ACARA MAULID NABI DAN YANG
MENOLAK SEMUA CINTA NABI
Oleh: Drs. H. Yusron
Hadi, M.M.
Pada bulan Rabiul Awal
penanggalan Islam Hijriah.
Umat Islam akan
mengingat satu momen.
Yaitu lahirnya
Rasulullah SAW.
Pembawa risalah umat.
Kecintaan umat lslam
menyambut hari kelahiran Nabi.
Disikapi dengan
berbagai macam.
Salah satunya dengan
menggelar acara Maulid Nabi SAW.
Tapi peringatan
kelahiran Nabi menimbulkan perbedaan pendapat.
1. Ada ulama
membolehkan.
2. Tapi ada yang
menyebut bid'ah.
Mengadakan acara Maulid
Nabi.
Tiap tahun.
Karena cinta kepada Nabi.
Menolak Maulid Nabi tiap
tahun.
Tak ada contoh dari Nabi.
Karena cinta kepada Nabi.
Sama-sama cinta kepada
Nabi.
Jangan bertengkar.
ULAMA MEMBOLEHKAN
MAULID NABI
Ulama Mesir tergabung
dalam Dewan Fatwa Darul Al Ifta Mesir.
Menurut lembaga fatwa
tertinggi di Mesir ini.
Merayakan maulid Nabi
adalah amalan paling baik.
Dan ibadah yang agung.
Perayaan maulid
ungkapan rasa gembira.
Dan cinta kepada
Rasulullah SAW.
Cinta kepada Nabi
adalah fondasi keimanan.
Rasulullah bersabda,
“Tidak beriman
seseorang di antara kalian.
Sehingga menjadikan
diriku lebih dicintai.
Daripada ayahnya,
anaknya, dan seluruh manusia.”
Memperingati maulid
adalah bentuk penghormatan terhadap Nabi SAW.
Dan menghormati
Rasulullah adalah amalan mutlak dianjurkan.
Allah SWT melebihkan
derajat Nabi Muhammad SAW kepada seluruh alam.
Lembaga yang pernah
dipimpin Syekh Ali Jum'ah Muhammad menambahkan.
Para salafus saleh
sejak abad ke-4 dan ke-5 Hijriah.
Memberi contoh
merayakan maulid.
Mereka menghidupkan
malam maulid dengan berbagai ibadah.
Seperti memberi jamuan
makan, melantunkan ayat Al-Quran.
Dan membaca zikir.
Para ulama seperti
Jalaluddin as-Suyuti, Ibnu Dihyah al-Andalusi.
Dan Ibnu Hajar banyak
meriwayatkan amalan ini.
Ibnu al-Hajj dalam
kitabnya al-madkhal.
Secara panjang lebar
menyebutkan keutamaan perayaan maulid Nabi.
Kitabnya itu
menganjurkan maulid.
Padahal kitab itu
ditulis.
Tujuannya menyebutkan
perbuatan bid'ah.
Imam Suyuthi juga
menulis sebuah risalah.
Dengan judul Husnul
Maqshid fi Amalil Maulid.
Dar Ifta Mesir
menegaskan banyak orang ragu merayakan maulid.
Karena tidak ada
contoh perayaan maulid pada awal Islam.
Argumen itu bukan
alasan tepat untuk melarang perayaan maulid.
Menurut Lembaga Fatwa
Mesir.
Tidak ada seorang pun.
Yang meragukan
cintanya generasi awal kepada Nabi SAW.
Tapi bentuk cinta
punya beberapa cara.
Dan ungkapan berbeda.
Sebuah cara tidak bisa
disebut ibadah.
Jika dilihat dari inti
pelaksanaannya.
Karena hanya wasilah (sarana)
yang boleh untuk digunakan.
Ketua Lembaga Bahtsul
Masail Nahdlatul Ulama, KH Zulfa Mustafa.
Menyebut perayaan
maulid Nabi sah-sah saja.
Selama isinya bukan
hal yang dilarang agama.
Maulid Nabi isinya
pembacaan selawat.
Ceramah sejarah hidup
Nabi.
Justru sarana efektif
mengajarkan orang agar cinta Rasul.
Tapi jika peringatan
maulid digelar dengan bercampur pria dan wanita.
Sebaiknya hal tersebut
dihindari.
“Jadi bukan melarang
maulidnya.
Tapi menghindari
hal-hal yang keliru di dalamnya,” ungkap Sekretaris MUI DKI Jakarta.
Majelis Tarjih dan
Tajdid Muhammadiyah dalam kumpulan fatwanya.
Berpendapat tidak
mengapa memperingati maulid Nabi.
Dengan berkumpul.
Membaca sejarah.
Dan pujian yang benar.
Dibarengi sedekah.
Tapi jika dicampur
dengan pemukulan alat music.
Sehingga gaduh.
Dan nyanyian wanita
dan pria dengan suara melengking.
Sebaiknya dihindari.
Umat perlu meneliti
dengan baik.
Beberapa kitab.
Yang berisi pujian
berlebihan terhadap Rasulullah SAW.
Pujian berlebihan
justru mengurangi nilai.
Bahkan menghilangkan
penghormatan terhadap Nabi SAW.
ULAMA YANG MENOLAK
MAULID NABI
Pendapat menolak
perayaan mauled.
Datang dari Lajnah
Daimah Kerajaan Arab Saudi.
Ulama di Komite Riset
dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi berpendapat.
Membaca kisah Nabi
untuk mengetahui ibadah, ucapan, perbuatan.
Dan akhlak Nabi SAW
sangat dianjurkan.
Tapi jika khusus kisah
maulid untuk dibaca.
Dan berkumpul untuk
menggelarnya tiap tahun.
Termasuk bid'ah.
Alasannya, hal itu
tidak ditemukan di zaman Nabi SAW.
Dan tidak pula di abad
ke-1 generasi terbaik.
Yang disebut Nabi.
Perayaan dengan
bercampurnya wanita dan pria juga khawatir timbul fitnah.
Lajnah Daimah
menyebut.
Jika maulid
disandarkan kepada Imam Syafii.
Maka hal itu tertolak.
Karena perayaan maulid
muncul abad ke-4 Hijriah.
Pada masa pemerintahan
Fatimiah.
Padahal Imam Syafii
wafat tahun 204 H.
Yaitu masuk abad ke-3.
Syekh Abdul Aziz bin
Abdullah bin Baz menambahkan.
Generasi terbaik
adalah generasi:
1. Khulafaur rasyidin.
2. Sahabat.
3. Tabiin di abad awal
Islam.
Jika mereka disebut
oleh Rasulullah generasi terbaik.
Tapi mereka tidak
melakukan maulid.
Maka seharusnya cukup
meniru generasi awal Islam itu.
Menurut Syekh Abdul
Aziz.
Mengadakan peringatan
seperti itu.
Memberi kesan Allah
belum menyempurnakan agama-Nya.
Untuk umat ini.
Juga memberi kesan.
Rasulullah belum
menyampaikan hal wajib dikerjakan umatnya.
Kemudian datang
orang-orang.
Yang membuat hal baru.
Yang tidak diperkenankan
oleh Allah.
(Sumber Republika)
0 comments:
Post a Comment