KH HASYIM ASY’ARI 1943:
PERANG JIHAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
PRAJOERIT PEMBELA
TANAH AIR
Tulisan Mbah KH HASJIM
ASJ’ARI, 30 November 1943.
Majalah Islam Soeara Moeslimin Indonesia edisi 2 Dzulhijjah 1362
atau 30 November 1943 halaman 4 memuat tulisan pendiri Nahdlatul Ulama (NU)
Hadlratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari.
Tulisan itu berjudul Pradjoerit Pembela Tanah Air mengisi 1
halaman penuh 3 kolom tanpa gambar.
Majalah itu diterbitkan oleh MASYUMI.
Masyumi adalah Majelis
Syura Muslimin Indonesia.
Setiap tanggal 1 dan 15 saban bulannya atas izin kantor
Goen-Kenetsu-Han dan dipimpin oleh KH. M. Mansoer.
Menurut peneliti Muhammad As’ad, tulisan itu berisi dukungan
Kiai Hasyim kepada masyarakat yang aktif menjadi tentara PETA (Pembela Tanah
Air).
Namun setelah membaca secara lebih mendalam, tulisan itu lebih
dari sekadar dukungan terhadap perjuangan PETA.
Menurut dia, ini adalah seruan jihad untuk menggerakkan semangat
juang tentara PETA dan juga umat Islam Indonesia secara umum yang ikut
berperang pada zaman itu.
Berikut tulisan lengkapnya sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia (PUEBI):
Prajurit Pembela Tanah
Air
Oleh: KH. M. Hasyim
Asy’ari
Dengan nama Allah Penyayang dan Pengasih.
Sekalian puji bagi Allah yang Luhur dalam kemuliaan-Nya.
Yang berkuasa sendiri akan membalik-balikkan hati hamba-Nya.
Yang memberi percobaan dengan sesuatu hal dan lawan hal itu.
Rahmat dan salam bagi Utusan-Nya, Junjungan kita Muhammad dan
keluarganya dan tentaranya.
Kemudian, maka inilah keterangan ringkas dari Al-quran dan Hadis
bagi para Muslimin yang jadi prajurit pembela tanah air kita (Barisan Sukarela)
umumnya.
Dan bagi orang yang berperang untuk menolak musuh, yang ingin
merebut tanah air kita (Inggris, Amerika, dan golongannya) pada khususnya.
Yaitu agar mereka menjalankan pekerjaan tadi dengan mendapat
kenyataan rentang hukum perbuatannya.
Dan agar mereka memperoleh pahala (ganjaran) dan barang rampasan
(jarahan).
Dan lagi jika mati dalam perang agar matinya jadi syahid.
Ke-1:
Supaya kaum muslimin tersebut di atas berniat I’zazi dinil Islam
(mengejar ketinggian agama Islam), yaitu menurut firman Allah:
“Dan perangi mereka itu hingga tidak ada fitnah (kemusyrikan)
lagi, dan sehingga agama hanya untuk Allah semata. (Surat Albaqarah: 192)”
Ke-2:
Supaya berniat mempertinggi kalimat Allah, yakni kalimat Lailaha
illallah Muhammadur Rasulullah.
Yaitu agar pekerjaan itu termasuk dalam arti fi sabilillah
menurut keterangan dalam hadis:
“Bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad, lalu berkata:
Setelah orang berperang untuk mendapat barang rampasan, setengahnya berperang
untuk mendapat kedudukan yang dilihat orang, maka siapakah orang yang berperang
fi sabilillah (dalam jalan Allah)?”
Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa berperang agar kalimat
Allah menjadi mulia (luhur) itu yang berperang di jalan Allah.”
(Bukhari II/94).
Ada pun sebabnya, maka diminta berniat yang demikian itu ialah
menurut sabda Nabi Muhammad:
“Bahwa sekalian amal (perbuatan) itu adalah bergantung pada
niatnya. Dan tiap-tiap orang itu akan memperoleh hasil sebagai yang diniati.”
(Bukhari I/6).
Dan kaum muslimin yang punya biat seperti disebutkan tadi,
tidaklah berhalangan akan bekerja bersama dengan golongan lain muslimin, yaitu
untuk menolak musuh.
Hal itu sebagai keterangan dalam hadis Bukhari:
“Fasal dalam menceritakan jihad adalah langsung bersama dengan
orang bagus-bagus (beragama Islam) dan lainnya.
Yaitu menutut sabda Nabi Muhammad: “Kuda (untuk berperang)
adalah bergantung padanya perkata baik hingga hari kiamat (perkara baik
artinya: pahala dan barang-barang rampasan).”
Bukhari II/98.
Dan menurut sabda Nabi Muhammad:
“Jika Allah menurunkan siksa pada suatu golongan, siksa itu
mengenai sekalian orang di dalam lingkungan golongan itu: kemudian kelak mereka
akan dibangunkan (di akhirat) menurut pekerjaannya masing-masing.”
Bukhari IV/162.
Dan jika kaum muslimin yang berperang itu meninggal dalam
peperangan, setelah mempunyai niat tersebut di atas, maka akan mendapat derajat
syahid dunia dan akhirat.
Yaitu menurut keterangan hadis:
“Orang syahid adalah lima orang:
1. meninggal dunia karena
penyakit thaun.
2. meninggal karena sakit
perut.
3. Meninggal karena
tenggelam.
4. Meninggal karena
kerobohan.
5. Meninggal syahid dalam
jalan Allah.”
(Bukhari II/96).
Dan lagi menurut hadis Sahabat Abdullah bin Amrin, katanya,
“Saya mendengar Nabi bersabda: Barang siapa meninggal karena mempertahankan
harta bendanya maka ia itu mati syahid.”
(Bukhari, II/49).
(Sumber: internet Fathurrochman
Karyadi)
0 comments:
Post a Comment