Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, May 30, 2018

861. PARIT

MUKJIZAT NABI MUHAMMAD DALAM PERANG PARIT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

     Tahun 627 Masehi, bulan Syawal, tahun ke-5 Hijriah terjadi Perang Khandaq (Perang Parit atau Perang Ahzab), perang antara pasukan Islam melawan pasukan gabungan Quraisy, Yahudi, dan lainnya di utara Madinah.
      Umat Islam di Madinah dikeroyok pasukan koalisi (suku Quraisy, Gathafan, Yahudi Bani Nadhir dan Yahudi Qaynuqa) yang dibantu suku lainnya mengepung Madinah. 
      Madinah ditempati suku Aus, suku Khazraj, Yahudi Bani Qaynuqa, Yahudi Bani Nadhir, dan Yahudi Bani  Quraizhah. Kelompok Yahudi Bani Qaynuka bersekutu dengan Bani Khazraj,  Yahudi Quraizhah bersekutu dengan suku Aus.
       Nabi Muhammad telah menandatangani perjanjian Piagam Madinah dengan kelompok Yahudi untuk bersama menjaga Madinah dari musuh yang datang dari luar Madinah.
      Tetapi kelompok Yahudi Quraizhah melanggar perjanjian yang telah disepakati,  Nabi Muhammad mengusir kelompok Yahudi Bani Quraizhah keluar dari Madinah, mereka tinggal di Khaibar, di luar kota Madinah.
      Yahudi Bani Nadhir berkhianat kepada Nabi, mereka pintar dalam bisnis dan perdagangan sehingga menguasai ekonomi, tetapi mereka tidak terlatih berperang mengangkat senjata.
      Pasukan Islam menang dalam Perang Badar, sehingga pamor pasukan Islam tinggi. Kelompok Yahudi di Madinah tiarap, tidak berani langsung menghadapi umat Islam, tetapi suka mengganggu dan mengadu domba umat Islam yang berasal dari suku Aus dan suku Kharaj.
       Pasukan Islam “kalah” dalam Perang Uhud berakhir, sehingga Yahudi Bani Nadhir muai berani menampakkan permusuhan dengan menjalin kesepakatan dengan musuh Islam dan melanggar perjanjian.
      Yahudi Bani Nadhir mencoba membunuh Nabi Muhammad dengan menjatuhkan gilingan gandum, tetapi gagal. Nabi mengusir Yahudi Ban Nadhir keluar dari Madinah, mereka pindah ke daerah Khaibar.
      Kelompok Yahudi Bani Nadhir dan Yahudi Bani Quraizhah menyimpan dendam kepada Nabi Muhammad, mereka mencari dukungan untuk melawan umat Islam dengan mendatangi suku Quraisy, suku Gathafan, dan suku lainnya.
      Sekitar 10.000 pasukan gabungan bergerak untuk menghancurkan Madinah, sedangkan jumlah pasukan muslim sekitar 3.000 orang. Sungguh kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
      Nabi Muhamad menyiapkan strategi pertahanan menghadapi pasukan kafir yang berjumlah lebih banyak.
      Salman Al-Farisi berasal dari Persia, baru saja memeluk Islam mahir dalam strategi perang. Salman mengusulkan membangun “sistem pertahanan parit” di sepanjang perbatasan utara Madinah untuk menghambat pergerakan musuh.
      Salman berkata, ”Wahai Nabi, kebiasaan kami di Persia. Jika kami diserang musuh, kami membuat parit untuk menghalangi serangan mereka.” Nabi menerima usul tersebut.
      Sebelah timur  Madinah terdapat pegunungan yang sulit dilewati kuda dan onta, sebelah barat Madinah berupa pegunungan bebatuan tajam, sebelah selatan Madinah penuh pohon kurma, sebelah tenggara Madinah terdapat benteng Yahudi suku Quraizhah, dan sebelah utara Madinah berupa lapangan terbuka.
      Pasukan musuh gabungan pasti masuk lewat daerah utara Madinah, meskipun mereka berdatangan dari arah selatan Madinah, sehingga medan peperangan di berada di utara Madinah.
