MENILAI DIRI SENDIRI DAN MENILAI ORANG
LAIN
Oleh: Drs. H. M. Yusron
Hadi, MM
Perbedaan
1)
Menilai diri senidir.
2)
Menilai orang lain.
Dalam Al-Qur’an.
1)
Menilai diri sendiri
2)
Menilai orang lain
Hal berbeda.
1)
Kita boleh menilai perbuatan.
2)
Tapi tidak boleh sembarangan.
a.
Menghakimi hati
b.
Posisi orang di depan Allah.
Penjelasan.
A.
Menilai diri sendiri
Logikanya:
1)
Saya paling tahu tindakan saya.
2)
Tanggung jawab atas tindakan saya.
Al-Qur’an ajarkan:
QS. Al-Isra’ (17:14)
اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ
الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
"Bacalah
kitabmu, cukup dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab padamu".
Catatan.
1)
“Bacalah kitabmu, cukup dirimu sendiri
pada hari ini sebagai penghitung padamu.”
Artinya.
a.
Manusia diperintah muhasabah:
b.
Periksa diri sendiri.
Contoh:
1)
Saya marah → saya bertanya, “Apakah
marah saya berlebihan?”
2)
Saya berkata kasar → “Apakah perkataan
saya menyakiti orang?”
3)
Saya mendapat rezeki → “Apakah saya
sudah bersyukur?”
4)
Saya melakukan dosa → “Apa yang harus
saya perbaiki?”
5)
Saya rajin ibadah → “Apakah saya
ikhlas atau ingin dipuji?”
6)
Saya beda pendapat → “Apakah saya
sudah pahami pendapat orang lain?”
1)
Pertanyaan utama
“Apa yang harus saya perbaiki?”
2)
Bukan:
“Mengapa orang lain lebih buruk daripada saya?”
B.
Menilai orang lain
1)
Kita harus lebih hati-hati.
2)
Al-Qur’an melarang mencari kesalahan
orang:
a.
“Jangan kamu mencari-cari kesalahan
orang lain.”
b.
QS. Al-Hujurat 49:12
3)
Jangan beri julukan buruk:
a.
“Jangan suatu kaum mengolok-olok kaum
lain...”
b.
QS. Al-Hujurat 49:11
4)
Jangan ikuti tanpa pengetahuan:
a.
“Jangan ikuti apa yang kamu tak punya
pengetahuan tentangnya.”
b.
QS. Al-Isra’ 17:36
Logikanya
1)
Kita melihat perilaku seseorang.
2)
Tapi tak melihat isi hatinya.
Misalnya
Orang tidak ke masjid.
1)
Yang kita tahu:
“Dia tidak datang ke masjid.”
2)
Yang tidak tahu:
“Dia malas beribadah.”
a.
Mungkin dia sakit.
b.
Jaga orang tua.
c.
Bekerja.
d.
Punya alasan lain.
C.
Bedakan “menilai perbuatan” dengan
“menghakimi orang”
1)
Ini sangat penting.
2)
Menilai perbuatan:
“Mencuri itu salah.”
3)
Ini menilai tindakan.
4)
Menghakimi pribadi:
“Dia manusia jahat dan pasti tidak masuk surga.”
5)
Ini bukan fakta yang kita ketahui.
6)
Contoh lain:
“Berbohong itu dosa.”
7)
Berbeda dengan:
“Orang itu pasti orang jahat.”
8)
Perbuatan
Dinilai berdasar aturan jelas.
9)
Tapi nilai akhir orang di depan Allah.
Bukan wilayah manusia memastikan.
Contoh 1: Tetangga tidak menyapa
1)
Jangan langsung:
“Dia sombong.”
2)
Lebih baik:
“Dia tadi tidak menyapa saya.
Saya tidak tahu alasannya.”
3)
Logika:
a.
Hanya 1 kejadian
b.
Tak cukup tahu karakter orang.
Contoh 2: Orang miskin
1)
Jangan:
“Dia miskin karena malas.”
2)
Lebih tepat:
“Kondisi ekonominya sulit.
Saya belum tahu seluruh penyebabnya.”
3)
Kemiskinan
a.
Dipengaruhi Pendidikan.
b.
Kesempatan kerja.
c.
Kesehatan.
d.
Lingkungan.
e.
Keadaan keluarga.
f. Ekonomi.
g.
Banyak faktor lain.
Contoh 3: Orang kaya
1)
Jangan:
“Dia kaya berarti tamak.”
