Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, March 4, 2025

39800. HUBUNGAN BADAN SUAMI ISTERI BULAN RAMADAN

 


HUBUNGAN BADAN SUAMI ISTERI DI BULAN RAMADAN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 183.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

     

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 184.

 

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

      

Yaitu dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antaramu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa dengan rela hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 185.

 

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (antara hak dan batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 187.

 

 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

     

 

     

Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan iste kamu; mereka pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah tahu bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campuri mereka dan cari apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minum hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakan puasa sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka, sedangkan kamu iktikaf dalam masjid. Itu larangan Allah, maka jangan kamu mendekatinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

 

Kalimat “wa 'alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha'amu miskin” .

 

(Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidiah.

Yaitu memberi makan seorang miskin).

 

Penggalan ayat ini .

Para ulama beda pendapat.

 

Sebagian ulama berpendapat

Awalnya Allah memberi alternatif.

 

Bagi orang yang wajib puasa.

Yaitu:

 

1)        Berpuasa.

2)        Tak puasa diganti bayar fidiah.

 

Sebagian ulama berpendapat

Bahwa ayat ini tentang:

 

1)        Musafir.

2)        Orang sakit.

3)        Orang berat puasa Ramadan.

 

Mereka boleh tidak berpuasa.

Tapi diganti bayar fidiah.

 

Mayoritas ulama berpendapat.

Penggalan ayat ini .

 

Tentang orang sudah tua.

Dan orang punya pekerjaan berat.

 

Berpuasa sangat memberatkan.

Tapi dia tak punya sumber rezeki lain.

 

Dalam kondisi ini.

Mereka boleh tak puasa Ramadan.

 

Dengan syarat bayar fidiah.

Termasuk orang sakit.

Tak mampu berpuasa.

 

Sebab memperlambat penyembuhan.

Juga wanita hamil dan menyusui.

 

Fidiah.

Yaitu memberi makan fakir dan miskin tiap hari.

Selama dia tak puasa Ramadan.

 

Besarnya fidiah.

 

Ada yang berpendapat.

Yaitu “setengah shak” (gantang).

 

Sekitar 3,125 gram.

Gandum, kurma, atau makanan pokok lain.

 

Ada yang menyatakan.

Yaitu  “satu mud”

Sekitar lima per enam liter.

 

Ada yang menentuan jumlahnya.

Pada kebiasaan warga.

 

Kalimat “uhilla lakum lailatash-shiyamir-rafatsu ila nisa'ikum”

(Dihalalkan kepadamu pada malam Ramadan bersetubuh dengan istrimu).

 

Ayat Al-Quran ini.

Membolehkan hubungan suami dan isteri.

Pada malam bulan Ramadan.

 

Termasuk mengeluarkan sperma.

Dengan cara apa pun.

 

Sebagian ulama menilai.

Berpelukan dan berciuman suami isteri.

Pada siang hari bulan Ramadan.

 

Hukumnya makruh.

Sebab bisa akibatkan keluarnya sperma.

 

Mayoritas ulama berpendapat

Suami isteri hubungan seks pada malam hari.

 

Tak harus mandi junub.

Sebelum terbitnya fajar.

Sebelum Subuh.

 

Tetapi wajib mandi junub.

Sebelum terbitnya matahari.

Untuk salat subuh.

 

Kalimat “wakulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumul khaith al-abyadhu minal khaithil aswadi minal fajr”

 

(makan dan minumlah sampai terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar).

 

Waktu imsak.

Biasanya 10 menit sebelum Subuh.

 

Imsak untuk mencegah.

Dan memberi peringatan.

 

Agar tak lagi melakukan terlarang.

 

Kalimat “tsumma atimmush shiyama ilal lail” .

(kemudian sempurnakan puasa itu sampai malam).

 

Artinya waktu berpuasa.

Mulai sejak terbit fajar.

Berakhir datangnya malam.

 

Para ulama berbeda pendapat .

Yang dimaksud “malam hari”.

 

Ada yang memahami “malam hari” .

Yaitu tenggelamnya matahari.

