UMAT HINDU JAKARTA
MENANGIS TERHARU DIBUATKAN KREMATORIUM
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Data
Yaitu keterangan
yang benar dan nyata.
Asumsi.
Yaitu dugaan tanpa
dasar.
Wawancara Eksklusif.
Gubernur Anies Baswedan
dengan Straits Times.
Anies Baswedan.
Mereka Belum Move On.
Kritik Menghakimi Saya.
Hanya Bermodal Asumsi.
Bukan dengan data
valid.
Sejak dipilih oleh NasDem.
Menjadi calon presiden.
Bintang politiknya terus meningkat.
Tapi ada penghadang kecil, yaitu:
1.
Tuduhan politik identitas.
2.
Isu intoleransi.
Tapi 2 hal itu terbantah.
Karena NasDem bukan partai agama.
Tapi partai tengah nasionalis.
Dengan basis pendukung.
Sangat beragam.
Gubernur Jakarta.
Anies Baswedan.
Selama ini menolak wawancara.
Dengan media internasional.
Soal isu pencalonannya.
Sebagai salah satu kandidat terkemuka.
Dalam pilpres mendatang.
Karena itu
mengejutkan.
Saat Anies Baswedan.
Menerima permintaan
media internasional.
Berbasis di
Singapura.
Yaitu “Straits Times”.
Dipublikasikan
kemarin (6/7/2022).
Dengan judul:
‘Sometimes I’m being judged by assumption,’
says Jakarta governor Anies Baswedan” .
Dalam wawancara 28
Juni 2022.
Diawali dengan
pertanyaan sederhana.
Diperluas oleh Anies
Baswedan.
Menyentuh hal paling
gencar dituduhkan.
Oleh para
penentangnya.
Yaitu : isu
intoleransi.
Pemilihan Presiden
Indonesia berikutnya.
Mungkin 2 tahun lagi.
Tapi partai politik mulai
berburu calonnya.
Tulis Straits Times
di awal laporannya.
“Salah satu kandidat
terdepan.
Yaitu Dr Anies
Baswedan.
Gubernur Jakarta.
Berusia 53 tahun.
Akan mengakhiri masa
jabatan 5 tahunnya.
Pada 16 Oktober 2022,”
catat Times.
“NasDem menunjuk saya.
Sebagai salah satu
calon potensialnya.
Saya menghargai
itu,” kata Dr Anies Baswedan.
Dalam wawancara
eksklusif.
Di Balai Kota.
Menurut Times.
Anies Baswedan.
Menolak membahas
pencalonan NasDem ini.
Bisa dipahami.
Karena masih tahap
dini.
Sebelum ‘dagang
sapi’ mulai.
Menuju Pilpres 2024.
Mengutip berita
Tempo.
Pada akhir Juni 2022.
Ketua NasDem Surya
Paloh.
Melobi dukungan Anies
Baswedan.
Bahkan merekom kepada
Presiden Joko Widodo.
“Terkadang saya
dinilai dengan asumsi.
Selama kampanye
tahun 2017.
Satu-satunya cara
menilai seseorang.
Yaitu dengan
asumsi,” kata Anies.
Anies Baswedan.
Mengajak Times memperluas
topik bahasan.
Dengan menyentuh hal
sensitive itu.
“Dr Anies mengalahkan
petahana China-Kristen.
Yaitu Basuki Tjahaja
Purnama.
Atau Ahok.
Dalam kampanye.
Yang secara luas
diklaim oleh media.
Sebagai memecah-belah.
Penuh ketegangan
agama dan etnis,” tulis Times.
Ahok kemudian
dipenjara.
Karena penodaan
agama.
Karena menghina
Islam.
Selama pidato
pra-pemilu tahun 2016.
Catat media berbasis
di Singapura ini.
Times, juga
mencatat klaim beberapa pihak.
Bahwa Dr Anies Baswedan.
Yang dikenal nasionalis
toleran.
Sekaligus Muslim
moderat dan progresif.
Selama ini dituduh meninggalkan
kaum minoritas.
Untuk keuntungan
politik.
“Tapi, selama ini.
Anies Baswedan.
Memilih bungkam.
