TAK HARUS SATU WADAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kesatuan dan persatuan
umat Islam tak harus satu wadah menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab
menjelaskannya.
1. Kesatuan (menurut KBBI V) bisa diartikan
“perihal satu”, “keesaan”, “sifat tunggal”, “satuan”, “konvensi melalui
observasi yang mengharuskan adanya konsisrwnsi tempat, waktu, dan ruang dalam
sebuah pertunjukan”.
2. Persatuan adalah “gabungan (ikatan,
kumpulan, dan sebagainya) beberapa yang sudah bersatu”, “perserikatan”,
“serikat”, dan “perihal bersatu”.
3. Para ulama berpendapat bahwa Al-Quran
memerintahkan umat untuk bersatu, karena umat ini adalah umat yang satu.
4. Al-Quran surah Al-Anbiya (surah ke-21)
ayat 92.
إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ
فَاعْبُدُونِ
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu
dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.
5. Al-Quran surah Al-Mukminun (surahke-23)
ayat 52.
وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ
فَاتَّقُونِ
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agamamu semua, agama yang satu
dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.
6. Kata “umat” terulang 51 kali dalam
Al-Quran dengan makna yang berbeda-beda.
7. Kata “umat” bisa diartikan “kelompok yang
dihimpun oleh sesuatu, karena persamaan agama, waktu, atau tempat, dengan
pengelompokan secara terpaksa maupun atas kehendak sendiri.”
8. Tidak hanya manusia yang berkelompok
dinamakan “umat”, bahkan binatang juga disebut “umat”.
9. Al-Quran surah Al-An'am (surah ke-6) ayat
38.
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ
بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ
شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang
terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.
Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhan
mereka dihimpunkan.
10. Al-Quran tidak menjelaskan jumlah anggota
dalam satu umat, ada yang berpendapat satu umat minimal berjumlah 40 orang atau
minimal 100 orang.
11. Al-Quran menggunakan kata “umat” untuk
orang yang mempunyai banyak keistimewaan atau jasa.
12. Al-Quran surat An-Nahl (surah ke-16) ayat
120 menyatakan Nabi Ibrahim disebut umat karena memiliki banyak keistimewaan.
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ
يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (umat) yang dapat dijadikan
teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia
termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).
13. Makna kata “umat” dalam Al-Quran sangat
lentur dan mudah menyesuaikan diri, tidak ada batas minimal atau maksimal untuk
suatu persatuan, yang membatasi hanyalah bahasa, yang tidak menyebutkan adanya
persatuan tunggal.
14. Dalam Al-Quran ditemukan 9 kali kata
“umat” yang digandengkan dengan “wahidah”.
15. Para ulama berpendapat bahwa yang
ditekankan dalam sifat umat Islam adalah persatuannya, bukan penyatuannya.
16. Agama Islam adalah agama yang satu dalam
prinsipnya (ushulnya), dan tidak ada perbedaan dalam akidahnya, meskipun dapat
berlainan dalam perincian ajarannya (furu’nya).
17. Al-Quran mengakui “kebhinnekaan” dalam
“ketunggalan”.
18. Al-Quran surah Al-Maidah (surah ke-5)
ayat 48 menyatakan apabila Allah menghendaki niscaya dijadikan satu umat saja.
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا
بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ
بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ
الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ
اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا
آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran,
membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)
dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara
mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk
tiap-tiap umat di antaramu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja),
tetapi Allah hendak mengujimu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kembalimu semuanya,
lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
19. Para ulama berpendapat bahwa Al-Quran
tidak menuntut penyatuan umat Islam dalam satu wadah saja.
20. Tetapi hendaknya umat Islam mengarah
kepada satu tujuan dan saling membantu untuk menjaga keberadaan masing-masing.
21. Al-Quran surah Ali 'Imran (surah ke-3)
ayat 105.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ
مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan
berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah
orang-orang yang mendapat siksa yang berat.
22. Para ulama menjelaskan yang dilarang
adalah membuat kumpulan dan kelompok yang mengakibatkan perpecahan dan perselisihan.
23. Keluwesan kandungan makna “umat” membuktikan
bahwa Al-Quran hanya mengamanatkan nilai yang umum dan menyerahkan kepada
masyarakat manusia untuk menyesuaikan diri dengan nilai yang umum itu.
24. Hal ini adalah salah satu keistimewaan
Al-Quran, sehingga Al-Quran selalu sesuai dengan perkembangan masyarakat di
mana pun dan kapan pun.
25. Al-Quran tidak mengharuskan penyatuan
seluruh umat Islam ke dalam satu wadah kenegaraan.
26. Sistem kekhalifahan Utsmaniyah adalah
salah satu bentuk wadah yang dapat dibenarkan, tetapi bukan satu-satunya bentuk
baku yang ditetapkan.
27. Jika perkembangan pemikiran manusia dan
kebutuhan masyarakat menuntut bentuk lain, maka dapat dibenarkan oleh ajaran
Islam, asalkan nilai yang dibawanya dan unsur lainnya tidak bertentangan dengan
ajaran Islam.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah
dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan
Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan
Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital
Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.
0 comments:
Post a Comment