MERITOKRASI DAN NEPOTISME DI QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron
Hadi, MM
Perbedaan.
1)
Meritokrasi.
2)
Nepotisme
Hal yang sangat berbeda.
1)
Terutama dalam memilih orang.
2)
Untuk
a.
Jabatan.
b.
Pekerjaan.
c.
Tanggung jawab.
A.
Arti MERITOKRASI
Meritokrasi
1)
Sistem memberi
a.
Jabatan.
b.
Kesempatan.
c.
Penghargaan.
d.
Kekuasaan.
2)
Berdasar
a.
Kemampuan.
b.
Prestasi.
c.
Kompetensi.
d.
Hasil kerja.
3)
Bukan karena
a.
Hubungan keluarga.
b.
Teman.
c.
Kekayaan.
d.
Kedekatan politik.
Contoh Meritokrasi
1)
Guru
a.
paling kompeten
b.
Jadi kepala sekolah
c.
Karena prestasi dan kemampuan
2)
Pegawai
a.
Dapat promosi.
b.
Karena hasil kerjanya bagus
3)
Siswa
a.
Dapat beasiswa.
b.
Karena prestasi akademik
4)
Pemain sepak bola
a.
Masuk tim
b.
Karena kemampuan bermainnya
A.
Arti NEPOTISME
Nepotisme
1)
Memberi jabatan atau keuntungan.
2)
Karena
a.
Hubungan keluarga.
b.
Kedekatan.
3)
Meskipun orang itu.
4)
Belum tentu paling mampu.
Contoh Nepotisme:
1)
Ada 2 orang melamar
2)
Jadi kepala perusahaan.
3)
A lebih kompeten.
4)
Tapi pemilik perusahaan
5)
Memilih saudaranya B
6)
Yang kurang mampu
7)
Hanya karena hubungan keluarga.
a.
Itu nepotisme.
b.
Bukan meritokrasi.
Dalam Al-Qur'an
1)
Prinsip meritokrasi
2)
Dekat keadilan dan amanah.
QS. An-Nisa' 4:58
1)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat pada yang berhak menerimanya dan jika kamu menetapkan hukum
agar menetapkan dengan adil.”
Artinya.
1)
Jabatan adalah amanah .
2)
Harus pada yang layak.
3)
Bukan semata pada orang dekat
Singkatnya:
1)
Meritokrasi
a.
Yang paling layak
b.
Berdasar kemampuan dan prestasi.
2)
Nepotisme
a.
Prioritas hubungan keluarga
b.
Prioritas kedekatan.
B.
Prinsip meritokrasi Al-Qur'an
1)
Al-Qur'an tak sebut “meritokrasi".
2)
Tapi prinsip pilih orang
3)
Berdasar
a.
Amanah
b.
Kemampuan.
QS. An-Nisa' 4:58
1)
Jabatan itu Amanah.
2)
Harus pada orang yang berhak.
Logikanya:
1)
Jabatan → amanah → harus diberikan pada
orang yang mampu dan layak.
Bukan:
1)
Jabatan → diberikan kepada
keluarga/teman → walaupun tidak mampu.
3. Al-Qur'an ingatkan keluarga dan kelompok
1)
Nepotisme jadi masalah.
2)
Hubungan keluarga
3)
Sebabkan orang dapat hak.
4)
Yang bukan miliknya.
QS. Al-Ma'idah 5:8
1)
"Berlaku adillah, karena adil itu
lebih dekat pada takwa."
2)
Artinya.
Tak boleh beri putusan
Hanya karena:
a.
saudara,
b.
teman,
c.
kelompok,
d.
organisasi,
e.
partai,
f. suku,
g.
orang kita sukai.
1)
Keadilan harus lebih tinggi.
2)
Daripada hubungan pribadi.
5. Logika sederhana: mengapa meritokrasi lebih sehat?
1)
Bayangkan sebuah kapal.
2)
Kapten harus dipilih
Karena:
a.
kemampuan mengemudi,
b.
pengalaman,
c.
pengetahuan,
d.
tanggung jawab.
3)
Bukan karena:
"Dia anak pemilik kapal."
4)
Kalau kapal hadapi badai.
a.
Butuh kemampuan.
b.
Bukan hubungan keluarga.
6. Meritokrasi juga tidak cukup
1)
Ini penting.
2)
Orang pintar tapi tidak jujur
Juga berbahaya.
3)
Misalnya:
a.
sangat pintar,
b.
kemampuan tinggi,
c.
prestasi tinggi,
d.
tapi korupsi.
Prinsip Al-Qur'an.
Yang ideal:
1)
Kemampuan + amanah + keadilan
QS. Al-Qasas 28:26
2)
"kuat" + "dapat
dipercaya".
3)
Tak sekadar:
Pintar → dapat jabatan.
a.
Mampu + amanah → layak diberi amanah.
Kesimpulan
1)
Meritokrasi:
"Pilih orang karena dia mampu dan layak."
2)
Nepotisme:
"Pilih orang karena dia keluarga atau orang dekat, meskipun belum
tentu paling layak."
Rumus
1)
Jabatan = Amanah
2)
Amanah = diberikan pada yang mampu +
dapat dipercaya
3)
Bukan pada yang dekat
Hanya hubungan keluarga.
5. Apakah memilih keluarga selalu nepotisme?
Jawaban : Tidak.
1)
Kalau anak pejabat
a.
Paling mampu, berpengalaman, jujur,
dan melalui proses seleksi adil
b.
Tak otomatis nepotisme.
2)
Yang menjadi masalah adalah:
a.
"Dia dipilih karena keluarganya.
b.
Bukan karena layak."
3)
Jadi ukuran utamanya
a.
Adil dalam proses
b.
Orangnya layak.
Kesimpulan
1)
Meritokrasi:
"Pilih karena mampu dan layak."
2)
Nepotisme:
"Pilih karena hubungan keluarga atau kedekatan."
Dalam Al-Qur'an.
1)
Jabatan itu Amanah.
2)
Diberikan pada yang mampu dan dapat
dipercaya.
3)
Tak sekadar orang dekat kita.
Sumber
1)
Tafsir Quran Perkata DR
M Hatta.
2)
Tafsirq.com
3)
ChatGPT.