Dan menghindari
wawancara.
Dengan media asing.
Selama beberapa tahun.
Anies Baswedan mengatakan.
Bahwa cara terbaik mengklarifikasi.
Untuk mengoreksi.
Bukan dengan membuat
pernyataan lain”.
Anies Baswedan.
Memilih membiarkan.
Dan menjawabnya
dengan tindakan.
Hasil yang didapat.
Selama masa
jabatannya.
Menjadi Gubernur
Jakarta.
Nanti akan bicara
sendiri,” tulis media internasional itu.
“Bisakah Anda
menunjukkan kepada saya.
Kebijakan atau tindakan.
Dalam 4 tahun
terakhir.
Yang tidak
bersahabat.
Dengan minoritas.
Atau tidak memberi
kesempatan sama?” kata Anies Baswedan.
Menantang kelompok
‘Anies Bashing’.
Yang masih terus
menyerangnya.
“Jika Anda tidak
dapat menunjukkan kebijakan itu kepada saya.
Maka Anda harus
menghapus asumsi ini.
Dan merevisi
berdasar kenyataan,” kata Anies Baswedan.
Mengutip pernyataan.
Yang sering
diulanginya.
Untuk menjawab kritik.
Yang tidak tepat
sasaran.
Times mencatat.
Anies Baswedan.
1.
Dibesarkan dalam keluarga Muslim saleh.
Di Yogyakarta, Jawa
Tengah.
2.
Orang tuanya memberi pendidikan Barat.
Yang membentuk “cara
berpikir modern”.
3.
Mengatur dan hidup dengan keragaman.
Anies Baswedan.
Mantan rektor
universitas.
Dan mantan Menteri Pendidikan.
Punya gelar PhD.
Dalam ilmu politik.
Dari Northern
Illinois University.
Dan gelar Master.
Dalam manajemen
publik.
Dari University of
Maryland.
Anies Baswedan.
Saat SMA ikut pertukaran
pelajar.
Di Amerika Serikat.
Anies Baswedan.
Tinggal di rumah keluarga
angkat.
Yang beragama Katolik Roma taat.
“Pada dasarnya.
Saya mengunjungi
gereja.
Tiap hari Minggu.
Bukan untuk misa.
Tapi untuk sarapan.
Karena ada donat,
selalu donat,” katanya.
“Ibu angkat saya.
Membawa saya.
Dari satu gereja ke
gereja lain.
Untuk bicara tentang
Islam.
Untuk bicara tentang
Indonesia di gereja.”
Anies Baswedan mengakui.
Benefit dari
latar-belakang.
Sebagai siswa SMA di
Amerika Serikat.
Terbukti menguntungkan.
Saat menjadi Gubernur
Jakarta.
Yaitu menjadi sopir.
“Pada Kota Jakarta.
Yang sangat
beragam”.
“Saya sangat suka.
Bahwa tiap kebijakan.
Yang dibuat di kota Jakarta.
Yaitu kebijakan.
Mencerminkan
Konstitusi kami.
Mencerminkan nilai
demokrasi modern,” tambah Anies Baswedan.
Apakah yang telah
dilakukan untuk minoritas?.
Gubenur Anies
Baswedan menjawab.
1.
Pemprov Jakarta.
Membangun krematorium umum.
Untuk warga Hindu.
Yang pertama di Jakarta.
Sebelumnya.
Banyak umat Hindu.
Tidak mampu membayar
biaya tinggi.
Di fasilitas swasta.
Harus pergi ke Bali.
Yang mayoritas
beragama Hindu.
Untuk mengkremasi
jenazah.
“Sungguh
memprihatinkan.
Kemudian kami
membangunnya di sini.
Dan masyarakat
menangis.
Saya terkejut.
Saya tidak pernah
membayangkan.
Hal itu akan menjadi
momen.
Yang menyentuh,”
kenang Anies Baswedan.
2.
Program lainnya.
Yaitu BOTI.
Bantuan Operasional
Tempat Ibadah.
Pemerintah menyediakan
dana.
Untuk tempat ibadah.
Guna menutup biaya
operasional.
“Baru beberapa hari
lalu.
Ada orang datang
kepada saya.