      Nabi dan para sahabat berkemah di utara Madinah, di bukit gunung Sala. Kaum muslim mulai menggali parit sedalam 7 meter, selebar 15 meter sepanjang 10 km untuk menghambat pasukan musuh.
      Nabi membuat peta penggalian dan membagi kelompok penggalian. Penggalian parit berlangsung 6 hari dikerjakan tanpa berhenti siang dan malam, karena pasukan musuh dalam perjalanan.
      Jumlah pasukan kafir lebih banyak dibandingkan jumlah seluruh penduduk Madinah dan mereka bersenjata lebih lengkap siap menghancurkan umat Islam di Madinah.
      Waktu itu musim dingin sehingga umat muslim kekurangan makanan. Para sahabat mengganjal perutnya dengan batu, Nabi mengganjal perutnya dengan dua buah batu untuk menahan lapar.
      Nabi Bersabda,”Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang lebih baik adalah kehidupan akhirat. Ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin. Mereka menjawab, ”Kami telah berbaiat kepada Nabi Muhammad. Kami siap berjihad selama masih hidup.”
      Nabi Muhammad ikut terlibat langsung menggali, mengangkat bebatuan, tanah dan bebatuan galian ditaruh di sisi pasukan Nabi. Bongkahan bebatuan diletakkan di depan pasukan Nabi sebagai tameng pelindung dan sebagai senjata untuk melempari pasukan musuh.
      Mukjizat Nabi Muhammad dalam Perang Parit adalah berikut ini.
      Ke-1, Jabir bin Abdullah melihat Nabi amat lapar, dia pulang ke rumah menyembelih seekor domba kecil dan istrinya memasak satu sak tepung gandum. Setelah masak Jabir membisiki Nabi Muhamad agar datang ke rumahnya dengan beberapa sahabat saja.
      Nabi berdiri di atas sebuah batu mengumumkan kepada sekitar seribu orang yang menggali parit. “Wahai kaum Muhajirin dan Ansar. Marilah kita makan di rumah Jabir.” Jabir terkejut dan pucat, “Innalillahi.”
      Jabir memasak hanya cukup beberapa orang saja, tetapi Nabi Muhammad mengajak semua orang yang berada di parit, sekitar seribu orang, untuk makan di rumahnya.
      Jabir berlari pulang menjumpai istrinya, mengabarkan Nabi akan datang beserta semua orang. Istri Jabir pucat sambil berkata, ”Nabi Muhammad berpesan apa?” Jabir menjawab, “Tempat masakan, jangan disentuh.”
      Sungguh aneh, makanan yang sedikit, tetapi cukup dimakan seribu orang yang tidak makan selama tiga hari, setelah tiap sepuluh orang bergantian makan, semuanya  kenyang, makanan masih bersisa.
      Ke-2, Nukman bin Basyir datang ke penggalian parit membawa setangkup kurma untuk diberikan ayah dan pamannya. Dia lewat di dekat Nabi, Nabi meminta kurma tersebut, lalu kurma diletakkan di atas selembar kain.
      Nabi memanggil semua orang yang menggali parit untuk memakannya, semua orang sudah makan, tetapi kurma masih bersisa. Bahkan jumlahnya lebih banyak sebagian tercecer keluar hamparan kain. 
      Ke-3, Al-Barra berkata, “Kami menggali parit menemukan batu besar yang amat keras yang tidak dapat dipecah. Kami melaporkan kepada Nabi, lalu Nabi turun mendekati batu tersebut dan mengangkat cangkul sambil bersabda, “Bismillah, Allahu akbar.” Dengan tiga kali pukulan, batu keras itu hancur berkeping-keping.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004.
4. Hatta, Ahmad. Tafsir  Al-Quran Per Kata. Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah. Jakarta, 2011.
5. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
6. Tafsirq.com online.

861. PARIT

MUKJIZAT NABI MUHAMMAD DALAM PERANG PARIT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

     Tahun 627 Masehi, bulan Syawal, tahun ke-5 Hijriah terjadi Perang Khandaq (Perang Parit atau Perang Ahzab), perang antara pasukan Islam melawan pasukan gabungan Quraisy, Yahudi, dan lainnya di utara Madinah.
