Khutbah
Jumat,
“Pedoman
Praktis dalam Menghadapi Masalah Sehari-hari”
(Sumber
: Aa Gym)
Khutbah-1
الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
إِنَّ
الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْر
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ
وَ مَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُون
Para
jamaah yang berbahagia,
Marilah
kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah dengan menjalankan semua
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Para
jamaah yang berbahagia,
Dalam
kehidupan kita sehari-hari, pasti tidak akan luput dari masalah atau persoalan
hidup. Kalau kita cermati dengan seksama, dalam menghadapi masalah yang hampir
sama, ternyata sikap manusia berbeda-beda. Ada orang yang menjadi panik dan
stres, tetapi ada pula yang tetap tenang. Hal ini, dapat disimpulkan, bahwa
masalah yang sebenarnya bukan terletak pada masalahnya, tetapi pada sikap kita
dalam menghadapi masalah tersebut.
Berikut
ini saya sampaikan lima pedoman dalam menghadapi masalah hidup sehari-hari.
1)
Siap. Yaitu siap menghadapi sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita, dan juga
siap menerima yang tidak cocok dengan harapan kita. Sebagai manusia, kita
memang harus mempunyai cita-cita dan keinginan yang benar dalam kehidupan ini,
bahkan kita harus gigih ikhtiar untuk mencapai yang terbaik dalam kehidupan
kita di dunia dan akherat. Tetapi bersamaan dengan itu, kita harus sadar bahwa
manusia hanyalah makhluk yang sangat terbatas untuk mengetahui segala hal di
luar kemampuan kita.
Dalam
kenyataannya, dalam kehidupan ini sering terjadi sesuatu yang di luar kemampuan
kita untuk mencegahnya. Jika kita salah bersikap, maka kita akan kecewa, penuh
keluh kesah, dan hati menjadi kacau. Sungguh rugi, karena hidup di dunia hanya
sekali dan kejadian yang tidak terduga pasti akan terjadi lagi. Manusia boleh
mempunyai rencana, Allah juga mempunyai rencana, dan yang pasti terjadi adalah
rencana Allah. Yang menarik, kita sering marah dan kecewa dengan suatu
peristiwa. Tetapi setelah waktu berlalu, ternyata peristiwa tersebut sangat
menguntungkan dan membawa hikmah yang besar, bahkan lebih baik daripada yang
diharapkan.
Para
jamaah yang berbahagia,
Alkisah,
pada suatu hari seorang penjual tahu berangkat dari rumahnya di desa, setelah
solat subuh. Ketika di pematang sawah, tiba-tiba pikulannya patah, tahu di
pikulan kiri masuk ke sawah, dan yang kanan masuk ke dalam kolam. Betapa kaget,
sedih, dan merasa sangat sial, karena belum berjualan modal sudah habis
terbenam. Dengan murung dan kecewa dia kembali ke rumah. Tetapi dua jam
kemudian, datanglah berita yang sangat mengejutkan. Yaitu kendaraan yang
biasanya ditumpangi para penjual tahu, mengalami musibah kecelakaan. Semua
penumpangnya mengalami cedera berat, bahkan ada yang meninggal dunia. Hanya
seorang penjual tahu yang selamat, yang biasanya naik kendaraan tersebut, yaitu
dirinya.
Subhanallah,
dua jam sebelumnya, patah pikulan dianggap kesialan. Tetapi dua jam kemudian
patah pikulan, dianggap keberuntungan luar biasa. Jadi, dalam menghadapi
kegiatan apapun, marilah kita sempurnakan niat dan ikhtiar, tetapi marilah kita
siapkan hati kita menerima apapun yang terbaik menurut Allah.
2)
Ridho. Yaitu rida, ikhlas, atau rela menerima sesuatu yang sudah terjadi.
Karena, meskipun kita marah, dan kecewa. Kenyataannya sudah terjadi. Jadi, rela
atau tidak rela kenyataannya sudah terjadi. Lebih baik kita rela saja
menerimanya. Ikhlas atau rela ini hanya amalan dalam hati. Kita menerima
kenyataan sudah yang terjadi, tetapi pikiran dan tubuh kita wajib berusaha
memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhoi Allah. Kondisi hati yang tenang
ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif dan optimal.
