MENGAPA GURU INA LEMAH BAHASA INGGRIS
Oleh: Drs. H. M. Yusron
Hadi, MM
Kenapa guru Indonesia
Lemah dalam Bahasa lnggris?
Jawaban.
1)
Bukan tak mampu belajar bahasa Inggris.
2)
Tapi faktor pendidikan dan lingkungan.
a.
Membuat kemampuan bahasa Inggris.
b.
Terutama berbicara.
3)
Lemah dibanding
a.
Membaca
b.
Mengerjakan soal.
Kenapa guru Indonesia
Lemah dalam Bahasa lnggris?
Jawaban.
1)
Bahasa Inggris bukan bahasa
sehari-hari
2)
Pendidikan menekankan teori daripada
praktik
3)
Takut salah
4)
Bahasa Inggris dianggap mata
pelajaran, bukan alat komunikasi
5)
Kurang lingkungan berbahasa Inggris
6)
Pelatihan guru belum selalu
menghasilkan kebiasaan
7)
Kosakata aktif masih terbatas
8)
Kurang mendengar bahasa Inggris asli
Penjelasan.
A.
Bahasa Inggris bukan bahasa sehari-hari
1)
Guru Indonesia
2)
Pakai bahasa Indonesia dan bahasa
daerah.
3)
Dalam hidup sehari-hari.
4)
Kesempatan mendengar dan bicara bahasa
Inggris
5)
Tiap hari sangat sedikit.
Contoh:
1)
Guru Malaysia
a.
Sering terpapar bahasa Inggris
b.
Dalam pendidikan dan lingkungan.
2)
Guru Indonesia
a.
Setelah mengajar bahasa Inggris
b.
Kembali pakai bahasa Indonesia.
c.
Sepanjang hari.
B.
Pendidikan lebih menekankan teori
daripada praktik
1)
Selama bertahun-tahun.
2)
Pembelajaran bahasa Inggris
3)
Sering fokus pada:
a.
grammar
b.
vocabulary
c.
baca teks
d.
menjawab soal ujian
4)
Padahal kemampuan Bahasa.
5)
Butuh 4 keterampilan:
a.
Listening
b.
Speaking
c.
Reading.
d.
Writing.
6)
Orang paham grammar.
7)
Tapi masih sulit ucap kalimat
sederhana.
8)
Secara spontan.
C.
Takut salah
1)
Ini salah satu hambatan terbesar.
2)
Guru kadang berpikir:
"Kalau grammar saya salah, nanti ditertawakan."
3)
Akibatnya tidak berani berbicara.
4)
Prinsip belajar Bahasa
a.
berani bicara → salah → dikoreksi →
coba lagi → jadi lancar.
D.
Bahasa Inggris dianggap mata pelajaran,
bukan alat komunikasi
1)
Ini sangat penting.
2)
Jika bahasa Inggris hanya dianggap Pelajaran.
3)
Maka orang belajar untuk dapat nilai.
4)
Jika dianggap alat.
Maka orang belajar
Agar bisa:
a.
bicara dengan orang asing
b.
baca buku
c.
pahami YouTube
d.
pakai teknologi
e.
ikuti perkembangan sains
f. komunikasi global.
E.
Kurang lingkungan berbahasa Inggris
1)
Anak dan guru di Indonesia
.
a.
Jarang dalam lingkungan.
b.
Harus bicara Inggris.
2)
Bandingkan:
a.
Belajar bahasa lnggris 2 jam seminggu.
b.
Tapi 166 jam lainnya
c.
Pakai bahasa Indonesia
3)
Dalam lingkungan bahasa Inggris
a.
Dipakai tiap hari.
b.
Sangat menentukan.
F.
Pelatihan guru belum selalu
menghasilkan kebiasaan
1)
Pelatihan bahasa Inggris
a.
Beberapa hari atau beberapa minggu.
b.
Bisa membantu.
2)
Tapi kemampuan Bahasa
3)
Tak terbentuk hanya dari pelatihan.
4)
Kebiasaan 30 menit
a.
Tiap hari.
b.
Bertahun-tahun
c.
Lebih baik daripada latihan intensif
d.
Beberapa hari.
G.
Kosakata aktif masih terbatas
1)
Banyak orang kenal kata bahasa Inggris
Ketika membaca:
a.
education = Pendidikan
b.
development = Pembangunan
c.
environment = lingkungan
2)
Tapi saat bicara spontan
3)
Kata itu tak keluar.
Perbedaan
a.
passive vocabulary
b.
dan active vocabulary.