      Umat Islam di Madinah dikeroyok pasukan koalisi (suku Quraisy, Gathafan, Yahudi Bani Nadhir dan Yahudi Qaynuqa) yang dibantu suku lainnya mengepung Madinah. 
      Madinah ditempati suku Aus, suku Khazraj, Yahudi Bani Qaynuqa, Yahudi Bani Nadhir, dan Yahudi Bani  Quraizhah. Kelompok Yahudi Bani Qaynuka bersekutu dengan Bani Khazraj,  Yahudi Quraizhah bersekutu dengan suku Aus.
       Nabi Muhammad telah menandatangani perjanjian Piagam Madinah dengan kelompok Yahudi untuk bersama menjaga Madinah dari musuh yang datang dari luar Madinah.
      Tetapi kelompok Yahudi Quraizhah melanggar perjanjian yang telah disepakati,  Nabi Muhammad mengusir kelompok Yahudi Bani Quraizhah keluar dari Madinah, mereka tinggal di Khaibar, di luar kota Madinah.
      Yahudi Bani Nadhir berkhianat kepada Nabi, mereka pintar dalam bisnis dan perdagangan sehingga menguasai ekonomi, tetapi mereka tidak terlatih berperang mengangkat senjata.
      Pasukan Islam menang dalam Perang Badar, sehingga pamor pasukan Islam tinggi. Kelompok Yahudi di Madinah tiarap, tidak berani langsung menghadapi umat Islam, tetapi suka mengganggu dan mengadu domba umat Islam yang berasal dari suku Aus dan suku Kharaj.
       Pasukan Islam “kalah” dalam Perang Uhud berakhir, sehingga Yahudi Bani Nadhir muai berani menampakkan permusuhan dengan menjalin kesepakatan dengan musuh Islam dan melanggar perjanjian.
      Yahudi Bani Nadhir mencoba membunuh Nabi Muhammad dengan menjatuhkan gilingan gandum, tetapi gagal. Nabi mengusir Yahudi Ban Nadhir keluar dari Madinah, mereka pindah ke daerah Khaibar.
      Kelompok Yahudi Bani Nadhir dan Yahudi Bani Quraizhah menyimpan dendam kepada Nabi Muhammad, mereka mencari dukungan untuk melawan umat Islam dengan mendatangi suku Quraisy, suku Gathafan, dan suku lainnya.
      Sekitar 10.000 pasukan gabungan bergerak untuk menghancurkan Madinah, sedangkan jumlah pasukan muslim sekitar 3.000 orang. Sungguh kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
      Nabi Muhamad menyiapkan strategi pertahanan menghadapi pasukan kafir yang berjumlah lebih banyak.
      Salman Al-Farisi berasal dari Persia, baru saja memeluk Islam mahir dalam strategi perang. Salman mengusulkan membangun “sistem pertahanan parit” di sepanjang perbatasan utara Madinah untuk menghambat pergerakan musuh.
      Salman berkata, ”Wahai Nabi, kebiasaan kami di Persia. Jika kami diserang musuh, kami membuat parit untuk menghalangi serangan mereka.” Nabi menerima usul tersebut.
      Sebelah timur  Madinah terdapat pegunungan yang sulit dilewati kuda dan onta, sebelah barat Madinah berupa pegunungan bebatuan tajam, sebelah selatan Madinah penuh pohon kurma, sebelah tenggara Madinah terdapat benteng Yahudi suku Quraizhah, dan sebelah utara Madinah berupa lapangan terbuka.
      Pasukan musuh gabungan pasti masuk lewat daerah utara Madinah, meskipun mereka berdatangan dari arah selatan Madinah, sehingga medan peperangan di berada di utara Madinah.
      Nabi dan para sahabat berkemah di utara Madinah, di bukit gunung Sala. Kaum muslim mulai menggali parit sedalam 7 meter, selebar 15 meter sepanjang 10 km untuk menghambat pasukan musuh.
      Nabi membuat peta penggalian dan membagi kelompok penggalian. Penggalian parit berlangsung 6 hari dikerjakan tanpa berhenti siang dan malam, karena pasukan musuh dalam perjalanan.
      Jumlah pasukan kafir lebih banyak dibandingkan jumlah seluruh penduduk Madinah dan mereka bersenjata lebih lengkap siap menghancurkan umat Islam di Madinah.
