DESA
MUHAMMADIYAH PAPUA
Oleh:
Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

1. Warmon,
Kampung Muhammadiyah Bersinar di Tanah Papua.
2. Agustus
30, 20191394
3. PWMU.CO-Kampung
Warmon di Distrik Mayamuk Sorong, Papua Barat, saat ini sudah ramai dan
tertata.
4. Sudah banyak
rumah tembok, mempunyai 5 masjid, 2 mushala, dan sekolah.
5. Juga
ada gereja, bahkan punya perpustakaan kecil yang disebut Nabaca Bukuga.
6. Anak-anak
setiap sore pergi mengaji di masjid dan mushala.
7. Punya
guru mengaji, masjid dan mushala dipakai salat berjamaah 5 waktu sehari dengan
imam orang setempat.
8. Ada
pengurus kampung yang melayani warga, juga ada Pimpinan Ranting Muhammadiyah
(PRM) Warmon.
9. Kepala
Kampung yang juga Ketua PRM Warmon Syamsuddin Namugur mengatakan, Warmon Kokoda
adalah kampung Muhammadiyah.
10. ”Kami 100
persen Muhammadiyah dan ingin mewujudkan cita-cita Kiai Dahlan, Muhammadiyah
yang berkemajuan,” kata Syamsuddin.
11. Muhammadiyah,
lanjut dia, banyak berkontribusi bagi kampung ini.
12. Dahulu
kita berkebun dengan cara-cara yang biasa.
13. Kini
kita tahu tentang pembibitan, penanaman, perawatan sampai panen.
14. ”Kami
juga belajar membuatan pupuk kompos, dan alhamdulillah panen kebun kami baik,”
ujarnya.
15. Dia
menyampaikan, masyarakat Kokoda akan terus memperbaiki diri agar bisa
melahirkan generasi yang lebih baik dan taat kepada Allah.
16. ”Kami
lebih konsen memperhatikan pendidikan anak muslim Papua untuk belajar di
jenjang pendidikan tinggi agar mereka menjadi kader-kader Muhammadiyah terdepan
dalam menciptakan Papua yang berkemajuan,” tandasnya.
17. Ketua
RT 1 Jalil Namugur menambahkan, sejak awal pertemuan Muhammadiyah sudah membuktikan
keseriusan membangun masyarakat suku
Kokoda di sini.
18. ”Saya
masih ingat betul saat genset dari Muhammadiyah jadi bantuan pertama yang
tiba,” ujarnya.
19. ”Tidak
sampai satu tahun, Muhammadiyah bangun lagi masjid, setelah itu sekolah,”
tambahnya.
20. Kemudian
tahun 2016 membuka bantuan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
membangun 55 rumah permanen dan tahun 2017 pembangunan lagi 80 rumah.
21. Sekarang
berbeda suasananya 10 tahun lalu.
22. Waktu
itu kampung ini masih baru, warga suku Kokoda yang menetap di situ, sebelumnya mereka
hidup nomaden, berpindah-pindah untuk mencari makanan dan berburu.
23. Saat
mereka berpindah kadang menimbulkan konflik karena menduduki tanah masyarakat
lain.
24. Misalnya,
tanah milik transmigran yang sudah diolah menjadi ladang.
25. Pernah
mereka menetap di sekitar Lapangan Udara Domine Eduard Osok.
26. Kemudian
ada perluasan Lapangan Udara Domine
Eduard Osok, permukiman warga ini tergusur.
27. Kehidupan
suku dan problemanya ini menarik perhatian Rustamadji, ketua Sekolah Tinggi
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong , sekitar tahun 2007.
28. ”hal
yang ironis bagi suku nomaden yang mulai hidup menetap tapi tak memiliki tanah
sendiri,” kata Rustamadji yang terpilih sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2018 oleh
Harian Republika.
29. Tahun
itu STKIP Muhammadiyah berubah menjadi Universitas Pendidikan Muhammadiyah
(Unimuda) Sorong.
30. Warga
suku Kokoda yang tergusur pembangunan bandara ini kemudian mendapatkan tanah
relokasi seluas dua hectare, berupa tanah rawa yang sekarang mereka tempati.
31. Waktu
itu jumlah penduduknya sekitar 350 orang.
32. Rustamadji
bersama tim dari kampusnya berdakwah mengajari berkebun dan beternak.
33. Rustamadji
lantas menggandeng Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah untuk
membina suku ini.
34. ”Banyak
orang yang pesimis waktu itu.
35. Menurut
mereka, susah mengajari warga nomaden berkebun.
36. Belum
lagi sikap mereka yang suka bikin masalah, tapi kalau tidak kita mulai sekarang
kapan suku ini bakal maju,” tuturnya.
37. Tahun
berikutnya 2008, kami membangun masjid.
38. Menurutnya,
masjid ini penting untuk pusat dakwah tempat pembinaan agama, mengaji, dan
kegiatan sosial lainnya.
39. ”Pemahaman
agama warga masih minim. Dosen dan mahasiswa yang beragama Islam dilatih untuk
membina mereka. Masjid ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak Kokoda,”
cerita Rustamdji.
40. Setelah
masjid berdiri berikutnya membangun sekolah, yaitu TK dan SD.
41. Tetapi
muncul masalah.
42. Besi-besi
untuk fondasi dijarah orang, dijual, dan duitnya untuk membeli rokok.
43. ”Orang
masih belum paham betapa pentingnya sekolah sehingga tega mengambil besi,”
katanya.
44. Pembangunan
sekolah terhenti, penggalangan dana diaktifkan lagi, dengan susah payah
akhirnya sekolah berdiri.
45. Ternyata
muncul masalah juga.
46. Anak-anak
Kokoda belum mengenal sekolah.
47. Tidak
langsung begitu saja mau belajar di dalam kelas.
48. Apalagi
orangtua, menganggap sekolah tak penting.
49. Mereka
harus kerja membantu orangtua mencari makanan.
50. ”Mahasiswa
STKIP Muhammadiyah yang ditugaskan di sini bebannya berat, harus menjemput
murid-murid di rumah mereka, dan harus sabar membujuk agar mau datang ke
sekolah,” ujarnya.
51. Lambat
laun akhirnya orang tua dan anak-anak terbiasa dengan sekolah.
52. Kegiatan
belajar di sekolah lantas berjalan.
53. Mengutip
Muhammadiyah.or.id, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) juga turun
berdakwah di kampung Warmon melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mulai
2016.
54. Para
mahasiswa membantu mengajar, mengaji, dan membaca.
55. Para
mahasiswa ini yang mendirikan perpustakaan Nabaca Bukuga dan mengajari
anak-anak muda manajemen.
56. Sekretaris
Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah yang juga dosen UMY Bachtiar
Dwi Kurniawan mengatakan untuk mengajar warga bertani dan beternak harus
telaten dan sabar karena suku ini sebelumnya tak pernah mengenal bidang ini.
57. ”MPM
pernah memberi 5 ekor sapi untuk dikembangbiakan.
58. Ternyata
semua sapi jadi kurus, 2 ekor mati, karena sapi hanya dikandangkan tak diberi
makan,” tuturnya.
59. Masa
itu sudah berlalu, kampung Warmon dan warganya makin maju.
60. Mereka
juga mendapat kucuran dana desa.
61. Warga
juga sudah mengenal kartu identitas seperti KTP dan KK sehingga ada yang bisa
bekerja di sektor formal.
62. Sertifikat
tanah hibah kampung ini diserahkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir
tahun 2019.
(Sumber:
pwmu.com)
0 comments:
Post a Comment