JANGAN SALING MEMBERI JULUKAN
JELEK
Kambing
Oleh Tere Liye
Kalian harus tahu.
Kebiasaan mengejek lawan
politik dgn nama2 hewan itu sudah ada sejak dulu.
Kejadian ini telah ada lama.
Termasuk yg dialami Agus
Salim, salah-satu pahlawan nasional.
Dia pernah menghadapinya
secara langsung, saat hendak bicara di pertemuan2/rapat2.
Saat dia maju ke depan,
bersiap bicara.
Beberapa peserta mulai
mengejeknya.
Dengan meniru suara kambing,
'Mbeek!', 'Mbeek!', 'Mbeek!'
Kok diejek dengan suara kabming?
Karena Agus Salim punya
jenggot.
Kalian bisa google sebentar,
lihat foto beliau.
Lihat jenggotnya.
Tak pelak lagi, itu favorit
lawan politiknya, mengejeknya dengan suara kambing.
Bayangkan, di sebuah pertemuan
yg seharusnya terhormat, dia diejek begitu secara terbuka.
Tapi yang mengejek lupa.
Agus Salim itu adalah ponakan
dari Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabauwi.
Ilmunya tinggi.
Adabnya tinggi.
Dan dia tentu bisa mengurus
masalah ini dgn mudah.
Maka apa responnya?
Dia bicara dengan santai,
“Tunggu sebentar.
Bagi saya sungguh suatu hal
yang sangat menyenangkan.
Bahwa kambing-kambing pun
telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya.
Hanya, sayang sekali bahwa
mereka kurang mengerti bahasa manusia.
Sehingga mereka menyela dengan
cara yang kurang pantas.
Jadi saya sarankan agar untuk
sementara mereka tinggalkan ruangan ini.
Untuk sekadar makan rumput di
lapangan.
Sesudah pidato saya ini yang
ditujukan kepada manusia selesai.
Mereka akan dipersilakan masuk
kembali."
Itu cara 'membalas' yg elegan
sekali.
Adik2 sekalian, hari ini, apa
yang kita lakukan?
Masih sama seperti dulu.
Suka melabeli orang yg berbeda
pendapat dengan hewan.
Cebong, kampret, kadal gurun,
dll dsbgnya.
Sama.
Tabiat ini terus terbawa2
sampai sekarang.
Malah lebih parah.
Padahal itu dilarang oleh
agama.
Memanggil saudara sendiri dgn panggilan buruk
itu sangat terlarang.
Maka, jika kalian pelakunya,
berhentilah.
Jika kalian yang dipanggil
begitu.
Jangan dibalas.
Atau kalau mau 'membalas'nya,
tirulah Agus Salim.
Cari cara paling elegan.
Agus Salim tidak hanya sekali
harus menerima ejekan itu.
Berkali2, Kawan. D
an dia selalu elegan
mengatasinya.
Di lain kesempatan, di
pertemuan lain.
Saat orang lain mulai
'Mbeek!', 'Mbeek!'
Meniru suara kambing.
Dia santai membuka
pembicaraannya dengan,
“Saudara-saudara dan kambing-kambing yang
terhormat."
Dia tidak membalas 'memaki'
pengejeknya dgn menyebut nama hewan lain.
Dia simpel memanggilnya
kambing2 yang terhormat.
Dan itu akurat sekali, karena
dengarlah, mereka mengembik.
Tentu hanya kambing yg
mengembik, bukan sapi.
Adik2 sekalian.
Semoga kalian mau berhenti menulis
komen kadrun, cebong, kampret di page ini.
Mari fokus saja ke substansi,
topik masalahnya.
Karena ketahuilah, saling
memaki, mencaci, tidak pernah akan memberikan solusi.
Malah yang ada, saat kita
sibuk saling panggil dengan nama2 hewan, sssttt....
Harun Masiku tertawa lebar.
Menteri dari PDIP dan Gerindra yg ditangkap KPK juga sudah bisa tersenyum. Kita
lupa substansi utamanya. Bahkan kita lupa, siapa 'lawan' sebenarnya bagi NKRI
ini. Koruptor.
Al-Quran surah Al-Hujurat
(surah ke-49) ayat 11.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ
مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ
عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا
تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang beriman,
janganlah kelompok laki-laki merendahkan kelompok lain, boleh jadi yang
ditertawakan itu lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula kelompok perempuan
merendahkan kelompok lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan julukan yang
mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk
sesudah iman dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka orang-orang zalim.
(Sumber Tere Liye)
0 comments:
Post a Comment