APAKAH MUHAMMADIYAH DAN NU ITU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Sejarah NU dan Muhammadiyah.
NAHDLATUL ULAMA (NU)
Nahdlatul Ulama
(NU) dan Muhammadiyah sangat populer di Indonesia.
NU dikenal dengan toleransinya terhadap
tradisi maasyarakat di Indonesia.
Muhammadiyah dikenal dengan
istilah pemurnian Islam dan
gebrakan dalam pendidikan.
Dua organisasi ini adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Karena jumlah anggotanya
sangat besar dan banyak cabangnya.
Organisasi Muhammadiyah dan
NU tersebar di seluruh penjuru negara ini.
SEJARAH NU
Nahdlatul Ulama (NU) lahir
31 Januari 1926 di Surabaya.
NU didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari.
Untuk menampung gagasan keagamaan para ulama
tradisional.
Sebagai reaksi atas gerakan modernisme Islam yang mengusung
gagasan purifikasi .
Pembentukan NU adalah upaya pengorganisasian peran para ulama dan
pesantren yang sudah ada sebelumnya.
Agar wilayah kerja
keulamaan lebih ditingkatkan, dikembangkan dan diluaskan jangkauannya.
NU menilai tidak semua
tradisi buruk, usang, dan tidak punya relevansi kekinian.
Bahkan tradisi bisa
memberi inspirasi munculnya modernisasi Islam.
Para ulama umumnya
punya jemaah.
Yaitu komunitas warga dengan
ikatan hubungan akrab.
Terbentuk dalam pola
hubungan kyai-santri.
Terutama pada
masyarakat lingkungan pondok pesantren.
Pola hubungan itu
punya kesinambungan dengan pola dakwah NU.
NU mengambil wilayah
dakwah kultural.
Hal ini menyebabkan
arah dan perjuangan dakwah NU terkait proses perkembangan budaya dan tradisi masyarakat.
SEJARAH MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November
1912 di Jogyakarta.
Muhammadiyah didirikan untuk memberi dukungan pemurnian
ajaran Islam.
Yang saat itu identik dengan hal-hal mistik.
Awalnya Muhammadiyah
hanya ada di daerah karesidenan.
Seperti Yogyakarta,
Solo, dan Pekalongan.
Muhammadiyah saat ini tersebar
di berbagai daerah Indonesia.
Muhammadiyah bergerak
dalam bidang keagamaan dan pendidikan.
Bertujuan mengajak
masyarakat Indonesia menjalankan ajaran Allah yang sebenarnya.
Muhammadiyah dibangun
dengan struktur tata kelola yang baik.
Mulai dari tingkat
pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, dan ke desa-desa.
Setiap tingkatan juga
dikelola dengan baik.
Muhammadiyah
menerapkan manajemen terstruktur guna menunjang segala aktivitas dakwahnya.
Gerakan Muhammadiyah
berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih
maju dan terdidik.
Menampilkan ajaran
Islam bukan sekadar agama bersifat pribadi dan statis.
Tetapi juga dinamis.
Berkedudukan sebagai
sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya.
Pembentukan Muhammadiyah banyak merefleksikan
kepada perintah Al-Quran.
Al-Quran surah Ali
lmran (surah ke-3) ayat 104.
وَلْتَكُنْ
مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar;
mereka orang-orang yang beruntung.
Ayat ini, menurut tokoh
Muhammadiyah, mengandung isyarat bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah
Islam secara teorganisasi.
Umat yang bergerak dan
mengandung penegasan hidup berorganisasi.
Mukadimah Anggaran
Dasar Muhammadiyah.
Butir ke-6.
“Melancarkan amal usaha
dan perjuangan dengan ketertiban organisasi”.’
Mengandung makna
pentingnya organisasi sebagai alat gerakan.
Dampak positif organisasi
Muhammadiyah ditandai banyak berdirinya rumah sakit, panti asuhan, dan tempat pendidikan
di seluruh Indonesia.
BEDANYA NU DAN MUHAMMADIYAH
NU dan Muhammadiyah punya beberapa perbedaan dalam pengamalan
ibadah bersifat Furuiah (cabang-cabang) dalam Islam.
Karena perbedaan sudut pandang dan metode ijtihad yang
dikembangkan.
Bedanya terasa saat menentukan awal bulan Ramadan, Syawal, Zulhijah,
dan lainnya.