      Waktu itu musim dingin sehingga umat muslim kekurangan makanan. Para sahabat mengganjal perutnya dengan batu, Nabi mengganjal perutnya dengan dua buah batu untuk menahan lapar.
      Nabi Bersabda,”Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang lebih baik adalah kehidupan akhirat. Ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin. Mereka menjawab, ”Kami telah berbaiat kepada Nabi Muhammad. Kami siap berjihad selama masih hidup.”
      Nabi Muhammad ikut terlibat langsung menggali, mengangkat bebatuan, tanah dan bebatuan galian ditaruh di sisi pasukan Nabi. Bongkahan bebatuan diletakkan di depan pasukan Nabi sebagai tameng pelindung dan sebagai senjata untuk melempari pasukan musuh.
      Mukjizat Nabi Muhammad dalam Perang Parit adalah berikut ini.
      Ke-1, Jabir bin Abdullah melihat Nabi amat lapar, dia pulang ke rumah menyembelih seekor domba kecil dan istrinya memasak satu sak tepung gandum. Setelah masak Jabir membisiki Nabi Muhamad agar datang ke rumahnya dengan beberapa sahabat saja.
      Nabi berdiri di atas sebuah batu mengumumkan kepada sekitar seribu orang yang menggali parit. “Wahai kaum Muhajirin dan Ansar. Marilah kita makan di rumah Jabir.” Jabir terkejut dan pucat, “Innalillahi.”
      Jabir memasak hanya cukup beberapa orang saja, tetapi Nabi Muhammad mengajak semua orang yang berada di parit, sekitar seribu orang, untuk makan di rumahnya.
      Jabir berlari pulang menjumpai istrinya, mengabarkan Nabi akan datang beserta semua orang. Istri Jabir pucat sambil berkata, ”Nabi Muhammad berpesan apa?” Jabir menjawab, “Tempat masakan, jangan disentuh.”
      Sungguh aneh, makanan yang sedikit, tetapi cukup dimakan seribu orang yang tidak makan selama tiga hari, setelah tiap sepuluh orang bergantian makan, semuanya  kenyang, makanan masih bersisa.
      Ke-2, Nukman bin Basyir datang ke penggalian parit membawa setangkup kurma untuk diberikan ayah dan pamannya. Dia lewat di dekat Nabi, Nabi meminta kurma tersebut, lalu kurma diletakkan di atas selembar kain.
      Nabi memanggil semua orang yang menggali parit untuk memakannya, semua orang sudah makan, tetapi kurma masih bersisa. Bahkan jumlahnya lebih banyak sebagian tercecer keluar hamparan kain. 
      Ke-3, Al-Barra berkata, “Kami menggali parit menemukan batu besar yang amat keras yang tidak dapat dipecah. Kami melaporkan kepada Nabi, lalu Nabi turun mendekati batu tersebut dan mengangkat cangkul sambil bersabda, “Bismillah, Allahu akbar.” Dengan tiga kali pukulan, batu keras itu hancur berkeping-keping.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004.
4. Hatta, Ahmad. Tafsir  Al-Quran Per Kata. Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah. Jakarta, 2011.
5. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
6. Tafsirq.com online.

861. PARIT

MUKJIZAT NABI MUHAMMAD DALAM PERANG PARIT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

     Tahun 627 Masehi, bulan Syawal, tahun ke-5 Hijriah terjadi Perang Khandaq (Perang Parit atau Perang Ahzab), perang antara pasukan Islam melawan pasukan gabungan Quraisy, Yahudi, dan lainnya di utara Madinah.
      Umat Islam di Madinah dikeroyok pasukan koalisi (suku Quraisy, Gathafan, Yahudi Bani Nadhir dan Yahudi Qaynuqa) yang dibantu suku lainnya mengepung Madinah. 
      Madinah ditempati suku Aus, suku Khazraj, Yahudi Bani Qaynuqa, Yahudi Bani Nadhir, dan Yahudi Bani  Quraizhah. Kelompok Yahudi Bani Qaynuka bersekutu dengan Bani Khazraj,  Yahudi Quraizhah bersekutu dengan suku Aus.
