Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, August 24, 2026

60038. KENAPA QURAN DIPAHAMI BERBEDA



KENAPA QURAN TIAP ZAMAN DIPAHAMI BERBEDA

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM

 

 

Kenapa Quran tiap zaman

Bisa dipahami berbeda?

 

Jawaban.

 

1)        Al-Qur'an teksnya tetap.

2)        Tapi pemahaman manusia

 

3)        Bisa berkembang

4)        Pada tiap zaman.

 

Hal itu wajar

Karena

 

1)        Manusia.

2)        Ilmu pengetahuan.

 

3)        Bahasa.

4)        Masalah hidup

 

a.        Terus berubah.

b.        Dari zaman ke zaman

 

 

Kenapa Quran tiap zaman

Bisa dipahami berbeda?

 

Jawaban.

 

1)        Al-Qur'an tetap, manusia yang berubah

 

2)        Ada ayat Quran maknanya sangat jelas, tapi ada yang perlu penafsiran

 

3)        Masalah zaman berubah

 

4)        Bahasa punya kemungkinan makna

 

5)        Ilmu manusia bertambah

 

6)        Ada beda prinsip dan penerapan

 

7)        Tapi tak semua tafsir baru otomatis benar

 

Penjelasan.

 

1.        Al-Qur'an tetap, manusia yang berubah

 

Contoh

 

QS. Ar-Rahman (55:5)

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

 

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

 

Catatan.

1)        “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”

 

1)        Ayatnya

 

a.         Sejak 1.400 tahun lalu

b.        Tak berubah.

 

2)        Tapi ilmu astronomi berkembang.

 

a.        Penjelasan gerak benda langit .

b.        Jadi lebih rinci.

 

1)        Teks tetap

2)        Ilmu manusia berkembang.

3)        Penjelasan bisa bertambah.

 

2.        Ada ayat Quran maknanya sangat jelas, tapi ada yang perlu penafsiran

 

1)        Al-Qur'an bedakan ayat:

 

a.        Muhkamat:

Maknanya pokok dan jelas.

 

b.        Mutasyabihat:

Perlu hati-hati memahami.

 

QS. Ali Imran (3:7)


هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ 

 

Dia menurunkan Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itu pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah mencari takwilnya, padahal tidak ada yang tahu takwilnya melainkan Allah. Dan orang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat mutasyaabihaat, semua dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang berakal.

 

Catatan.

 

1)        Ada ayat muhkamat dan mutasyabihat

2)        Tak semua ayat Quran.

 

3)        Bisa ditafsirkan

4)        Dengan kepastian sama.

 

Contoh

 

1)        Jangan berbuat zalim.

2)        Prinsipnya berlaku sepanjang zaman.

 

Tetapi bentuk zalim.

Bisa berbeda

 

Dalam

1)        Bank digital.

2)        Media social.

 

3)        Kecerdasan buatan.

4)        Teknologi modern

 

a.        Manusia perlu ijtihad.

b.        Menerapkan prinsip itu.

 

 

3.        Masalah zaman berubah

 

Pada zaman Nabi

Belum ada:

 

1)        internet;

2)        media sosial;

 

3)        mobil;

4)        transaksi digital;

 

5)        kecerdasan buatan;

6)        transplantasi organ.

 

a.        Al-Qur'an tak sebut nama.

b.        Semua teknologi.

 

1)        Al-Qur'an beri prinsip umum.

2)        Manusia pakai akal dan ilmu.

3)        Untuk menerapkan.

 

Contoh:

Prinsip:

 

1)        Jangan sebarkan berita

2)        Tanpa cek benarnya.

 

QS. Al-Hujurat (49:6)

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 

Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa tahu keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu. 

 

Catatan.

 

1)        Dulu

Berita dari mulut ke mulut.

 

2)        Sekarang

WhatsApp, TikTok, Facebook, YouTube.

 

a.        Ayat Quran sama.

b.        Tapi penerapan berkembang.

 

4.        Bahasa punya kemungkinan makna

 

Bahasa Arab punya:

 

1)        makna asli kata;

2)        konteks kalimat;

 

3)        majas;

4)        penggunaan bahasa masa tertentu.

 

a.        Para ulama bisa beda pendapat.

b.        Pahami sebagian ayat.

 

Contoh

1)        Hanya 1 kata

2)        Bisa beberapa makna.

 

Para mufasir meneliti:

 

1)        bahasa + ayat lain + hadis + sebab turunnya ayat + konteks sejarah.

 

Perbedaan tafsir

 

1)        Tak selalu sengaja.

2)        Putar balik ayat Al-Qur'an.

 

5.        Ilmu manusia bertambah

 

Dulu ulama tidak punya:

 

1)        teknologi modern;

2)        ilmu genetika;

 

3)        satelit;

4)        komputer;

5)        ilmu sosial modern.