Meskipun masih ada mega merah.

 

Ada yang memahami.

Malam hari yaitu hilangnya mega merah.

Dan menyebarnya kegelapan.

 

 

Daftar Pustaka

1.                Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

2.                Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.                Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.                Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.                Tafsirq.com online.

39798. ISLAM AWAL ASSABIQUNAL AWWALUM DI SURGA

 



ISLAM AWAL ASSABIQUNAL AWWALUN MASUK SURGA

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Orang-orang  pertama masuk Islam.

Disebut “Assabiqunal Awwalun”.

 

Yaitu orang-orang terdahulu dan pertama  memeluk Islam.

 

Para ulama tafsir berbeda pendapat jumlahnya.

 

1)        Ibnu Hisyam menuliskan 40 orang.

2)        Azd-Dzahabi menyebutkan 50 orang.

 

Mereka terdiri atas kaum Muhajirin dan kaum Ansar.

Kaum Muhajirin para pendatang dari Mekah.

 

Kaum Ansar penduduk asli  Madinah.

Mereka dijamin masuk surga selamanya.

 

Al-Quran surah At-Taubah (surah ke-9) ayat 100.

 

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

      Orang-orang terdahulu lagi pertama (masuk Islam) di antara orang Muhajirin dan Ansar dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itu kemenangan besar.

 

Daftar nama “assabiqunal awwalun”.

 

1)        Khadijah binti Khuwailid (isteri Rasulullah).

2)        Zaid bin Haritsah (pembantu Rasulullah).

 

3)        Ali bin Abi Thalib (kemenakan Rasulullah).

4)        Umu Ayman (pengasuh Nabi Muhammad).

 

5)        Abu Bakar Sidik (sahabat Nabi Muhammad).

 

6)        Bilal bin Rabah (seorang budak).

7)        Usman bin Affan.

 

8)        Zubeir bin Awwan.

9)        Abdurrahman bin Auf.

 

10)  Saad bin Abi Waqqash.

 

11)  Thalhah bin Ubaidillah.

12)  Abu Ubaidah bin Jarrah.

 

13)  Abu Salamah bin Asad.

14)  Arqam bin Abil Arqam.

 

15)  Usman bin Mazhsun.

16)  Qudamah bin Mazhsun.

 

17)  Abdullah bin Mazhsun.

18)  Ubaidah bin Haris.

 

19)  Said bin Zaid.

20)  Fatimah bin Khattab, istri Said bin Zaid.

 

21)  Khabbab bin Aratt.

22)  Abdullah bin Masud.

 

23)  Masud bin Rabiah.

24)  Abdullah bin Mazhun.

 

25)  Jakfar bin Abu Thalib.

26)  Qudamah bin Mazhun.

 

27)  Shuhaib ar-Rumi.

28)  Thulaib bin Umair.

 

29)  Khabab bin Al-Art.

30)  Saib bin Mazhun.

 

31)  Amir bin Fuhairah.

32)  Mush’ab bin Umair.

 

33)  Miqdad bin Al-Aswad.

34)  Abdullah bin Jahsy.

 

35)  Abu Ubaidah bin Jarah.

36)  Utbah bin Ghazwan.

 

37)  Abu Hudzaifah bin Utbah.

38)  Ayash bin Rabiah.

 

39)  Amir bin Rabi'ah.

40)  Naim bin Abdullah.

 

Allah menjamin “as-sabiqunal awwalun” masuk surga selamanya.

 

Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah.

 

Sungguh kenikmatan yang sangat luar biasa.

 

Setelah kawanan pertama masuk Islam, banyak orang yang memeluk Islam.

 

Islam menyebar kemana-mana, tetapi mereka masuk Islam secara sembunyi.

 

Nabi Muhammad menemui mereka, mengajarkan agama secara diam-diam secara perorangan.

 

Nabi Muhammad bersabda,

“Saya mengajak seseorang masuk Islam.

Biasanya mereka tak langsung menjawab.

 

Selain Abu Bakar.

Seba  dia langsung memeluk Islam.