       Nabi Muhammad telah menandatangani perjanjian Piagam Madinah dengan kelompok Yahudi untuk bersama menjaga Madinah dari musuh yang datang dari luar Madinah.
      Tetapi kelompok Yahudi Quraizhah melanggar perjanjian yang telah disepakati,  Nabi Muhammad mengusir kelompok Yahudi Bani Quraizhah keluar dari Madinah, mereka tinggal di Khaibar, di luar kota Madinah.
      Yahudi Bani Nadhir berkhianat kepada Nabi, mereka pintar dalam bisnis dan perdagangan sehingga menguasai ekonomi, tetapi mereka tidak terlatih berperang mengangkat senjata.
      Pasukan Islam menang dalam Perang Badar, sehingga pamor pasukan Islam tinggi. Kelompok Yahudi di Madinah tiarap, tidak berani langsung menghadapi umat Islam, tetapi suka mengganggu dan mengadu domba umat Islam yang berasal dari suku Aus dan suku Kharaj.
       Pasukan Islam “kalah” dalam Perang Uhud berakhir, sehingga Yahudi Bani Nadhir muai berani menampakkan permusuhan dengan menjalin kesepakatan dengan musuh Islam dan melanggar perjanjian.
      Yahudi Bani Nadhir mencoba membunuh Nabi Muhammad dengan menjatuhkan gilingan gandum, tetapi gagal. Nabi mengusir Yahudi Ban Nadhir keluar dari Madinah, mereka pindah ke daerah Khaibar.
      Kelompok Yahudi Bani Nadhir dan Yahudi Bani Quraizhah menyimpan dendam kepada Nabi Muhammad, mereka mencari dukungan untuk melawan umat Islam dengan mendatangi suku Quraisy, suku Gathafan, dan suku lainnya.
      Sekitar 10.000 pasukan gabungan bergerak untuk menghancurkan Madinah, sedangkan jumlah pasukan muslim sekitar 3.000 orang. Sungguh kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
      Nabi Muhamad menyiapkan strategi pertahanan menghadapi pasukan kafir yang berjumlah lebih banyak.
      Salman Al-Farisi berasal dari Persia, baru saja memeluk Islam mahir dalam strategi perang. Salman mengusulkan membangun “sistem pertahanan parit” di sepanjang perbatasan utara Madinah untuk menghambat pergerakan musuh.
      Salman berkata, ”Wahai Nabi, kebiasaan kami di Persia. Jika kami diserang musuh, kami membuat parit untuk menghalangi serangan mereka.” Nabi menerima usul tersebut.
      Sebelah timur  Madinah terdapat pegunungan yang sulit dilewati kuda dan onta, sebelah barat Madinah berupa pegunungan bebatuan tajam, sebelah selatan Madinah penuh pohon kurma, sebelah tenggara Madinah terdapat benteng Yahudi suku Quraizhah, dan sebelah utara Madinah berupa lapangan terbuka.
      Pasukan musuh gabungan pasti masuk lewat daerah utara Madinah, meskipun mereka berdatangan dari arah selatan Madinah, sehingga medan peperangan di berada di utara Madinah.
      Nabi dan para sahabat berkemah di utara Madinah, di bukit gunung Sala. Kaum muslim mulai menggali parit sedalam 7 meter, selebar 15 meter sepanjang 10 km untuk menghambat pasukan musuh.
      Nabi membuat peta penggalian dan membagi kelompok penggalian. Penggalian parit berlangsung 6 hari dikerjakan tanpa berhenti siang dan malam, karena pasukan musuh dalam perjalanan.
      Jumlah pasukan kafir lebih banyak dibandingkan jumlah seluruh penduduk Madinah dan mereka bersenjata lebih lengkap siap menghancurkan umat Islam di Madinah.
      Waktu itu musim dingin sehingga umat muslim kekurangan makanan. Para sahabat mengganjal perutnya dengan batu, Nabi mengganjal perutnya dengan dua buah batu untuk menahan lapar.
      Nabi Bersabda,”Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang lebih baik adalah kehidupan akhirat. Ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin. Mereka menjawab, ”Kami telah berbaiat kepada Nabi Muhammad. Kami siap berjihad selama masih hidup.”