H.
Kurang mendengar bahasa Inggris asli
1)
Listening sangat penting
Untuk speaking.
2)
Jika guru terbiasa mendengar bahasa
Inggris.
3)
Hanya dari buku atau guru
4)
Ucapan sangat lidah Indonesia.
5)
Maka telinga kurang terbiasa
Dengan:
a.
kecepatan bicara
b.
aksen
c.
gabungan kata
d.
berbagai pronunciation.
Jika ingin guru Indonesia kuat bahasa Inggris
Caranya
1)
DENGAR → TIRUKAN → BICARA → BACA →
TULIS → ULANGI
Guru siap 30 menit tiap hari:
1)
10 menit:
Dengar video bahasa Inggris
2)
5 menit:
Tirukan pronunciation
3)
10 menit:
Bicara sendiri
4)
5 menit:
Baca teks pendek.
a.
Tak perlu belajar grammar
b.
Yang rumit.
Mulai kalimat sehari-hari:
1)
Good morning.
2)
How are you today?
3)
What are you doing?
4)
I agree with you.
5)
I don't understand.
6)
Could you explain it again?
a.
Setelah dipakai ribuan kali.
b.
Bahasa jadi kebiasaan.
c.
Tak sekadar pengetahuan.
Hubungan dengan Al-Qur'an.
1)
Belajar bagian cari ilmu.
2)
Pahami beda manusia.
Allah jadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling
mengenal
(QS. Al-Hujurat 49:13).
Idealnya:
1)
Bahasa daerah
Identitas budaya
2)
Bahasa Indonesia
Persatuan bangsa
3)
Bahasa Inggris
Jembatan ilmu dan komunikasi global.
a.
Guru kuasai ketiganya.
b.
Modal pendidikan kuat.
Guru Malaysia relatif lebih kuat bahasa
Inggris.
1)
Bukan lebih pintar.
2)
Tapi terutama karena
a.
Lingkungan.
b.
Kebijakan Pendidikan.
c.
Kebiasaan pakai bahasa Inggris.
Penyebab utama
1.
Sejarah kolonial Inggris
1)
Malaysia punya sejarah pemerintahan
Inggris.
2)
Bahasa Inggris penting dalam
pendidikan, pemerintahan, bisnis, dan komunikasi.
2.
Bahasa Inggris sering digunakan.
1)
Dalam hidup sehari-hari.
2)
Terutama di kota-kota.
3)
Bahasa Inggris dipakai percakapan,
pekerjaan, perdagangan, dan media.
4)
Guru sering berlatih.
3.
Banyak sumber pendidikan pakai bahasa
Inggris.
1)
Buku, jurnal, internet, teknologi, dan
materi perguruan tinggi
2)
Banyak dalam bahasa Inggris.
3)
Guru baca sumber itu.
4)
Otomatis bahasa lebih baik.
4.
Pendidikan guru beri ruang kemampuan Bahasa
1)
Calon guru Malaysia
2)
Dapat bahasa Inggris cukup serius.
3)
Khususnya guru tertentu.
4)
Dalam bahasa Inggris.
5.
Bahasa Melayu dan bahasa Inggris berdampingan
1)
Malaysia pakai bahasa Melayu sebagai
bahasa nasional.
2)
Bahasa Inggris punya fungsi kuat.
3)
Warga biasa berpindah bahasa ke bahasa
lain.
6.
Motivasi ekonomi
1)
Bahasa Inggris penting untuk pekerjaan
lebih baik.
2)
Terkait perusahaan internasional,
pendidikan tinggi, dan bisnis.
7.
Paparan sejak kecil
1)
Film, musik, internet, YouTube,
permainan, buku, dan media bahasa Inggris
2)
Beri latihan tambahan di luar sekolah.
Rumus
1)
Kemampuan bahasa Inggris = belajar +
sering mendengar + sering membaca + sering berbicara + sering menulis.
Perbedaan Malaysia–Indonesia.
1)
Bukan kecerdasan.
2)
Tapi lingkungan bahasa dan frekuensi
penggunaan.
Pelajaran penting.
1)
Tak hanya ajarkan bahasa Inggris.
2)
Sebagai mata Pelajaran.
3)
Tapi ciptakan lingkungan sekolah.
4)
Agar guru dan siswa
5)
Benar-benar memakainya.
6)
Dalam hidup sehari-hari
Sumber
1)
Tafsir Quran Perkata DR
M Hatta.
2)
Tafsirq.com
3)
ChatGPT.
0 comments:
Post a Comment