Pertemuan sangat
emosional,” katanya.
“Dia bilang : Pak
Anies.
Gereja kami kosong.
Selama pandemi.
Tidak ada yang
menyumbangkan uang.
Untuk gereja kami.
Terima kasih atas
dana BOTI.
Karena kini mampu
membayar.
Untuk memelihara
gereja kami,” kata Anies.
PILPRES KIAN PANAS.
Anies Baswedan.
Sadar kontestasi ke
pilpres kian memanas.
Tapi dia tetap fokus
mengelola Jakarta.
Dan bertekad
mengubahnya.
Dalam visi kota
global.
Dengan keunggulan mencakup:
1.
Sistem transportasi umum andal dan efisien.
2.
Taman dan ruang hijau.
3.
Trotoar juga berfungsi sebagai “ruang ketiga”.
Fungsi ruang ketiga.
Yaitu agar
orang-orang berkumpul.
Berinteraksi.
Dan bermain bersama,”
kata AniesBaswedan.
“Jakarta adalah
pusat ekonomi.
Kami melihat
peningkatan kesejahteraan di kota ini,” katanya.
“Tapi di sisi lain.
Kita menghadapi
degradasi lingkungan.
Dan melebarnya
kesenjangan sosial-ekonomi.
Jadi, kita coba
mengatasi 2 hal ini.”
Jakarta telah
mengurangi emisi karbon.
Yaitu 26 persen
lebih rendah.
Dan targetnya 30
persen untuk Jakarta.
Pada tahun 2030.
Cakupan angkutan
umum di Jakarta.
Meningkat 2 kali
lipat.
Yaitu 40 persen pada
tahun 2016.
Menjadi hampir 90
persen saat ini.
Dengan jumlah
penumpang angkutan umum melonjak.
Tahun 2018.
Jumlahnya 350.000
per hari.
Tahun 2021.
Menjadi 1.000.000
orang lebih.
Dalam waktu kurang
dari 3 tahun.
Anies Baswedan menambahkan.
Bahwa angkutan umum.
Bukan untuk
mengakhiri kemacetan lalu lintas.
Tapi memberi
kepastian, prediktabilitas, dan kecepatan.
“Bahkan di Tokyo,
London, atau New York.
Tempat transportasi
umum.
Yang sangat
berkembang.
Masih terlihat
kemacetan.
Tapi bedanya.
Dengan angkutan umum.
Maka Anda mencapai
tujuan lebih cepat,” katanya.
“Ini salah satu hal
yang kami senangi.
Yaitu mengubah perilaku.
Dan menciptakan
budaya baru.”
Berbeda dengan Singapura.
Orang sudah biasa
naik angkutan umum.
“Tapi bagi kami di
Indonesia.
Hal ini masih awal.
Dari proses itu.
Khususnya di
Jakarta,” ujar Anies Baswedan.
“Dr Anies Baswedan menyatakan.
Sebenarnya tidak
mengharap pujian media.
Tapi dia juga.
Tidak takut pada
kritik.
Bahkan hinaan,”
catat Times.
“Tapi saya
mengharapkan data objektif.
Saya mengharapkan info objektif,” katanya.
“Tolong kritik.
Saya senang untuk
itu.
Dan senang menerima
kritik itu.”
Anies Baswedan percaya.
Akhirnya dia sendiri.
Yang harus tanggung jawab
perbuatannya.
Kepada Sang
Pencipta.
“Apa yang Tuhan akan
tanyakan kepada saya.
1.
Tidak hanya berapa banyak
sekolah yang Anda bangun.
2.
Berapa banyak trotoar yang Anda bangun.
3.
Berapa banyak rumah sakit yang Anda perbaiki.
4.
Tapi Tuhan juga akan bertanya kepada saya.
Bisakah orang-orang beragama.
Dengan bebas menjalankan agamanya?” ujar Anies.
Jika saya tidak
memberi kesempatan sama.
Maka bagaimana saya
bisa menjawab pertanyaan itu.
Di hadapan Tuhan?”
Kata Anies Baswedan.
Menutup wawancara
eksklusif itu.
(Sumber kbanews)
0 comments:
Post a Comment