      Nabi Muhammad ikut terlibat langsung menggali, mengangkat bebatuan, tanah dan bebatuan galian ditaruh di sisi pasukan Nabi. Bongkahan bebatuan diletakkan di depan pasukan Nabi sebagai tameng pelindung dan sebagai senjata untuk melempari pasukan musuh.
      Mukjizat Nabi Muhammad dalam Perang Parit adalah berikut ini.
      Ke-1, Jabir bin Abdullah melihat Nabi amat lapar, dia pulang ke rumah menyembelih seekor domba kecil dan istrinya memasak satu sak tepung gandum. Setelah masak Jabir membisiki Nabi Muhamad agar datang ke rumahnya dengan beberapa sahabat saja.
      Nabi berdiri di atas sebuah batu mengumumkan kepada sekitar seribu orang yang menggali parit. “Wahai kaum Muhajirin dan Ansar. Marilah kita makan di rumah Jabir.” Jabir terkejut dan pucat, “Innalillahi.”
      Jabir memasak hanya cukup beberapa orang saja, tetapi Nabi Muhammad mengajak semua orang yang berada di parit, sekitar seribu orang, untuk makan di rumahnya.
      Jabir berlari pulang menjumpai istrinya, mengabarkan Nabi akan datang beserta semua orang. Istri Jabir pucat sambil berkata, ”Nabi Muhammad berpesan apa?” Jabir menjawab, “Tempat masakan, jangan disentuh.”
      Sungguh aneh, makanan yang sedikit, tetapi cukup dimakan seribu orang yang tidak makan selama tiga hari, setelah tiap sepuluh orang bergantian makan, semuanya  kenyang, makanan masih bersisa.
      Ke-2, Nukman bin Basyir datang ke penggalian parit membawa setangkup kurma untuk diberikan ayah dan pamannya. Dia lewat di dekat Nabi, Nabi meminta kurma tersebut, lalu kurma diletakkan di atas selembar kain.
      Nabi memanggil semua orang yang menggali parit untuk memakannya, semua orang sudah makan, tetapi kurma masih bersisa. Bahkan jumlahnya lebih banyak sebagian tercecer keluar hamparan kain. 
      Ke-3, Al-Barra berkata, “Kami menggali parit menemukan batu besar yang amat keras yang tidak dapat dipecah. Kami melaporkan kepada Nabi, lalu Nabi turun mendekati batu tersebut dan mengangkat cangkul sambil bersabda, “Bismillah, Allahu akbar.” Dengan tiga kali pukulan, batu keras itu hancur berkeping-keping.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004.
4. Hatta, Ahmad. Tafsir  Al-Quran Per Kata. Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah. Jakarta, 2011.
5. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
6. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.

860. SALMAN

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Salman Al-Farisi (lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran dan meninggal tahun 657 Masehi di Irak), selama berada di Madinah Salman Al-Farisi dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi lahir di desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran, anak kesayangan seorang pemimpin desa beragama Majusi yang menyembah api. Salman Al-Farisi masih remaja bertugas menjaga api agar tidak padam.
      Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang, dia mendengar suara kebaktian di gereja, lalu Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang-orang Kristen dari negeri Syam datang mengunjungi rumah orang tua Salman, akibatnya Salman dikurung di rumah oleh ayahnya dan dilarang bergaul dengan orang asing.
     Salman Al-Farisi minggat dari rumah mengikuti rombongan pedagang Syam.  Setiba di Syam Salman Al-Farisi menempati komplek gereja sebagai pelayan jemaat bersama seorang uskup.
      Uskup orang jahat yang menyalahgunakan jabatannya, memerintahkan orang bersedekah, tetapi hasilnya untuk kekayaan pribadinya sendiri.
     Uskup meninggal, masyarakat akan melakukan pemakaman. Salman Al-Farisi membuka rahasia bahwa uskup adalah orang jahat, ditunjukkan tempat penyimpanan perhiasan yang tersembunyi, ditemukan tujuh kotak emas dan perak.
      Masyarakat marah, jenazah uskup dilempari batu dan mereka memilih uskup baru yang baik, tekun beribadah, berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal dunia, telah memberikan rekomendasi agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Al-Maushil.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Al-Mausahl dan menjelaskan masalahnya.      Uskup di Al-Maushil orangnya baik, sikap dan perilakunya terpuji. Sebelum uskup meninggal telah merekomendasikan agar Salman Al-Farisi menjumpai uskup di Nashibin.