Perbedaan orientasi
keagamaan NU dan Muhammadiyah bisa dilacak berdasar proses pikiran dan pengalaman pendirinya.
Yaitu KH. Ahmad Dahlan
dan KH. Hasyim Asy’ari.
Keduanya representasi
ulama Indonesia abad ke-19 dan 20.
Perbedaan pendidikan dan pengalaman menyebabkan NU dan
Muhammadiyah organisasi berbeda.
Meskipun tidak bersifat prinsipil.
Perbedaan NU dan Muhammadiyah masih dalam koridor toleransi.
Dan tidak sampai menimbulkan konflik.
BEDANYA NU DAN MUHAMMADIYAH menurut Journal of Islamic Studies IAIN
Metro.
PENGARUH GURU.
KH. Ahmad Dahlan dipengaruhi gurunya, yaitu:
1) Syeikh
Muhammad Khatib al-Minangkabawi.
2) Syeikh
Nawawi al-Bantani.
3) Kiai
Mas Abdullah dan Kiai Faqih Kembang.
4) Ibnu Taimiyyah.
5) Ibnu
Qayyim al-Jauziyah.
6) Muhammad
ibn Abdul Wahhab.
7) Jamaludin
al-Afghany.
8) Muhammad
Abduh.
9) Rasyid
Rida.
Kecenderungan orientasi keagamaan para guru kepada pendiri
Muhammadiyah:
1) Reformisme
(Tajdîd) Islam.
2) Puritanisasi
atau Purifikasi (pemurnian) ajaran Islam.
3) Islam
Rasional.
4) Pembaruan
sistem pendidikan Islam.
KH. Hasyim Asy’ari KH. Ahmad Dahlan dipengaruhi gurunya, yaitu:
1)
KH Kholil Bangkalan.
2)
KH Ya’kub.
3)
Syaikh Ahmad Amin
al-Atthar.
4)
Syaikh Sayyid Yamani.
5)
Sayyid Sultan Ibn
Hasyim.
6)
Sayyid Ahmad ibn Hasan
al-Atthar.
7)
Sayyid Alawy Ibn Ahmad
Al-Saqqaf.
8)
Sayyid Abas Maliki.
9)
Sayid al-Zawawy.
10)
Syaikh Shaleh Bafadal.
11)
Syaikh Sultan Hasym
al-Dagastany.
Kecenderungan
orientasi keagamaannya Penganjur Fiqih Mazhab Suni terutama mazhab Syafii.
Yang menekankan
pendidikan tradisional pesantren.
Praktek tasawuf dan tarekat.
Dan Faham Ahli Sunah
Wal Jamaah.
Bedanya NU dan
Muhammadiyah dalam faham keagamaan
NU
1. Membaca
Qunut dalam salat Subuh
2. Membaca
Selawat dan puji-pujian setelah azan.
3. Tarawih
20 Rakaat
4. Niat
salat dengan membaca “ushalli”.
5. Niat
puasa dengan membaca “nawaitu sauma ghadin” dengan jahr.
6. Niat
wudu dengan “nawaitu wudu’a liraf’il hadats”.
7. Tahlilan,
dibaan, barjanzi, dan selamatan (kenduren)
8. Bacaan
zikir setelah salat dengan suara nyaring.
9. Azan
subuh dengan lafaz “Ashalatu khairum minan naum”.
10.
Azan Jumat 2 kali.
11.
Menyebut Nabi dengan
kata “Sayidina Muhammad”
12.
Salat Id di masjid.
13.
Mengikuti mazhab Syafii
dalam fikih.
MUHAMMADIYAH
1. Tidak
membaca qunut Subuh.
2. Tidak
membaca puji-pujian dan selawat setelah azan.
3. Tarawih
8 rakaat.
4. Niat
salat tidak membaca ushalli.
5. Niat
puasa dan wudlu tak jahar.
6. Tidak
tahlilan, dibaan, berjanzi dan selamatan (kenduren).
7. Zikir
setelah salat dengan suara pelan.
8. Azan
Subuh tanpa “Ashalatu khairu minan Naum”.
9. Azan
Jumat 1 kali.
10.
Tidak menggunakan kata
Sayidina.
11.
Salat Id di lapangan
terbuka.
12.
Tidak terikat pada mazhab
dalam fikih.
(Sumber merdeka.com)
0 comments:
Post a Comment