TALIBAN PERANGI AMERIKA BUKAN AFGANISTAN
Oleh:Drs. H. M. Yusron
Hadi, M.M.
Wakil Dubes Afghanistan: Taliban Cuma Perangi Pasukan AS.
Selama
20 tahun terakhir.
Fokus
serangan kelompok Taliban adalah pasukan Amerika Serikat.
Dan
tentara pemerintah Afganistan.
Mereka
tidak menyerang langsung warga sipil.
Seperti
yang dilakukan kelompok ISIS Khorasan.
Dengan
mengebom bandara di Kabul.
Dan
menewaskan ratusan warga sipil.
Taliban menilai AS sebagai penjajah.
Karena telah menggulingkan mereka dari tampuk kekuasaan.
Yang telah dijalani pada 1996-2001.
Tentara dan pemerintah Afganistan dianggap sebagai 'Boneka AS'.
"Tak
ada laporan resmi.
Soal
kemungkinan terjadi aksi-aksi kekerasan terhadap warga sipil oleh kelompok
Taliban.
Tapi
memang sempat terjadi chaos dan beberapa insiden lainnya.
Termasuk
penangkapan dan pembunuhan beberapa pejabat dan mantan pejabat.
Tapi
itu sifatnya lebih motif personal ketimbang tindakan sistematis resmi dari
Taliban," papar Wakil Dubes Republik Islam Afghanistan Qais Barakzai
kepada Tim Blak-blakan detikcom, Selasa (31/8/2021).
Dia
juga menegaskan sejauh yang diketahuinya.
Taliban
tidak pernah menyerang para penyanyi/musisi dan masyarakat sipil.
Yang
terkait langsung dengan aparat pemerintahan di Afganistan.
Kabar
bahwa penyanyi Fawad Andarabi telah dibunuh oleh kelompok Taliban.
Belum
mendapat konfirmasi resmi dari Kabul.
Apakah
benar dilakukan Taliban atau bukan.
Qais
Barakzai pribadi berharap kabar itu tidak benar.
Jika
hal itu sangat merusak kredibilitas Taliban di mata dunia.
"Saya
berharap Taliban mematuhi janjinya.
Untuk
memberi amnesti kepada artis atau pelaku seni.
Dan
semoga ini bukan tindakan terhadap kebebasan seni dan ekspresi," kata Qais
Barakzai.
Sejak menguasai Kabul pada 15 Agustus lalu.
Taliban
telah menyatakan akan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.
Dan
menghargai hak kaum wanita di Afganistan.
Sikap
ini juga bagian kesepakatan
di Doha, Qatar, alias 'Doha Agreement'.
Qais
Barakzai berharap Taliban memenuhi janjinya.
Jika
ada para pejabat dan mantan pejabat ditangkap.
Sebaiknya
dibebaskan.
Sebagai
wujud amnesti dan rekonsiliasi.
Diplomat
lulusan Mysore University, Karnataka, India, berharap.
Terjadinya
perang saudara antara Kelompok Taliban dan pasukan pemerintah.
Dan
mereka yang anti-Taliban di bawah komando Ahmad Masoud dapat dihindari.
Sebab,
rakyat Afganistan telah lelah berperang 40 tahun lebih.
"Saat
ini mereka masih bernegosiasi.
Untuk
mencegah terjadinya perang saudara," ujar Qais Barakzai.
Pada
bagian lain.
Dia
menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat
Indonesia.
Atas
peran aktif mewujudkan upaya damai antara Taliban dan pemerintah Afganistan sejak
2017.
Sebagai
negara demokrasi dengan penduduk muslim mayoritas.
Indonesia
patut menjadi rujukan bagi Afganistan dalam menatap masa depan.
(Sumber detiknews)
0 comments:
Post a Comment