Tanpa ragu-ragu sedikit pun.”

 

Daftar Pustaka

1.      Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.

2.      Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2017.

3.      Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2017.

 

 

 

 

 

39797. NAMA 40 UMAT ISLAM AWAL ASSABIQUNAL AWWALUN

 


NAMA 40 UMAT ISLAM AWAL ASSABIQUNAL AWWALUN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Orang-orang  pertama masuk Islam.

Disebut “Assabiqunal Awwalun”.

 

Yaitu orang-orang terdahulu dan pertama  memeluk Islam.

 

Para ulama tafsir berbeda pendapat jumlahnya.

 

1)        Ibnu Hisyam menuliskan 40 orang.

2)        Azd-Dzahabi menyebutkan 50 orang.

 

Mereka terdiri atas kaum Muhajirin dan kaum Ansar.

Kaum Muhajirin para pendatang dari Mekah.

 

Kaum Ansar penduduk asli  Madinah.

Mereka dijamin masuk surga selamanya.

 

Al-Quran surah At-Taubah (surah ke-9) ayat 100.

 

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

      Orang-orang terdahulu lagi pertama (masuk Islam) di antara orang Muhajirin dan Ansar dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itu kemenangan besar.

 

Daftar nama “assabiqunal awwalun”.

 

1)        Khadijah binti Khuwailid (isteri Rasulullah).

2)        Zaid bin Haritsah (pembantu Rasulullah).

 

3)        Ali bin Abi Thalib (kemenakan Rasulullah).

4)        Umu Ayman (pengasuh Nabi Muhammad).

 

5)        Abu Bakar Sidik (sahabat Nabi Muhammad).

 

6)        Bilal bin Rabah (seorang budak).

7)        Usman bin Affan.

 

8)        Zubeir bin Awwan.

9)        Abdurrahman bin Auf.

 

10)  Saad bin Abi Waqqash.

 

11)  Thalhah bin Ubaidillah.

12)  Abu Ubaidah bin Jarrah.

 

13)  Abu Salamah bin Asad.

14)  Arqam bin Abil Arqam.

 

15)  Usman bin Mazhsun.

16)  Qudamah bin Mazhsun.

 

17)  Abdullah bin Mazhsun.

18)  Ubaidah bin Haris.

 

19)  Said bin Zaid.

20)  Fatimah bin Khattab, istri Said bin Zaid.

 

21)  Khabbab bin Aratt.

22)  Abdullah bin Masud.

 

23)  Masud bin Rabiah.

24)  Abdullah bin Mazhun.

 

25)  Jakfar bin Abu Thalib.

26)  Qudamah bin Mazhun.

 

27)  Shuhaib ar-Rumi.

28)  Thulaib bin Umair.

 

29)  Khabab bin Al-Art.

30)  Saib bin Mazhun.

 

31)  Amir bin Fuhairah.

32)  Mush’ab bin Umair.

 

33)  Miqdad bin Al-Aswad.

34)  Abdullah bin Jahsy.

 

35)  Abu Ubaidah bin Jarah.

36)  Utbah bin Ghazwan.

 

37)  Abu Hudzaifah bin Utbah.

38)  Ayash bin Rabiah.

 

39)  Amir bin Rabi'ah.

40)  Naim bin Abdullah.

 

Allah menjamin “as-sabiqunal awwalun” masuk surga selamanya.

 

Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah.

 

Sungguh kenikmatan yang sangat luar biasa.

 

Setelah kawanan pertama masuk Islam, banyak orang yang memeluk Islam.

 

Islam menyebar kemana-mana, tetapi mereka masuk Islam secara sembunyi.

 

Nabi Muhammad menemui mereka, mengajarkan agama secara diam-diam secara perorangan.

 

Nabi Muhammad bersabda,

“Saya mengajak seseorang masuk Islam.

Biasanya mereka tak langsung menjawab.

 

Selain Abu Bakar.

Seba  dia langsung memeluk Islam.

Tanpa ragu-ragu sedikit pun.”

 

Daftar Pustaka

1.      Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.

2.      Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2017.

3.      Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2017.