Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Showing posts with label ATURAN PENGEAS SUARA MASJID KEMENAG. Show all posts
Showing posts with label ATURAN PENGEAS SUARA MASJID KEMENAG. Show all posts

Monday, August 24, 2026

60037. ATURAN PENGERAS MASJID KEMENAG



ATURAN PENGERAS SUARA MASJID KEMENAG

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM

 

 

 

A.       PENGERAS SUARA MASJID: BOLEH KERAS, TAPI HARUS BIJAK!

 

Apakah semakin keras suara masjid berarti semakin baik?

 

Mari kita pahami aturan, adab, dan batas kewajaran pengeras suara masjid agar ibadah tetap khusyuk dan hubungan dengan masyarakat tetap harmonis.

 

Suara yang baik bukan sekadar terdengar jauh, tetapi juga tidak mengganggu.

 

B.       KONTROVERSI PENGERAS SUARA MASJID

 

“Kalau suara masjid dikecilkan, apakah berarti dakwah harus dikecilkan?”

 

Di sisi lain, “Kalau terlalu keras sampai mengganggu orang sakit, bayi, lansia, atau tetangga, apakah itu masih bagian dari adab Islam?”

 

Mari bedakan antara syiar Islam, kebutuhan ibadah, aturan, dan hak orang lain untuk merasa tenang.

 

Masjid harus memakmurkan masyarakat, bukan membuat masyarakat merasa terganggu.

 

 

C.       Surat Edaran Menteri Agama (SE Menag) Nomor 05 Tahun 2022.

 

Tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

 

Kemenag juga menegaskan bahwa aturan ini bukan larangan azan atau larangan menggunakan speaker masjid.

 

Aturan utamanya

 

1. Speaker dibedakan menjadi dua

 

Speaker dalam: diarahkan ke dalam masjid/musala.

 

Speaker luar: diarahkan ke luar masjid/musala.

 

2. Volume Volume diatur sesuai kebutuhan dan paling besar 100 desibel (dB). Jadi bukan berarti speaker harus selalu 100 dB; justru dianjurkan secukupnya agar suara jelas dan tidak mengganggu.

 

3. Sebelum salat

 

Subuh: bacaan Al-Qur'an, selawat atau tarhim melalui speaker luar maksimal 10 menit sebelum azan.

 

Zuhur, Asar, Magrib, Isya: bacaan Al-Qur'an, selawat atau tarhim melalui speaker luar maksimal 5 menit sebelum azan.

 

4. Saat salat Azan tetap menggunakan pengeras suara. Pelaksanaan salat Subuh, zikir, doa, dan kuliah Subuh menggunakan speaker dalam.

 

5. Pengajian dan ceramah Pada prinsipnya menggunakan speaker dalam. Kalau jamaah sangat banyak sampai meluber ke luar masjid, speaker luar dapat digunakan.

 

6. Takbiran Pada malam 1 Syawal dan 10 Zulhijah, takbir boleh menggunakan speaker luar sampai pukul 22.00 waktu setempat, kemudian dapat dilanjutkan dengan speaker dalam.

 

Inti logikanya

 

Aturan ini bukan mengatakan:

“Jangan gunakan speaker masjid.”

 

Tetapi:

 

“Gunakan speaker untuk syiar, tetapi atur arah, waktu dan volumenya supaya ibadah terlaksana dan masyarakat sekitar tetap nyaman.”

 

Ini sejalan dengan tujuan resmi SE tersebut, yaitu menjaga ketenteraman, ketertiban, kenyamanan, dan keharmonisan masyarakat.

 

[Dokumen resmi SE Menag No. 05 Tahun 2022]