Orang
yang stres adalah orang yang tidak siap mental menerima kenyataan yang ada.
Pikirannya selalu tidak sesuai dengan kenyataan. Sibuk menyesali sesuatu yang
sudah tidak ada, atau yang tidak mungkin terjadi. Sungguh sengsara yang dibuat
sendiri. Jadi, hati kita harus rela menerima apapun kenyataan yang sudah
terjadi, sambil berusaha memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridhoi Allah.
3).
Jangan mempersulit diri.
Al-Quran
surah Alam Nasyrah (surah ke-94) ayat 5-6.
فَإِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
Para
jamaah yang berbahagia,
Sampai
dua kali Allah menyampaikan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus
menerus dalam kesulitan, karena dunia bukan neraka. Juga tidak mungkin dalam
hidup ini terus mudah dan lapang, karena dunia ini bukan surga. Karena itu,
dalam menghadapi persoalan hidup, janganlah kita membesar-besarkan dan
mempersulit diri. Hal ini akan menambah masalah menjadi lebih seram daripada
kenyataan sebenarnya. Yakinlah bahwa Allah Yang Maha Tahu pasti telah mengukur
ujian yang menimpa kita sesuai dengan takaran yang tepat sesuai keadaan dan
kemampuan kita.
4).
Evaluasi diri. Yaitu menilai diri kita sendiri. Hidup ini laksana suara gema di
pegunungan. Apa yang kita bunyikan, suara itu akan kembali kepada diri kita
sendiri. Segala yang terjadi adalah hasil dari yang kita lakukan.
Al-Quran
surah Al-Zalzalah (surah ke-99) ayat 7-8.
فَمَنْ
يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
”Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat
zarrah, dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan
sebesar zarrah, dia akan melihat balasannya”.
Para
jamaah yang berbahagia,
Misalnya,
sebuah kerikil mengenai kening kita. Selain kita harus rela, kita pun harus merenung,
mengapa Allah menimpakan kerikil ke kita, padahal lapangan sangat luas dan
kepala begitu kecil. Mungkin itu peringatan bahwa kita sering lupa bersujud,
atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak mungkin menciptakan
sesuatu dengan sia-sia, pasti ada hikmahnya. Janganlah kita terjebak hanya
menyalahkan orang lain. Sikap emosi hanya memberi sedikit nilai tambah bagi
pribadi kita, bahkan menimbulkan masalah baru. Jadi, marilah kita jadikan
setiap masalah untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri kita.
5).
Hanya Allah penolong kita.
Al-Quran
surah At-Tallaq (surah ke-65) ayat 2-3.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ
مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, dia
akan diberi jalan keluar dari setiap urusannya. dan diberi rejeki dari arah
yang tidak diduga. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, akan dicukupi
segala keperluannya”.
Para
jamaah yang berbahagia
Sesungguhnya,
segala sesuatu dapat yang terjadi, berupa nikmat atau musibah, hanya dengan
ijin Allah. Meskipun manusia dan jin bergabung untuk menjanjikan sesuatu, tidak
akan pernah berhasil, jika Allah tidak mengizinkan. Oleh karena itu, manusia paling
bodoh adalah yang berharap dan takut kepada selain Allah. Jadi, hanya Allah penolong
kita. Manusia hanya berasal (maaf) setetes sperma, dan kemana-mana membawa
kotoran dalam perutnya, lalu ujungnya akan menjadi bangkai. Pendek kata, kita
jangan takut menghadapi masalah. Tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan
dari Allah.
Para
jamaah yang berbahagia
Semoga
dengan lima pedoman di atas, yaitu siap, rida, jangan mempersulit diri, evaluasi,
diri dan hanya Allah penolong kita, akan membuat masalah yang ada menjadi jalan
pendidikan agar kita semakin dewasa dan meluaskan pengalaman serta
melipatgandakan pahala. Sehingga hidup kita menjadi lebih mulia di dunia dan
akherat. Amin Ya Robbal Alamin
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ
وَ نَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ
مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
----duduk----
0 comments:
Post a Comment