KEADILAN
NABI MUSA
Oleh:
Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.

Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan
tentang Nabi Musa ingin melihat keadilan Allah?” Ahmad Bahjat menjelaskannya.
1. Adil (menurut KBBI V) dapat diartikan “sama
berat”, “tidak berat sebelah”, “tidak memihak”, “berpihak kepada yang benar”, “berpegang
kepada kebenaran”, “sepatutnya”, dan “tidak sewenang-wenang”.
2. Al-Quran
surah At-Tin (surah ke-95) ayat 1-5.
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ
وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang
aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kemudian
Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Bagi mereka pahala yang
tidak terputus.
3. Alkisah,
Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit Thursina selama 40 hari untuk menerima wahyu
dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
4. Gunung
Sinai (jabal Musa) adalah sebuah gunung
yang terletak di semenanjung Sinai di Mesir, tingginya 2.285 meter, berada di
barisan pegunungan di sebelah selatan semenanjung tersebut.
5. Terdapat
beberapa cendekiawan yang menganggapnya sama dengan gunung Sinai yang
disebut-sebut dalam kitab Ibrani dan Perjanjian Lama terutama dalam kumpulan
kitab Taurat, tetapi hal ini belum dapat dipastikan.
6. Bukit
adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih
rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang sangat besar dan
tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
7. Pada
hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat
lancang. Hamba ingin menyaksikan dan membuktikan sendiri bahwa Engkau Maha
Adil.”
8. Malaikat
Jibril turun menjumpai Nabi Musa,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu. Apakah kamu
masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?”
9. Musa
Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba. Hamba sebenarnya telah yakin bahwa Allah
Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap, apabila menyaksikannya
sendiri.”
10. Malaikat
Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu. Jika kamu ingin
menyaksikan keadilan Allah, pergilah mendekat ke sumber air.”
11. Kemudian
Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan bersembunyi, karena ingin menyaksikan
sesuatu yang akan terjadi.
12. Tidak
berapa lama kemudian, muncul seorang ksatria penunggang kuda dengan sebilah pedang dalam sarung yang diselipkan di
punggungnya, dengan membawa sekantung uang yang menggantung di pinggang
kirinya.
13. Penunggang
kuda turun mendekati sumber air, membasuh mukanya, dan menikmati air sepuasnya.
14. Beberapa
saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal,
tergeletak di bebatuan dekat sumber air.
15. Penunggang
kuda telah berlalu, muncul anak kecil berumur sekitar 9 tahun, menuju sumber
air, mengisi kantung airnya, anak kecil menemukan sekantung uang, dan membawanya
pergi.
16. Setelah
anak kecil menjauh, datang seorang tua buta yang mendengar gemericik sumber air,
lalu mendatanginya.
17. Si
orang tua buta membasuh mukanya dengan dan bersuci, lalu ia melaksanakan salat.
18. Beberapa
saat kemudian, si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat turun menuju sumber air. Dia mencari uangnya yang hilang,
tetapi tidak menemukannya.
19. Penunggang
kuda berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang
tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya orang buta, sehingga
saya tidak mengetahui jika ada uang yang
tertinggal.”
20. Penunggang
kuda dan orang tua buta bertengkar, akhirnya orang tua buta mati terbunuh, penunggang
kuda beranjak pergi meninggalkan jenazah si orang tua buta, Nabi Musa
menyaksikan semuanya dengan jelas dari tempat persembunyiannya.
21. Nabi
Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, yang salah adalah anak
kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, anak kecil itu tidak
mengambil uang itu, maka orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
22. Malaikat
Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak dapat menilai keadilan Allah, karena kamu
hanya menyaksikan peristiwa sesaat saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu
episode saja, kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian yang terjadi.”
23. Malaikat
Jibril melanjutkan, “Orang tua anak kecil tersebut pernah ikut bekerja kepada
si penunggang kuda, tetapi dia belum menerima gajinya, karena penunggang kuda
belum membayar gajinya, selama ia bekerja.”
24. Malaikat
Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua dari anak
kecil itu besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu.
25. “Artinya
jumlah gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung
penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa
uang dalam kantung sejumlah itu.”
26. “Orang
tua si anak sudah meninggal, karena dibunuh seseorang, dan pembunuhnya adalah
orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
27. Nabi
Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina,
daif, dan bodoh ini, yang gampang dengan cepat menilai sesuatu kejadian hanya
berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sekilas saja.”
Daftar
Pustaka
1. Bahjat,
Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir,
Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3.
Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an
Ver 3.2
4. Tafsirq.com
online.
0 comments:
Post a Comment