BAHASA MANUSIA
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang bahasa manusia menurut
Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
1. Kata “bahasa” (menurut KBBI V) dapat
diartikan “sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota
suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidetifikasikan
diri”, “percakapan (perkataan) yang baik, tingkah laku yang baik”, “sopan
santun”, “sistem kata atau simbol yang memungkinkan untuk berkomunikasi dengan
komputer, terutama untuk memasukkan instruksi komputer melakui kata-kata yang
mudah dipahami dan kemudian diterjemahkan ke dalam kode mesin”.
2. Al-Quran surah Ar-Rum (surah ke-30) ayat
22.
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ
أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah menciptakan langit dan
bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
3. Al-Quran menghargai perbedaan bahasa dan
warna kulit, dan mengakui penggunaan bahasa lisan yang beragam, sehingga Nabi
bersabda,”Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa”.
4. Al-Quran surat Ad-Dukhan (surah ke-44)
ayat 43-44.
إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ طَعَامُ الْأَثِيمِ
Sesungguhnya pohon zaqqum
itu, makanan orang yang banyak berdosa.
5. Para ulama menjelaskan ketika ada orang
yang mengeluh tentang sulitnya pengucapan atau pengertian makna kata yang
digunakan oleh ayat tertentu, maka Allah menurunkan wahyu lagi yang berbeda
kata-katanya agar mudah dibaca dan dipahami.
6. Contohnya, Al-Quran surat Ad-Dukhan (surah
ke-44) ayat 43-44 yang berbunyi, “Inna syajarataz zaqqum tha'amul atsim”,
pernah diturunkan dengan mengganti kata “atsim” dengan “fajir”, kemudian turun
lagi dengan kata “laim”.
7. Setelah bahasa suku Quraisy populer di
seluruh masyarakat, maka atas inisiatif Khalifah Utsman bin Affan bacaan
dikembalikan seperti tercantum dalam mushaf yang dibaca sekarang ini.
8. Para ulama menjelaskan bahwa pengertian
“tujuh bahasa” dapat diartikan “tujuh dialek”, ayat Al-Quran diturunkan dengan
dialek suku Quraisy, tetapi dialek suku Quraisy belum populer untuk seluruh
anggota masyarakat, ketika Al-Quran turun.
9. Pengertian lain dari “tujuh bahasa”
adalah Al-Quran menggunakan kosa kata dalam “banyak bahasa”, seperti bahasa
Romawi, bahasa Persia, dan bahasa Ibrani, misalnya kata: “zamharir”, “sijjil”,
“qirthas”, “kafur”, dan lainnya.
10. Nabi Muhammad sering kali menggunakan
bahasa menyesuaikan dengan dialek mitra bicaranya untuk menghargai perbedaan
gaya bahasa dan dialek yang ada dalam masyarakat.
11. Hal itu menunjukkan betapa Al-Quran dan
Nabi Muhammad sangat menghargai keragaman bahasa dan dialek, karena Allah
menjadikan keragaman adalah bukti bahwa Allah Maha Esa lagi Maha Kuasa.
12. Para ulama menjelaskan bahwa bahasa
adalah jembatan penyalur perasaan dan pikiran dari seseorang, karena kesatuan
bahasa dapat mendukung kesatuan pikiran, dan masyarakat yang dapat memelihara
bahasanya bisa menjaga identitasnya, serta bukti keberadaannya.
13. Oleh karena itu, para penjajah sering
berusaha menghapus bahasa anak negeri yang dijajahnya untuk digantikan dengan
bahasa penjajah.
14. Al-Quran menuntut setiap pembicara agar
hanya mengucapkan hal yang diyakini, dirasakan, dan yang sesuai dengan
kenyataan, sehingga Al-Quran sering menggunakan kata “qala” atau “yaqulu” yang
artinya “dia berkata”, dalam arti dia meyakini yang dikatakannya.
15. Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2)
ayat 116.
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ بَلْ لَهُ مَا
فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ
Mereka (orang-orang kafir) berkata,”Allah mempunyai anak”. Maha Suci
Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua
tunduk kepada-Nya.
16. Al-Quran surah Al-Furqan (surah ke-25)
ayat 65.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ
إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahanam dari
kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.
17. Para ulama menjelaskan bahwa salah satu
sifat hamba Allah yang baik adalah mereka yang berkata, “Ya Allah, jauhkan kami
dari siksa api neraka jahanam, sesungguhnya azab Allah adalah kebinasaan yang
kekal.”
18. Perkataan semacam ini bukan hanya sekadar
dengan ucapan lidah atau doa permohonan saja, tetapi juga untuk peringatan
sikap, keyakinan dan perasaan mereka, karena bahasa pada hakikatnya berfungsi
untuk menyatakan perasaan, pikiran, keyakinan, dan sikap pengucapnya.
19. Dalam konteks paham kebangsaan, maka
bahasa pikiran, dan perasaan, jauh lebih penting daripada bahasa lisan, tetapi
bukan berarti mengabaikan bahasa lisan, karena bahasa lisan adalah jembatan
perasaan.
20. Al-Quran surah Al-Hasyr (surah ke-59)
ayat 14.
لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ
مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا
وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Mereka tidak akan memerangimu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam
kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama
mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka
berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang
tidak mengerti.
21. Kesimpulannya, Al-Quran mengakui bahasa
dapat dijadikan sebagai alat perekat dan unsur kesatuan umat, dan bahasa dengan
keragamannya adalah salah satu bukti bahwa Allah Maha Esa dan Allah Maha Besar.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah
dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan
Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan
Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital
Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.




0 comments:
Post a Comment