
jadi sumber gelisah.
2. Agama
membentuk akhlak baik konsisten
Agama menciptakan sikap moral dan
perilaku baik yang istikamah.
Yaitu sikap teguh pendirian.
Konsisten berbuat baik.
Tak angin-anginan.
2.
Komprehensif
Yaitu pikirannya terbuka.
Tak sempit.
Bisa melihat utuh dan menyeluruh.
Tak mengaku dirinya satu-satunya yang
paling benar.
Paham pendapat lain yang berbeda.
4. Integral
Nilai agama hidup menyatu dalam
dirinya.
Tak terjadi konflik dalam dirinya.
Menyatu paket lengkap jasmani dan
rohani.
Seimbang urusan dunia dan akhirat.
Teratur dalam beribadah dan bekerja.
Serasi dalam kegiatan dan istirahat.
5. Heuristic
Sadar dirinya manusia biasa.
Bisa benar dan salah.
Selalu mencari yang lebih baik dan
lebih benar.
Ingin selalu berproses.
Selalu menambah wawasan.
Terus ingin berkembang.
Terbuka menerima saran orang lain.
Tak fanatik dan tak menutup diri.
7. Koreksi
kelebihan dan kekurangan
Cirinya:
1)
Patuh
beragama.
Taat
menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
Jika
tak taat itu bukan beragama.
Tapi
hanya ilmu filsafat.
2)
Observatif.
Mencari
dalil argumennya yang lebih kuat dalam beragama.
3)
Kritis.
Memakai
akal sehat.
Meneliti
kebenaran argumen.
4)
Reflektif.
Mengevaluasi
diri sendiri.
Selalu
memperbaiki diri.
Agar
lebih baik.
5)
Tak
dogmatis.
Dogma
artinya.
Harus
diterima.
Tak
boleh dibantah.
Tak
dogmatis.
Artinya
diterima tapi diteliti lebih dulu.
Manusia
bisa salah dan keliru.
Maka
perlu diteliti lagi.
Tak
dogmatis.
Artinya
bisa menerima hal baru yang lebih kuat.
Dan
bersifat terbuka
Berani
mengaku salah, jika memang salah.
6)
Tak
fanatik.
Mau
evaluasi diri sendiri.
Misalnya.
Al-Quran
pasti benar.
Tapi
manusia dalam memahami ayat.
Dalam
Al-Quran bisa salah.
Sehingga
perlu diteliti lagi.
(Ngaji Filsafat Dr Fahrudin Faiz)
0 comments:
Post a Comment