 

Ilmu baru

a.        Bantu melihat terapan ayat.

b.        Dari sudut baru.

 

Tapi harus hati-hati:

 

1)        Tak paksakan

2)        Tiap penemuan sains.

3)        Cocok dengan Al-Qur'an.

 

Yang lebih benar:

Al-Qur'an BUKAN buku

 

1)        Fisika.

2)        Biologi.

 

Tapi Quran.

 

1)        Kitab petunjuk

2)        Arahkan manusia pakai ilmu.

 

6.        Ada perbedaan prinsip dan penerapan

 

Prinsip Al-Qur'an:

1)        Berlaku tetap.

 

Contoh prinsip:

 

1)        jujur;

2)        adil;

 

3)        dilarang zalim;

4)        menjaga harta;

 

5)        jaga kehormatan;

6)        tanggung jawab.

Penerapan:

1)                Bisa berubah sesuai zaman.

 

Contoh:

 

1)        Dulu

Pencurian mengambil emas.

 

2)        Sekarang

 

a.        mencuri uang digital;

b.        membobol akun;

 

c.        penipuan online;

d.        pencuri identitas.

 

1)        Hukum moral tetap.

2)        Bentuk masalah berubah.

 

7.        Tapi tak semua tafsir baru otomatis benar

 

Ada batasnya.

 

Tafsir TIDAK boleh:

 

1)        bertentangan dengan bahasa Arab yang benar;

 

2)        bertentangan ayat Al-Qur'an yang jelas;

 

3)        abaikan hadis sahih;

 

4)        ubah makna hanya agar cocok dengan keinginan zaman;

 

5)        paksakan teori sains belum pasti.

 

Jadi BUKAN berarti:

 

1)        “Tiap zaman bebas membuat Islam baru.”

 

Yang benar:

 

1)        Teks wahyu Quran tetap.

 

2)        Manusia berusaha pahami dan menerapkan

 

3)        Dlam masalah baru.

 

Kesimpulan

 

1)        Al-Qur'an tidak berubah.

2)        Wahyu tidak berubah.

 

3)        Manusia berubah.

4)        Masalah berubah.

5)        Ilmu berkembang.

 

Prinsip Al-Qur'an tetap.

1)        Pemahaman dan penerapan.

2)        Bisa berkembang

 

3)        Sesuai kemampuan ilmu manusia

4)        Dan tantangan zaman.

 

Tafsir Al-Qur'an.

Bisa berbeda

 

1)        Ulama klasik

2)        Ulama modern.

 

Tak berarti Al-Qur'an berubah.

 

a.        Quran tetap

b.        Pemahaman manusia bisa berubah

 

 

Sumber

 

1)                Tafsir Quran Perkata DR M Hatta.

2)                Tafsirq.com

3)                ChatGPT.

 

 

 


60037. ATURAN PENGERAS MASJID KEMENAG



ATURAN PENGERAS SUARA MASJID KEMENAG

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM

 

 

 

A.       PENGERAS SUARA MASJID: BOLEH KERAS, TAPI HARUS BIJAK!

 

Apakah semakin keras suara masjid berarti semakin baik?

 

Mari kita pahami aturan, adab, dan batas kewajaran pengeras suara masjid agar ibadah tetap khusyuk dan hubungan dengan masyarakat tetap harmonis.

 

Suara yang baik bukan sekadar terdengar jauh, tetapi juga tidak mengganggu.

 

B.       KONTROVERSI PENGERAS SUARA MASJID

 

“Kalau suara masjid dikecilkan, apakah berarti dakwah harus dikecilkan?”

 

Di sisi lain, “Kalau terlalu keras sampai mengganggu orang sakit, bayi, lansia, atau tetangga, apakah itu masih bagian dari adab Islam?”

 

Mari bedakan antara syiar Islam, kebutuhan ibadah, aturan, dan hak orang lain untuk merasa tenang.

 

Masjid harus memakmurkan masyarakat, bukan membuat masyarakat merasa terganggu.

 

 

C.       Surat Edaran Menteri Agama (SE Menag) Nomor 05 Tahun 2022.

 

Tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

 

Kemenag juga menegaskan bahwa aturan ini bukan larangan azan atau larangan menggunakan speaker masjid.

 

Aturan utamanya

 

1. Speaker dibedakan menjadi dua

 

Speaker dalam: diarahkan ke dalam masjid/musala.

 

Speaker luar: diarahkan ke luar masjid/musala.

 

2. Volume Volume diatur sesuai kebutuhan dan paling besar 100 desibel (dB). Jadi bukan berarti speaker harus selalu 100 dB; justru dianjurkan secukupnya agar suara jelas dan tidak mengganggu.

 

3. Sebelum salat

 

Subuh: bacaan Al-Qur'an, selawat atau tarhim melalui speaker luar maksimal 10 menit sebelum azan.