      Salman Al-Farisi mendatangi uskup di Ammuriyah, Romawi, dan tinggal bersamanya. Salman Al-Farisi telah memiliki sejumlah sapi dan kambing. Sebelum meninggal, uskup berwasiat tentang akan munculnya nabi baru yang membawa ajaran agama Ibrahim di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri tempat hijrah nabi baru di wilayah Arab yang diapit gunung berbatu hitam dan banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan kepada Salman, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan tanda-tanda kenabian yang tampak dari luar dan dapat dilihat dengan mata manusia.
      Ke-1, Nabi baru  tidak mau menerima sedekah. Ke-2, Nabi baru mau menerima hadiah. Ke-3, Nabi baru mempunyai stempel kenabian berupa benjolan kecil di punggung belakang di antara kedua bahunya.
     Salman Al-Farisi menjumpai rombongan pedagang dari Arab dan menyampaikan maksudnya untuk ikut rombongan pergi ke negeri Arab. 
      Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing, tetapi rombongan pedagang Arab berbuat jahat, Salman Al-Farisi dijadikan budak dan dijual di pasar Arab.
      Salman Al-Farisi dibeli orang dan dibawa pulang ke Madinah yang banyak tumbuh pohon kurma, tetapi Salman Al-Farisi belum yakin bahwa Madinah adalah wilayah munculnya nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli dan dibawa ke daerah kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Salman mulai yakin bahwa Madinah adalah wilayah nabi baru seperti dijelaskan uskup di Ammuriyah.
    Nabi Muhammad masih berada di Mekah, Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak merawat pohon kurma untuk majikannya, lalu Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah dan tinggal di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas pohon kurma ketika seseorang berteriak, “Orang-orang berkumpul di Quba menyambut orang dari Mekah, mereka mengatakan bahwa dia adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh mendengar teriakan orang tersebut. 
     Pertemuan pertama, Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba dengan membawa makanan untuk diberikan kepada Nabi.
      Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar bahwa engkau orang baik, engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan, aku membawa sedekah untuk kalian.”
      Nabi menerima sedekah dan para sahabat memakannya, tetapi Nabi tidak ikut makan. Salman Al-Farisi bergumam, “Ini bukti pertama bahwa nabi baru tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin kembali ke rumah majikan.
     Pertemuan kedua, Nabi Muhammad telah pindah dari Quba ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi dengan membawa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah, saya datang membawa hadiah untukmu, terimalah hadiah khusus dariku untukmu.”
      Nabi menerima hadiah tersebut dan ikut menikmatinya bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini bukti kedua bahwa nabi baru mau makan harta hadiah.” 
      Pertemuan ketiga, Nabi Muhammad mengantar jenazah di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi sedang duduk bersama para sahabat, Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat stempel kenabian di punggung Nabi dan Nabi menyadarinya, lalu Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat stempel tanda kenabian dengan jelas berada di punggung Nabi seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis, mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan mencium punggung Nabi. Nabi bersabda, “Berputarlah, menghadap kepadaku dan ceritakan semuanya.”
      Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya, kisah perjalanannya mencari nabi baru, berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja sebagai budak dan tidak ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang lainnya karena masih berstatus budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman, tulislah perjanjian dengan majikanmu agar kamu bebas.” Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya supaya terlepas dari status budak dengan menanam 300 pohon kurma dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat, bantulah saudaramu Salman Al-Farisi untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu, Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri.
      Nabi membawa emas sebesar telur ayam seberat 40 ons diberikan kepada Salman untuk membayar kebebasan dirinya dari satus budak menjadi orang merdeka.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka langsung mengikuti Perang Khandaq (Perang Parit). Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang dengan membuat parit mengelilingi Madinah untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi, meskipun berjumlah lebih banyak, tetapi hanya berputar-putar saja, tidak mampu masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan, pengepungan berlangsung lebih dari sebulan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan, pasukan kafir kocar-kacir dan mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam Madinah selamat, sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.
5. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah.
6. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7. Tafsirq.com online.