2)
Kekayaan tak otomatis serakah.
3)
Yang dapat dinilai adalah:
a.
Apakah hartanya diperoleh dengan cara
halal?
b.
Apakah dia menunaikan kewajibannya?
c.
Apakah dia pakai hartanya dengan
benar?
Contoh 4: Orang rajin ke masjid
1)
Jangan langsung:
“Dia pasti orang saleh.”
2)
Rajin ke masjid
a.
Perbuatan baik.
b.
Tapi ikhlas hati
c.
Hanya Allah yang tahu.
Contoh 5: Orang berbuat dosa
1)
Kita boleh mengatakan:
“Perbuatan itu dilarang.”
2)
Tapi jangan mudah katakan:
“Dia tidak akan diampuni Allah.”
3)
Allah berfirman:
“Jangan putus asa dari rahmat Allah.”
QS. Az-Zumar 39:53
4)
Artinya, pintu taubat tetap terbuka.
Contoh 6: Beda pendapat agama
Misalnya 2 orang beda pendapat fikih.
1)
Yang sehat:
“Menurut dalil yang saya pahami, pendapat ini lebih kuat.”
2)
Yang berbahaya:
“Kalau pendapatmu berbeda, berarti kamu bodoh.”
3)
Beda pendapat tak otomatis bodohan.
Contoh 7: Orang pernah salah
1)
Kesalahan masa lalu
Tak selalu gambaran sekarang.
2)
Misalnya:
a.
Tahun lalu dia sering marah.
b.
Sekarang dia sudah berubah.
3)
Maka tidak tepat dikatakan:
“Dia memang orang pemarah.”
4)
Manusia bisa bertaubat, belajar, dan
berubah.
D.
Mengapa manusia mudah menilai orang
lain?
Sebabnya secara logika
1.
Kita melihat kesalahan orang lain dari
luar, tapi kesalahan sendiri dari dalam.
1)
Kesalahan orang lain terlihat jelas.
2)
Salah sendiri punya alasan:
a.
“Saya capek.”
b.
“Saya
tertekan.”
c.
“Saya tak sengaja.”
3)
Akibatnya
a.
Mudah memaafkan diri
b.
Keras pada orang lain.
2.
Kita tahu niat sendiri tapi tidak tahu
niat orang lain.
1)
Misalnya saya beri uang pada orang.
2)
Saya tahu:
“Saya niat membantu.”
3)
Tapi orang lain beri uang:
“Jangan-jangan dia ingin pamer.”
4)
Padahal kita tidak tahu niatnya.
3.
Info sering tidak lengkap.
1)
Video 20 detik
2)
Tak gambarkan hidupa orang
3)
Selama bertahun-tahun.
4)
Dalam 1 kesalahan
5)
Tak seluruh gambaran pribadi orang.
E.
Qur'an ajarkan prinsip keadilan
1)
“Berlaku adillah, karena adil dekat
takwa.”
2)
QS. Al-Ma'idah 5:8
3)
Saat menilai orang lain.
Ukurannya BUKAN.
“Saya suka orang ini atau tidak?”
4)
Tapi:
“Apakah penilaian berdasar fakta dan
adil?”
5)
Ini sangat penting.
6)
Kita suka orang.
a.
Jangan salahnya
b.
Dianggap benar.
7)
Kita benci orang.
a.
Jangan kebaikannya
b.
Kita abaikan.
Rumus
1)
Menilai diri sendiri:
Periksa → akui kesalahan → perbaiki →
bertaubat.
2)
Menilai perbuatan orang lain:
Cari fakta → pahami konteks → adil → jangan berlebihan.
3)
Menilai hati orang:
Sangat hati-hati, karena hati tidak terlihat dan Allah paling mengetahui.
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa
yang ada dalam hati.”
QS. Al-Mulk 67:13
Kesimpulan
Logika
1)
Diri sendiri → banyak introspeksi.
2)
Orang lain → banyak hati-hati.
3)
Perbuatan → boleh dinilai berdasar
fakta dan aturan.
4)
Niat/hati → jangan merasa tahu
semuanya.
5)
Nasib akhir orang di depan Allah →
jangan merasa jadi hakim Allah.
Sikap Qur’ani
1)
Bukan “jangan pernah menilai”.
2)
Tapi “menilai dengan ilmu, bukti,
keadilan, dan tak melampaui batas.”
Sumber
1)
Tafsir Quran Perkata DR
M Hatta.
2)
Tafsirq.com
3)
ChatGPT.


