SEJARAH DAN CINTA TANAH AIR
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sejarah dan cinta
tanah air menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
1. Kata “sejarah” (menurut KBBI V) dapat
diartikan “asal usul (keturunan) silsilah”, “kejadian dan peristiwa yang
benar-benar terjadi pada masa lampau”, “riwayat”, “tambo”, “pengetahuan atau
uraian perisiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi dalam masa lampau”, dan
“ilmu sejarah”.
2. Para ulama berpendapat bahwa persamaan
sejarah muncul sebagai unsur kebangsaan karena unsur ini adalah salah satu yang
terpenting untuk menyatukan perasaan, pikiran, dan langkah-langkah masyarakat.
3. Sejarah menjadi penting, karena umat,
bangsa, dan kelompok dapat melihat dampak positif dan negatif pengalaman masa
lalu, kemudian mengambil pelajaran dari sejarah, untuk melangkah ke masa depan.
4. Sejarah yang gemilang dari suatu kelompok
akan dibanggakan anggota kelompok serta keturunannya, dan sebaliknya.
5. Al-Quran sangat menonjol dalam
menguraikan peristiwa sejarah, bahkan tujuan utama dari uraian sejarahnya
adalah untuk mengambil “iktibar” (pelajaran) guna menentukan langkah
berikutnya.
6. Dapat dikatakan bahwa unsur kesejarahan
sejalan dengan ajaran Al-Quran, sehingga kalau unsur ini dijadikan salah satu
faktor lahirnya paham kebangsaan, hal ini inklusif berada di dalam ajaran
Al-Quran, selama uraian kesejarahan itu diarahkan untuk mencapai kebaikan dan
kemaslahatan
7. Rasa kebangsaan dapat dibuktikan dengan
adanya patriotisme dan cinta tanah air, karena cinta tanah air tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip agama, bahkan inklusif dalam ajaran
Al-Quran dan praktik Nabi Muhammad.
8. Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui
ungkapan terkenal yang dinilai oleh sebagian orang sebagai hadis Nabi, “Hubbul
wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman), tetapi justru
dibuktikan dalam praktik Nabi Muhammad dalam kehidupan pribadi dan
bermasyarakat.
9. Para ulama berpendapat ketika Nabi Muhammad
berhijrah dari Mekah ke Madinah, beliau salat menghadap ke Baitul Maqdis,
Palestina, tetapi setelah 16 bulan, rupanya beliau rindu kepada Mekah dan
Kakbah, karena Kakbah adalah kiblat leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab.
10. Kemudian wajah Nabi Muhammad berbolak-balik
menengadah ke langit, memohon kepada Allah agar kiblat diarahkan ke Mekah, dan
Allah merestui keinginan ini.
11. Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2)
ayat 144.
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ
قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ
مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ
بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh
Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkan mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkan mukamu ke arahnya. Dan
sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Kitab (Taurat dan
Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram adalah benar dari
Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
12. Cinta Nabi Muhammad kepada tanah air
tampak pula ketika meninggalkan kota Mekah dan berhijrah ke Madinah, sambil
menengok ke kota Mekah Nabi bersabda,”Demi Allah, sesungguhnya engkau (Mekah)
adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya bukan orang yang bertempat
tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkannya”.
13. Para sahabat Nabi juga demikian, sehingga
Nabi Muhammad berdoa,”Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami,
sebagaimana Engkau mencintakan kota Mekah kepada kami, bahkan lebih”.
14. Cinta kepada tanah air adalah naluri
setiap manusia, sehingga Nabi MUHammad menilai salah satu tolok ukur
kebahagiaan adalah, “Rezeki yang diperoleh dari tanah air”. Kemudian muncul
ungkapan, “Hujan emas di negeri orang, dan hujan batu di negeri sendiri, tetapi
lebih senang di negeri sendiri.”
15. Nabi Muhammad bersabda,”Orang yang gugur
karena membela keluarga, mempertahankan harta, dan negeri sendiri, bernilai
sebagai mati syahid seperti orang yang gugur membela agama”.
16. Al-Quran surah Al-Mumtahanah (surah ke-60)
ayat 8-9 menggandengkan membela agama dengan membela negara.
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي
الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا
إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي
الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ
تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu
dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
Sesungguhnya Allah hanya melarangmu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangimu karena agama dan mengusirmu dari negerimu dan membantu (orang lain)
untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka
itulah orang-orang yang zalim.
17. Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2)
ayat 148.
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ
أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang dia menghadap
kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja
kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
8. Kesimpulannya, bahwa paham kebangsaan dan
cinta tanah air tidak bertentangan dengan ajaran Islam, artinya paham
kebangsaan daan cinta tanah air tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadis
Nabi.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah
dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan
Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan
Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital
Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.









0 comments:
Post a Comment