 

Zuhur, Asar, Magrib, Isya: bacaan Al-Qur'an, selawat atau tarhim melalui speaker luar maksimal 5 menit sebelum azan.

 

4. Saat salat Azan tetap menggunakan pengeras suara. Pelaksanaan salat Subuh, zikir, doa, dan kuliah Subuh menggunakan speaker dalam.

 

5. Pengajian dan ceramah Pada prinsipnya menggunakan speaker dalam. Kalau jamaah sangat banyak sampai meluber ke luar masjid, speaker luar dapat digunakan.

 

6. Takbiran Pada malam 1 Syawal dan 10 Zulhijah, takbir boleh menggunakan speaker luar sampai pukul 22.00 waktu setempat, kemudian dapat dilanjutkan dengan speaker dalam.

 

Inti logikanya

 

Aturan ini bukan mengatakan:

“Jangan gunakan speaker masjid.”

 

Tetapi:

 

“Gunakan speaker untuk syiar, tetapi atur arah, waktu dan volumenya supaya ibadah terlaksana dan masyarakat sekitar tetap nyaman.”

 

Ini sejalan dengan tujuan resmi SE tersebut, yaitu menjaga ketenteraman, ketertiban, kenyamanan, dan keharmonisan masyarakat.

 

[Dokumen resmi SE Menag No. 05 Tahun 2022]


60036. KEMENAG PENGERAS SUARA MASJID



KEMENAG ATURAN PENGERAS SUARA MASJID

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM

 

 

 

A.       PENGERAS SUARA MASJID: BOLEH KERAS, TAPI HARUS BIJAK!

 

Apakah semakin keras suara masjid berarti semakin baik?

 

Mari kita pahami aturan, adab, dan batas kewajaran pengeras suara masjid agar ibadah tetap khusyuk dan hubungan dengan masyarakat tetap harmonis.

 

Suara yang baik bukan sekadar terdengar jauh, tetapi juga tidak mengganggu.

 

B.       KONTROVERSI PENGERAS SUARA MASJID

 

“Kalau suara masjid dikecilkan, apakah berarti dakwah harus dikecilkan?”

 

Di sisi lain, “Kalau terlalu keras sampai mengganggu orang sakit, bayi, lansia, atau tetangga, apakah itu masih bagian dari adab Islam?”

 

Mari bedakan antara syiar Islam, kebutuhan ibadah, aturan, dan hak orang lain untuk merasa tenang.

 

Masjid harus memakmurkan masyarakat, bukan membuat masyarakat merasa terganggu.

 

 

C.       Surat Edaran Menteri Agama (SE Menag) Nomor 05 Tahun 2022.

 

Tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

 

Kemenag juga menegaskan bahwa aturan ini bukan larangan azan atau larangan menggunakan speaker masjid.

 

Aturan utamanya

 

1. Speaker dibedakan menjadi dua

 

Speaker dalam: diarahkan ke dalam masjid/musala.

 

Speaker luar: diarahkan ke luar masjid/musala.

 

2. Volume Volume diatur sesuai kebutuhan dan paling besar 100 desibel (dB). Jadi bukan berarti speaker harus selalu 100 dB; justru dianjurkan secukupnya agar suara jelas dan tidak mengganggu.

 

3. Sebelum salat

 

Subuh: bacaan Al-Qur'an, selawat atau tarhim melalui speaker luar maksimal 10 menit sebelum azan.

 

Zuhur, Asar, Magrib, Isya: bacaan Al-Qur'an, selawat atau tarhim melalui speaker luar maksimal 5 menit sebelum azan.

 

4. Saat salat Azan tetap menggunakan pengeras suara. Pelaksanaan salat Subuh, zikir, doa, dan kuliah Subuh menggunakan speaker dalam.

 

5. Pengajian dan ceramah Pada prinsipnya menggunakan speaker dalam. Kalau jamaah sangat banyak sampai meluber ke luar masjid, speaker luar dapat digunakan.

 

6. Takbiran Pada malam 1 Syawal dan 10 Zulhijah, takbir boleh menggunakan speaker luar sampai pukul 22.00 waktu setempat, kemudian dapat dilanjutkan dengan speaker dalam.

 

Inti logikanya

 

Aturan ini bukan mengatakan:

“Jangan gunakan speaker masjid.”

 

Tetapi:

 

“Gunakan speaker untuk syiar, tetapi atur arah, waktu dan volumenya supaya ibadah terlaksana dan masyarakat sekitar tetap nyaman.”

 

Ini sejalan dengan tujuan resmi SE tersebut, yaitu menjaga ketenteraman, ketertiban, kenyamanan, dan keharmonisan masyarakat.

 

[Dokumen resmi SE Menag No. 05 Tahun 2022]